
"achh" teriakku saat terlempar beberapa tombak, ternyata besar juga tenaga ular itu.
"hiiaaattttt" dengan rasa penasaran mulailah menyerang sang ular. Semburan energi dan sabetan ekornya memberikan peelawanan yang tangguh.
Jurus demi jurus dari kitab pedang naga dan pengembangannya semua sudah tercurahkan.
"hiaatttt" semakin cepat seranganku setelah mengeluarkan jurus dari kitab samudra.
Energi qi juga mengalir dimataku, membuat semakin jelas pandangan. Terlihat pula mustika ditengah tengah kepala ular berkelip ketika menahan setiap serangan. Ternyata disitu kelemahannya, pantas begitu intens sang ular melindungi bagian kepalanya.
"duarrrr" letupan terdengar saat tongkat bintang langit menusuk mustika ditengah kepala ular. Karena terkejut, membuatku melompat mundur.
Terlihat asap putih tebal membungkus tubuh sang ular. Lama tertegun dan tetap dalam kewaspadaan. Bimbang dalam hati, mau menyerang dengan menembus asap. Keraguan datang karena mata yang teraliri qi tidak dapat menembusnya.
Seakan ada tabir yang menutupi. Lama menunggu apa yang sedang terjadi, muncullah seberkas sinar didalam kabut. Terangnya sinar itu seakan mengusir kabut tebal. Saat kabut mulai menghilang munculah sosok orang berbaju putih.
Tak terlihat bangkai ular yang tadi.
"maaf tuan siapa" tanyaku.
"aku patriak sekte hati suci, namaku liong" jawabnya sambil tersenyum.
"ohhh, lalu mana ular tadi" tanyaku bingung.
"anak muda, ular tadi adalah diriku yang dikutuk dewa" jawabnya,
"haahhh" desahku sambil tetap waspada, walau tak terlihat sedikitpun permusuhan.
Wajah yang mencerminkan kebijaksanaan dan kedalaman ilmu.
Akupun duduk didepannya diakar yang lain.
"seratus tahun lebih aku jalani kutukan ini" ucapnya mulai bercerita. Sekte hati suci, salah satu sekte besar beraliran putih. Banyak prajurit dan bahkan ada pembesar kerajaan yang dulunya murid sekte.
Kebesaran dan kemegahan status membuat semua tetua dan anggota sekte lambat laun menjadi tinggi hati. Kesombongan menjangkit siapa saja yang ada dilingkaran sekte, bahkan aku sebagai patriak tak luput dari penyakit sombong. Itulah yang menjadi awal dari bencana yang aku alami.
"haahhh" patriak lion mendesah menghentikan ceritanya. "aku mempunyai elang mata emas" lanjutnya bercerita. Saat bertapa untuk memperdalam ilmu, aku mendapat titipan dari dewa untuk merawat saat telur menetas.
Selesai meditasi yang panjang berbulan bulan, sebuah telur berada didepanku. Tiap hari energi qi aku salurkan ketelur. Beberapa bulan kemudian telur itu menetas. Seekor elang mata emas muncul dan aku merawatnya menjadi hewan kesayangan.
Pernah ada anggota sekte yang tidak sengaja panahnya mengenai elangku. Maka anggota tersebut langsung aku bunuh. Suatu waktu berita tentang mustika bumi muncul. Dari sebuah peta kuno yang tak lengkap, mengacu tentang sebuah gua dan pegunungan dipesisir selatan.
Semua pendekar bergerak menyisir pantai dan pegunungan dibenua selatan. Aliran hitam, netral dan putih sering terjadi bentrok ketika mereka bertemu.
Keresahan dan kericuhanpun sulit dihindari. Aku juga tergiur dengan berita itu. Ditemani elang mata emas menyisir pantai sampai masuk wilayah benua timur. Saat menemukan sebuah gua dengan aura kuat, sang elang masuk
. "wusss" "desss" "cuiitttt" terdengar suara dan jeritan elangku. Akupun melompat memasuki gua. Melihat sang elang tergeletak, kemarahanku muncul tiada terkendali. Sepasang ular besar yang sedang bercinta aku serang dengan pedang terhunus.
Tak seberapa sulit kedua ular tersebut mati. Sang betina putus sedang yang jantan menancap pedangku dikepalanya. Dua titik cahaya muncul, dan terdengar suara "hai manusia, apa salah kami berdua".
"ohhh" gumanku tersadar dari keterkejutan.
"dewa yang akan membalasmu, karena membunuh kami yang sedang bercinta"
"ingatlah, kamu dan semua saudaramu pasti akan menerima balasan kami" lalu tiada terdengar lagi, bersamaan dengan hilangnya dua titik cahaya.