
Lakukan terus, sampai energinya benar benar stabil. Jelas Chuan pada Tetua Tian. Sambil menyeka keringatnya yang masih keluar.
"nenek dan bibi belum tidur yaa" ucap Chuan sadar dengan keduanya, yang masih diruangan tersebut.
"kami ikut tegang melihatnya" ucap Nenek Hong. "sudahlah, kondisinya sudah baik" ucap Chuan.
"lagian sudah mulai pagi, nenek dan bibi bisa istirahat sebentar" lanjutnya. keduanya lalu pamit pada semua orang diruangan tersebut untuk undur diri dulu.
"yang lain tolong jaga proses Tetua Tian agar tetap focus, aku istirahat dulu" ucap Chuan lalu beranjak untuk menuju kamarnya.
"terima kasih Chuan" ucap dua tetua dan kelima murid sekte sambil merendahkan badan padanya.
"sudahlah, tak perlu seperti itu" ucapnya sambil tersenyum kemudian berlalu.
Pagi yang cerah, secerah harapan tetua dan murid muridnya. Begitupun para penghuni lain. Sambil membawa kuda untuk dilepas agar merumput disekitar tempat latihan. Semua anak berlatih fisik sendiri, tanpa didampingi siapapun. Sebelumnya juga dipesan kalau hari ini latihan dihalaman rumah.
Siang menjelang, Chu Guan, Ceiyun dan Teysan sedang asyik berbicang bincang dihalaman. Derap kuda terdengar dan terlihat dua atau tiga anak diatas punggung tiap kuda tersebut. Keceriaan mereka membuat para orang tua yang sedang bercakap cakap terdiam dengan seulas senyum terkembang.
"wah sudah lama paman" terdengar suara Chuan dipintu, membuat semua orang terkejut.
"kamu sudah bangun" tegur Nenek Hong.
"belum, ini masih mimpi" ucap Chuan.
"huhh" sewot Nenek Hong
"maaf paman, aku terlalu biasa bermalasan jadi bangunnya seperti ini" ucap Chuan sambil tersenyum. "bisa kita berangkat sekarang" ucap Chu Guan.
"baiklah" ucap Chuan, lalu pamit pada semua orang.
"hati hati, kak" ucap anak anak yang berbaris melihat kepergian chuan. Anak anak mulai terbiasa dengan kepergian huan. Kehadiran para tetua dan muridnya bisa jadi pelipur mereka.
Dengan kereta, keempatnya meluncur ke tempat walikota. Meskipun tanpa kesulitan saat masuk, tapi wajah sinis dan mengejek Chuan sering kali terlihat. Para penatua, dua istri walikota dan tiga anaknya terlihat menerima rombongan mereka.
"jangan digunakan" ucap Patriak Lion lewat pikiran Chuan. Saat merasa Chuan akan mengeluarkan ilmu menembus ombak samudra.
"biar aku yang membantumu" lanjutnya.
"apakah dia yang tuan Guan maksudkan" tanya istri kedua walikota.
"benar, dia suadara Chuan yang aku maksudkan" jawab Chu Guan.
"aku Xulien, apa kau bisa menyembuhkan suamiku" tanya dia pada chuan.
"melihat kondisinya saja belum, bagaimana aku menjawab" ucap Chuan santai.
"anak miskin, jelek hati hati kalau ngomong" tegur anak kedua walikota.
"maaf, aku kesini juga diundang, bukan kemauanku sendiri" ucap Chuan lebih santai lagi.
"hei, kau tahu ini dimana" kata seorang penatua sambil menunjuk Chuan.
"kalian apa apaan ini" tegur Xulien sambil memandang dua anaknya.
"aku Chu Yosue istri pertama walikota, bisakah kau melihat kondisi suamiku" ucapnya santun.
"tolong antar, jika anda berkenan" ucap Chuan.
"mari aku antarkan" ucapnya sambil beranjak dari duduknya.
"mari paman" ucap Chuan pada Chu Guan.
"silahkan" ucap Yosue mengantar Chuan dan teman temannya ke kamar tuan walikota.
Para penatua klan juga mengikutinya. Saat dikamar yang luas, terdapat tubuh kurus kering terbaring dalam kondisi kritis. Chuan langsung memeriksa seluruh tubuh walikota.
Wajah sedikit gelap, garis garis biru tipis acak terlihat samar dikulit lengannya. Chuan menyentuh pergelangan tangannya dan memeriksa melalui qi yang disalurkannya. Dirasakannya, beberapa organ tubuh walikota sedang rusak dikarenakan endapan racun.
"huhhh" gumannya.
"bagaimana Chuan" tanya Yosue. Bukannya menjawab, Chuan langsung duduk meditasi.
"guru" ucap Chuan dalam meditasinya.
"kau bisa membersihkan racunnya, tanpa diketahui tahapanmu" tanya Patriak Lion.
"semoga guru" jawab Chuan.
"Dia, dia dan,,,," Patriak Lion lalu menyebutkan beberapa orang yang bisa dipercaya dan masih setia pada walikota. Untuk istri walikota, pilihan Patriak Lion adalah Yosue.
Setelah jelas lalu Chuan menyudahi meditasinya.
"semoga bisa menyelamatkannya" ucap Chuan.
"tolong sembuhkan suamiku" ucap Yosue.
"kalau tidak bisa seperti semula, bagaimana" tanya Chuan sambil melirik Xulien yang sedang tersenyum tipis.
"kalau gak bisa ya sudahlah, ngomong saja" hardik Xulien.
Dengan santai Chuan hanya tersenyum. Xulien semakin geram karena kata katanya diabaikan oleh Chuan.