Pendekar Hitam

Pendekar Hitam
# Dia Lebih Pengalaman


Setelah anak anak beristirahat dan para tetua tenggelam dalam meditasinya. Chuan keluar rumah dan langsung melesat menuju pusat kota.


Diatas sebuah bangunan megah yang tinggi dia memantau kedamaian malam kota kingsan. Malam semakin larut, saatnya semua warga terlelap dalam tidurnya.


Terlihat sedikit kesibukan dihalaman sebuah rumah. Dengan ilmu bayangan naga yang sempurna, Chuan melesat menuju rumah tersebut.


"hati hati, lepaskan tahapanmu" ucap Patriak Lion. Dengan tahap pendekar suci maka ilmu bayangan naga srmakin sempurna dan auramu juga akan tertutupi sempurna.


"dentaian kalian sudah hancur karena energi api, kami tidak bisa memulihkan lagi" ucap seseorang.


"bagaimana aku balas dendam" terdengar suara dengan nada tinggi.


"pergilah Chuan" ucap Patriak lion lewat pikiran Chuan. Chuan langsung melesat pergi, tanpa banyak tanya. Cukup jauh menyelinap melewati belakang rumah tersebut. Disebuah pohon yang cukup rindang, dia duduk didahan yang tersembunyi.


"meski tak sekuat dirimu, rasanya dirumah itu ada yang bisa merepotkan" ucap Patriak Lion.


"lalu apa aku harus pancing mereka lagi" tanya Chuan. "sepertinya tak akan berhasil, biar aku yang menyelidiki mereka" jawab Patriak Lion, lalu terlihat siluet keluar dari cincin naga Chuan.


Cukup jauh dari tempat dia menunggu patriak Lion, ada beberapa pelita bergerak membuatnya penasaran. Lebih tiga kilometer dia telah melesat dari tempat semula.


Hamparan padang rumput yang kecil ditengah hutan. Ada 25 pendekar mahir sedang menunggu dua kereta barang. Chuan dengan hati hati mengumpulkan 30 ranting pendek.


"tunggu tanda dari tetua"


"ini sudah tengah malam, kita menunggu sambil minum arak"


"iya daripada kedinginan" terdengar obrolan mereka.


Dengan santai mereka menikmati araknya.


"lima orang tetap berjaga, nanti gantian" ucap seorang paruh baya. Empat obor ditancapkan dekat mereka minum, sedang lima yang lain berjalan mondar mandir, bahkan sesekali ada yang sampai kearah pepohonan.


Dengan melemparkan ranting tepat dititik pingsannya. Satu persatu, kelimanya dilumpuhkan Chuan saat mendekati pepohonan rindang yang berjajar tempat itu. Gelak tawa mereka terdengar semakin terpengaruh dengan arak.


Dengn hati hati dia menyelinap memasuki kereta. Terdapat banyak bahan makanan dan peti didalamnya. Setelah menguras semuanya, Chuan segera berlalu.


Sebelum pergi Chuan membawa lima orang yang dilumpuhkannya kelokasi yang cukup jauh. Kemudian dengan santai lima orang yang masih pingsan ditinggalkan didalam hutan.


Cukup lama dia pergi, dan segeralah untuk kembali, ketempatnya menunggu Patriak Lion. Sampai ditempat semula dia sembunyi mulailah bermeditasi sambil menunggu.


"seseorang mengikutiku chuan" terdengar patriak lion mengirim pesan suara.


"baik guru" ucap Chuan lalu melesat sambil mengeluarkan tongkat batu bintangnya.


"berhenti" teriak seseorang dibelakang chuan, saat siluet memasuki cincin naga.


"hiatttt" teriak Chuan menyerangnya tanpa basa basi. Gerak reflek yang bagus saat menghindari serangan Chuan.


"bangs***, hiaatttt" teriaknya sambil menarik pedangnya, dia menyerang balik Chuan.


"ilmu pedang naga api" batin Chuan.


"dia tetua sekte pasir darah, berada ditahap langit" ucap Patriak Lion.


"tekan dengan tahapanmu dan serang dengan serius, hati hati dia lebih pengalaman" lanjut Patriak Lion.


"hiaatttt" lebih serius Chuan menyerang dan bertahan. Serangan tetua itu begitu deras mengincar titik titik vital. Dua puluhan jurus sudah dikeluarkannya. Sambil menahan tekanan tahap kultivasi Chuan, dia terus menyerang.


Perpaduan ilmu pedang naga api dan membelah samudra mulai bisa mengunggulinya. lima puluh jurus berlalu, kata kata umpatan keluar tanpa chuan perdulikan.


"jlebb"


"achhhh" saat jurus lima puluh empat tongkat Chuan menembus didadanya.


Dia terhuyung kebelakang sambil memegangi lukanya. "siapa kamu" tanya dia penuh penasaran.


"calon mayat tak perlu tahu" ucap Chuan.


"hiaatttt"


"krakk" serangan Chuan membuat kepalanya retak.


Dia lalu terjatuh dan tak bangun lagi.


"geledah dia Chuan, lalu pulang" ucap Patriak lion, saat Chuan hendak pergi.


Setelah mengambil cincin dimensi yang ditemukannya, Chuan segera pergi dari tempat itu. mayat tetua tersebut dibiarkannya. Sebagai peringatan untuk yang lain.


Malam berganti pagi, Chuan sedang kultivasi ditepi sungai.