Pendekar Hitam

Pendekar Hitam
# Gejolak Kecil


Tiga tetua sekte utama klan chu juga tetlihat.


"kemana hilangnya" terdengar mereka yang sedang penasaran.


Sebagian pendekar tahap bumi sedang bermeditasi. "sepertinya ada garis energi yang tipis menuju sekte utama klan chu" teriak seorang pendekar bumi dari golongan netral.


Semua pendekar lalu melesat menuju tempat sekte utama berada. Tiba dibelakang sekte semua hanya menemukan peti yang berisi bebatuan.


"disini garis energinya hilang" ucap pendekar tadi.


"kami akan tinggal diklan chu, harap para tetua sekte utama memberi keterangan dalam tiga hari" ucap seorang pendekar tahap mahir dari golongan hitam.


"kami akan menyelidiki dulu dan memberikan keterangan dalam tiga hari" ucap salah satu tetua sekte.


Kemudian ketiga tetua melesat kembali kesektenya. Para pendekar membubarkan diri, mencari penginapan atau menemui koleganya diklan chu.


Chuan yang sudah kembali kepenginapan tak sadar kalau yang diperbuatnya  telah menyebabkan gejolak kecil diklan chu. Pakaiannya sudah berganti dengan yang bersih, tak lupa beberapa koin emas dimasukkannya kekantong celana.


Dengan santai dia keluar kamarnya, menuju lobi penginapan. Dua orang yang sedang berjaga menyapanya dan memberikan tempat disamping mereka.


"aku yanyan, sedang dia dipanggil caocao" ucapnya memperkenalkan diri.


"aku chuan" kata chuan.


"kami sudah diberitahu oleh anak anak itu" balasnya. "hehehe" chuan tertawa kecil.


"bisa tolong belikan arak" lanjutnya.


"tak masalah" jawab yanyan.


"dua guci arak, sisanya untuk kalian dan yang dipos jaga" kata chuan sambil mengeluarkan dua koin emas.


"satu saja masih sisa" ucap yanyan.


"tak apa, sisanya bagi buat kalian" jawab chuan.


Tak lama yanyan dan seorang palayan yang menjaga dipos datang dengan membawa empat guci arak.


"ikut minum disini" ucap chuan padanya.


"terima kasih, kami yang dipos jaga sudah dapat jatah, hehe" jawabnya sambil tersenyum lalu kembali ke pos jaga.


Ketiganya lalu asyik meneguk arak mereka masing masing. Keakraban keduanya dengan chuan terlihat dari lepasnya cerita cerita tentang mereka.


"maaf kami sudah tutup" ucap cao ramah.


"kami dari sekte macan putih kemalaman, apa ada kamar kosong" ucap salah satunya.


Sekte macan putih salah satu sekte aliran putih. Didepan mereka bertiga ada empat orang dengan pakaian putih berlogo kepala macan didadanya. Seorang pendekar bumi dan tiga pendekar mahir.


"maaf tapi kamar kami sudah penuh" lanjut cao. "tolonglah, kami dari klan tian yang jauh" lanjut pendekar bumi.


"kalian lebih aman dengan kehadiran mereka" terdengar patriak lion dipikiran chuan.


"ada kamar untuk tamu apa tidak" tanya chuan pada yanyan.


"ada dua kamar tamu dilobi, tapi belum dirapikan" ucap yanyan.


"biar mereka disana" ucap chuan membuat yanyan bingung.


"cao,,," panggil yanyan.


"saudara chuan berkenan jika mereka mau menginap dikamar tamu" jelasnya membuat caocao juga kebingungan.


"maaf semua kamar penuh, ada dua kamar tamu tapi belum kami rapikan" ucap chuan setelah mendekati keempatnya.


"tak apa apa, kami bertiga akan merapikannya sendiri" ucap seorang pendekar mahir.


"kalau berkenan, silahkan masuk" ucap chuan.


Keempatnya masuk penginapan, dan yanyan mengantar mereka menuju kamar tamu. Caocao menutup kembali pintu penginapan.


Ketiganya berkumpul lagi untuk menikmati arak mereka. Tak lama berselang keempat pendekar tadi duduk dimeja sebelah kami bertiga.


"namaku shusin, tetua dua sekte macan putih, ketiga ini murid murid pribadiku" ucapnya memperkenalkan diri. "maaf, diri yang hina ini chuan, warga kota ini, sedang mereka berdua penjaga penginapan" ucap chuan.


"kamu menginap disini" tanya tetua shusin penasaran. "rumah kami sedang direnovasi, jadi sementara kami menginap disini" jelas chuan. Jawaban chuan menimbulkan sedikit tanya dihatinya.


"adakah lagi araknya" lanjut tetua shusin.


"kami beli dikedai sebelah, dipenginapan ini pelayanan kami hanya untuk menginap" jelas yanyan.


Kemudian tetua shusin menyuruh dua muridnya untuk membeli arak. Malam yang sepi, tetapi dipenginapan malah tercipta kehangatan dengan obrolan tujuh orang sambil menikmati arak araknya.