Pendekar Hitam

Pendekar Hitam
# Beban Dua Tetua


Penjarahan dan perampokan sering terjadi diperbatasan Klan Tian dan Klan Wang. Sekte mereka yang berada didaerah pinggiran Klan Wang juga tak luput dari ancaman tersebut. Beberapa sekte kecil sudah bergabung dengan sekte menengah. Ada juga yang meminta bantuan dengan biaya sumber daya yang mereka miliki.


Namun sekte rawa angin tak ada yang mau membantu. Dengan alasan sekte tersebut hanya punya sumberdaya yang bisa mereka tawarkan. Bahkan kekuatan mereka hanya ada dua pendekar bumi dan seratusan pendekar mahir yang terjebak kemacetan untuk kultivasi mereka.


"kenapa dengan sumberdaya kalian" tanya tetua lifan. "beberapa bulan yang lalu sekte bulan merah menjarah tempat kami" jawabnya, lalu bercerita. Lima tetua yang berada ditahap bumi terbunuh beserta ratusan murid mereka.


Kedua orang yang saat ini berkunjung, pada waktu itu sedang bertugas diluar sekte. Dan beberapa murid yang melarikan diri saat ini hanya tersisa seratus murid. Bahkan citra sekte menengah sudah hancur, dan kini sekte rawa angin hanya sebuah sekte kecil.


"maaf, kami menunggu tetua satu untuk memutuskan hal ini" jawab Tetua Tian.


"tak apa kami akan menunggunya" tanya tetua sekte.


"aku hanya tetua dua, dan sekte kami punya sembilan tetua" ucap Tetua Tian.


Saat senja menghilang, para wanita dan anak anak segera menuju dojo dengan membawa hidangan makan malam yang sudah disiapkan. Tak lama mereka asyik dengan santap malamnya.


Saat asyik menikmati makan malam, Chuan datang disambut celotehan anak anak. Para tetua, para tamu dan yang lain hanya tersenyum. Namun dirasakan Chuan ada dua pandangan sinis kearahnya.


"ini untukmu" ucap nenek Hong, sambil menyodorkan sepiring makanan untuknya.


"nenek kelihatan makin muda saja" goda Chuan.


"huhh" gumannya sedang Tetua Lifan terbatuk mendengarnya.


"hehehe" para wanita tertawa kecil sambil memandang nenek Hong.


Suasana santai tetap terjaga saat mereka semua menikmati santap malamnya. Selesai acara makan bersama, Tetua gun dan lima lainnya undur diri untuk memberikan bimbingan pada murid sekte.


Tinggal Chuan, Tetua Tian dan Tetua Lifan yang menemani para tamu. Sedang Teysan dan Teikong serta yang lain asyik diluar dojo.


"ini saudara Chuan, tetua satu disekte kami" ucap tetua Tian lalu menceritakan tujuan kunjungan para tamu. "sebelum memutuskan, mohon untuk menunggu sebentar" ucap Chuan lalu diam. Dengan ilmu menembus dasar samudra, dia memandangi tamunya satu persatu. Sedikit lama Chuan melakukan hal tersebut.


"huuhhh" diapun menghela nafas panjang.


"sebelum memutuskan harap para tamu untuk berdiri" ucap Chuan, dan mereka melakukannya. Chuan menghampiri mereka satu persatu.


"desh, desh" dua totokan mendarat ditubuh dua tamunya. "maaf tetua, ini terpaksa aku lakukan" ucap Chuan.


"bangs**, jangan macam macam kalian" ucap keduanya. "ada apa ini" tanya tetua mereka berdua.


"mohon yang lain duduk dulu" ucap Chuan.


"sudah berapa lama keduanya menjadi murid disekte kalian" tanya Chuan.


"setahun an" ucap tetua.


"berapa murid yang direkrut saat itu" tanya Chuan.


"sekitar sepuluhan murid, mereka semua sedang disekte" jawabnya.


"tolong lepaskan baju keduanya" ucap Chuan. Seorang murid lain melepas baju keduanya. Terlihat tanda lingkaran didada keduanya. Lingkaran dengan garis merah menghiasinya.


"kalian kenal tanda itu" tanya Chuan.


"sekte bulan merah" ucap para tamu terkejut.


"bagaimana sekte kalian aman, kalau banyak penyusup didalamnya" ucap Chuan. Tak ada satupun dari para tamu yang bersuara.


"tetua tian" ucap Chuan.


"deshh, deshh"


"ach, ach" Tetua Tian menghancurkan dentian keduanya. "Teysan, Teikong" panggil Tetua Tian. Dua orang tersebut lalu datang dan segera memanggul dua murid yang tertotok.


"maaf" ucap Tetua Tian lalu menjelaskan. Chuan tidak pernah kompromi pada penghianat. Dan maaf kalau kalian tidak berkenan akan tindakannya. Juga tentang yang kalian temukan, kamilah yang melakukannya.


"terimakasih tetua Chuan, kami malah tidak menyadarinya" ucap tamunya.


"apa yang akan kalian putuskan untuk sekte kalian" tanya Chuan pada murid sekte rawa angin.


"sampai mati sekte rawa angin tetap dihati kami" jawab murid sekte.


"kelangsungan sekte tergantung pada kalian sendiri" ucap Chuan.


"setelah penjarahan yang kami ceritakan, saat ini kami tak mempunyai sumberdaya yang tersisa" ucap tetua sekte rawa angin sedih.


Kedua tetua tersebut ingin agar murid sekte kembali ke keluarganya masing masing. Namun ada lima puluhan murid yang tak punya tempat untuk pulang.


"apa kami boleh bergabung dengan sekte hutan suci" ucap nya mengakhiri beban yang sedang ditanggung kedua tetua tersebut.