Pendekar Hitam

Pendekar Hitam
# Demi Keselamatan


Tetua shusin dan tiga muridnya beranjak hendak keluar penginapan. Keempatnya menoleh saat melewati kamar chuan. Pandangan mereka kepada chuan lebih hormat daripada sebelumnya.


Suara suara kecil disetiap kamar penginapan sudah menghilang. Menyisakan kamar nenek dan bibi fei yang tetap asyik berbincang pelan.


Chuan terjaga dari tidurnya lalu beranjak menuju lobi. Arak tadi sore masih sisa satu dimeja lobi. Dengan santai dia duduk lalu mengeluarkan sepucuk surat.


Kepala cabang bintang perak diklan chu sudah berlaku tidak adil kepada sekte pasir putih. Semua fasilitas dan keamanan yang diberikan serikat tidak gratis pada mereka.


Gaji kelima murid yang masih setia hanya cukup untuk biaya hidup dan membeli ramuan bagi tetua tian. Saat ini tercatat hampir sejuta koin emas yang mereka tanggung selama tinggal diserikat.


Tuan chu guan sebenarnya ingin membantu mereka tetapi kepala cabang sekarang sangat dekat dengan beberapa sekte aliran hitam. Meskipun kedekatan masih tersembunyi, namun semua anggota serikat mengetahuinya.


Tuan guan juga berencana membawa tetua dan murid sekte pasir putih kebenua timur, tetapi mereka menolak. Mereka hanya berharap bisa hidup dan mati ditanah kelahirannya.


Kalau chuan ada rencana untuk mereka dalam waktu tiga bulan atau paling lama enam bulan, tuan guan akan berkunjung kecabang klan chu. Diharap agar chuan sabar dan tidak bertindak demi keselamatan semua orang.


Dan banyak lagi coretan yang chuan fahami. Dibawah tertera teysan dan ceisun.


"ohhh, kalian berdua" guman chuan lalu membakar surat itu dengan energi api ditangannya.


Setelah membersihkan bekasnya, chuan kembali asyik dengan araknya. Terdengar orang bercakap cakap diluar dan memasuki penginapan.


"darimana kalian" tanya chuan melihat yanyan dan cao memasuki lobi.


Beberapa tetua sekte terlihat mengunjungi kediaman walikota. Bahkan tetua shusin dan muridnya saat ini ada disana.


Sedang disekte utama klan chu banyak juga yang datang. Tiga hari dari sekarang pihak sekte akan memberikan klarifikasi tentang peti yang ada dibelakang sekte mereka.


Empat tetua dan penatua klan melakukan penggeledahan besar besaran. Rumah tetua kelima juga digeledah, meskipun saat ini sedang mengawal pajak yang dikirim keklan tian. Sebenarnya dia tidak termasuk yang dicurigai, karena sudah dua hari yang lalu dia berangkat.


Setelah beberapa berita lagi yang disampaikan, mereka meneruskan dengan obrolan obrolan ringan. Tetua shusin dan ketiga muridnya yang sudah kembali, langsung nimbrung bersama ketiganya.


Seperti biasa, menjelang pagi mereka masuk kekamar masing masing. Semua penghuni penginapan melakukan aktifitasnya seperti biasa.


Hari berganti hari, tibalah saat yang dijanjikan oleh sekte utama klan chu. Chuan diajak tetua shusin dan ketiga muridnya, menuju tanah lapang disamping sekte tersebut. Tanah lapang tersebut adalah tempat murid sekte berlatih.


Nenek, bibi dan anak anak dipenginapan  diberitahu untuk tidak keluar penginapan. Enam pegawai penginapan membantu mengawasi dan menemani anak anak bermain.


Suasana ditanah lapang semakin siang mulai terlihat gejolak. Dua sekte aliran hitam mulai hilang kesabarannya. Kata kata yang keluar kian pedas didengar.


Empat tetua sekte keluar menuju panggung permanen untuk memberi keterangan. Semua murid inti menjadi pagar hidup buat keempatnya. Dengan suara lantang disertai tenaga dalam tetua satu menjelaskan. Pihak sekte mereka mengalami kebuntuan dalam mengungkap kejadian tersebut.


Beberapa tetua dari sekte aliran putih dan netral yang membantu proses tersebut. Tak lupa ada dua tetua dari sekte pasir darah yang disebutkan membantu, serta ikut menggeledah semua tempat disekte utama klan chu. Sembilan tetua dari sekte yang disebutkan naik kepanggung untuk membenarkan ucapan tetua satu.


Kericuhan yang terjadi mulai reda. Seorang penatua klan chu maju memberi klarifikasinya. Pihak klan chu juga tidak menemukan apapun dikediaman walikota dan keluarganya. Bantuan tetua shusin juga disebutkan.