Pendekar Hitam

Pendekar Hitam
# Kejutan


"bolehkah aku tidur sebentar" ucap Chuan sambil senyum selepas meditasinya.


"hahh" terdengar guman beberapa orang mendengar ucapan Chuan.


"hehehe" tawa kecil Chuan melihat raut Yosue kebingungan melihat tingkahnya.


Kemudian memulai mengarahkan semua orang. Tetua Gun dan muridnya memanaskan air dibak mandi, serta melarutkan pil penguat tubuh, rumput emas dan satu mustika hewan buas yang dipilihkan Patriak Lion.


Walikota yang sudah melewati masa kritisnya, mulai sadar. Penatua, Teysan dan Chu Guan membantunya duduk, karena permintaan Chuan.


"tuan muda Chuan berusaha menyembuhkanmu" ucap Yosue pada suaminya, dan hanya dibalas anggukan kecil.


"bisa bantu menyuapkan ini" ucap Chuan sambil memberikan tiga anggur darah.


Terlalu banyak kejutan yang didapat saat bersama Chuan. Tak seorang pun yang bertanya tentang rasa penasarannya. Setelah tiga anggur itu habis, kemudian Chuan duduk dibelakang walikota dan menempelkan kedua tangannya.


Aliran qi murni yang disalurkan Chuan, mempercepat khasiat dari anggur darah. Energi dan nutrisinya dialirkan dengan qi murni Chuan. Seluruh jaringan darahnya mulai normal kembali. Kerusakan organnya perlu waktu lama untuk pulih, namun endapan racun mulai dapat dihancurkan.


"huekk, huekkk, huekkk" muntahan darah kental berwarna hitam keluar. Setelah beberapa kali muntah, raut wajah walikota sudah tidak pucat lagi.


Saat Chuan menyudahi proses penyembuhannya, dia terlihat kelelahan.


"terima kasih" terdengar walikota berkata pelan hampir tak terdengar.


"masih perlu beberapa tahap lagi tuan" balas Chuan diikuti anggukan walikota.


"bagaimana airnya" tanya Chuan pada Tetua Gun.


"sudah siap" jawabnya.


"tuan walikota harus berendam" ucap chuan pada dua penatua.


Keduanya lalu membantu walikota masuk kebak mandi. "telan ini, dan alirkan energinya keseluruh tubuh" ucap Chuan dan menyerahkan pil inti api.


"tetua, tolong bantu mengawasi tuan walikota" ucap Chuan.


"istirahatlah, biar aku yang lanjutkan" jawabnya.


Raut tegang juga mulai pudar diwajah semua orang. "masa gak ada makanan sama sekali dirumah semegah ini" ucap Chuan santai, membuat orang orang disekelilingnya tersenyum dan kelimpungan.


"paman" ucap Yosue merah padam menahan malu. "sudahlah, aku cuma bercanda" ucap Chuan.


"kami masih tegang, kau malah santai" sela Chu Guan.


"lha memang lelah dan lapar lho paman" bela Chuan. "sebentar aku ambilkan" ucap Yosue.


"maaf siapapun tidak boleh masuk dan mengintip kedalam kamar" pesan Chuan.


"baik, biar paman Chu Zuo yang menjaga pintunya" ucap Yosue.


Seorang penatua berjalan kepintu dan menjaganya dari luar. Teysan juga beranjak untuk menemaninya. Percakapan ringan mulai tercipta dikamar itu. Sesekali Chuan menanyakan keadaan walikota kepada Tetua Gun.


Istri pertama walikota memasuki kamar dan membawa nampan berisi hidangan yang cukup banyak. Ayam pedas kesukaan Chuan juga tersedia.


Setelah semua hidangan masuk, Teysun dan penatua tadi memasuki kamar dan mengunci dari dalam. Dengan cuek, Chuan buru buru mengambil makanan yang dihidangkan. Orang orang yang memandangnya tak dia hiraukan.


"hehehe, kalau tentang makanan kog kamu terlalu serius" tegur Chu Guan.


"wah kalau gak serius, ntar dihabisin sama Teysan si jago makan, hehehe" balas Chuan sekenanya,


"emangnya" protes Teysan disambut tawa kecil semua orang.


"yang baru datang jangan mimpi dapat jatah yaaa" ucap Chuan pada Tetua Gun dan muridnya. Ketiganya hanya tersenyum, tak menanggapi candaan Chuan.


"masa ada arak dianggurin saja" terdengar mulut Chuan terus iseng. Yosue dan dua penatua hanya tersenyum, dan seorang penatua menuangkan arak keteko yang sudah kosong.


"hahaha, ini namanya baru pesta" ocehan Chuan seakan tak berhenti. Semua yang dikamar seakan terbawa oleh suasana yang diciptakan Chuan.


Setelah makan, Chuan melihat keadaan walikota.


"kalau terlalu keruh, kurangi airnya separuh dan tambahkan air bersih" ucap Chuan dan dikerjakan oleh dua murid Tetua Gun.


"maaf tetua, aku tidur dulu, hehehe" ucap Chuan pelan lalu berjalan menuju kursi dikamar itu. Dengan bersandar santai dia mulai tidur. Sedangkan yang lain tetap berbincang bincang sambil duduk dilantai. Chuan menjadi topik utama pembicaraan mereka.