Pendekar Hitam

Pendekar Hitam
# Mulai Renovasi


Surat ditangan chuan segera dia hancurkan, agar tiada menimbulkan masalah dikemudian hari. Dia lalu beranjak dari duduknya dan menghampiri anak anak yang sedang berkumpul mendengar arahan nenek dan bibi fei.


"aku minta waktu sebentar" ucap chuan.


"lama juga boleh kak" ucap monk.


"setelah ini, aku mau ajak kalian semua merasakan tinggal disebuah penginapan" kata chuan.


"apa tempatnya bagus"


"apa makanannya enak"


"apa..."


"apa..." ucap anak anak dalam bahasa dan pikiran mereka yang sederhana. Chuan hanya tersenyum sambil melihat mereka


"bawa barang yang berharga dan mempunyai kenangan saja" jelas chuan.


"barang yang sudah tidak layak ditinggalkan saja, sekarang semua mulai berkemas" lanjutnya.


"baik kak" jawab mereka semangat.


Nenek hong dan bibi fei hanya bengong melihatnya. Chuan lalu menjelaskan pada keduanya. Besok renovasi rumah  mau dimulai. Mereka semua akan tinggal beberapa hari dipenginapan. Barang berharga bibi fei dan barang kenangan sang suami saja yang dibawa.


"biayanya bagaimana" tanya bibi fei.


"semua sudah dibayar oleh nenek hong" jawab chuan. Keduanya hanya bengong dan saling pandang.


"sudahlah jangan pikir tentang biaya" ucap chuan. Keduanya lalu pergi untuk berkemas. Chuan hanya tersenyum melihat semua kesibukan mereka.


Diruang depan terkumpul sudah barang mereka. Anak anak membawa dua atau tiga stel pakaian mereka, meskipun menurut chuan kurang layak pakai.


Bibi fei sedikit lebih banyak. Terdapat juga makanan yang tadi siang mereka masak.


"kalian semua belum makan" tanya chuan.


"kami seharian tidak merasa lapar" ucap bibi fei.


"pakai cincin ini nek" ucap chuan sambil menyerahkan cincin dimensinya.


"semua anak anak berkumpul dihalaman dulu" lanjut chuan. Berhamburanlah mereka semua, tinggal nenek dan bibi fei dihadapan chuan.


"itu cincin dimensi, semua barang ini muat didalamnya" ucap chuan lalu menjelaskan fungsi dan cara penggunaannya pada bibi fei.


Nenek hong memasukkan semua kecincin dimensi, lalu ketiganya keluar menghampiri anak anak yang berkumpul. Bibi fei menjelaskan barang bawaan anak anak. Mereka hanya diam dalam bingungnya.


"permisi" terdengar seseorang menyapa mereka.


"semua anak ini" ucap teikong penasaran.


"mereka dan kami bertiga yang tinggal dirumah ini, makanya kami perlu untuk merenovasinya" jelas chuan. "kami merasa malu melihatnya" ucap teikong.


Kemudian dia menjelaskan pada chuan, kalau mereka akan melakukan renovasi dengan sebaik baiknya. Mereka juga memperkenalkan diri pada nenek hong dan bibi fei.


"maaf kami pergi dulu, kerjakan apa yang kalian rencanakan dengan rumah ini" kata chuan.


"silahkan, tentang rumah ini saudara chuan bisa mengandalkan kami" ucap teikong bersemangat.


"ayo semua berangkat" ajak chuan.


"horee"


"asyik jalan jalan"


"horee"


"horee" teriak riang anak anak.


Teikong hanya terdiam melihat semua itu.


"pernahkah hati kalian tersentuh melihat mereka" tanya teikong pada teman temannya.


"hari ini hatiku seperti teriris melihatnya" lanjutnya.


"ketiganya, terlalu mulia dibanding kita" timpal lainnya. "bahkan pemuda itu tetap tampil apa adanya, meskipun bisa dengan mudah mengeluarkan ratusan koin emas" ucap teikong.


"kami akan melakukan yang terbaik untuk ini, meskipun tak ada bonus buat kami" ucap seorang yang kanan teikong. Ternyata kelima orang tersebut adalah ahli yang akan merenovasi rumah tersebut.


Chuan dan yang lain melangkah menuju penginapan. Suara riang anak anak sedikit menarik perhatian warga yang sedang aktifitas.


Chuan melenggang didepan dengan dua anak usia enam tahun dikiri kanannya. Sedang nenek dan bibi mengawasi mereka dibelakang.


Dengan santai chuan menanggapi kedua anak itu. Terlihat juga beberapa warga yang memberikan koin pada mereka. Terbersit rasa haru melihat penampilan rombongan chuan.


Satu kilometer mereka berjalan, sampailah ditempat tujuan. Dua orang pelayan penginapan terlihat ramah menyambut.


"kami bebas bermain disini" tanya ninie pada chuan. "kalian bebas bermain sesuka hati tapi tetap jaga sopan santun pada paman paman itu" ucap chuan sambil menunjuk para pelayan.


"baik kak" jawab anak anak.


"tapi sekarang kita berkumpul dulu" ucap chuan. Lalu masuk diruang dalam, terlihat meja besar dan deretan kursi yang mengelilingi meja.