Pendekar Hitam

Pendekar Hitam
# Keamanan Anak Anak


Kejanggalan dari semua cerita kepala desa membuat rasa penasaran Chuan terusik. Dengan ilmu menembus dasar samudra, Chuan merasakan harapan ditengah ketakutan mereka.


"silahkan cari cara untuk sampai ditempatku dengan selamat" ucap Chuan lalu menjelaskan, mereka boleh datang ke wilayah hutan suci. Jika ada penghianat didalam rombongan kalian. Maka Chuan tidak segan untuk mengambil tindakan.


"bagaimana caranya keluarga kalian ketempat kami" tanya Tetua Tian.


"itulah yang membuat kami bingung" jawab kepala desa. Ada lebih dari enam puluh keluarga yang ingin meninggalkan desa ini.


Ada rasa takut yang tak jelas pada raut wajah kepala desa dan keempat orang tersebut. Lebih dari separuh warga yang meninggal secara tidak jelas. Saat ini ada seratusan keluarga, namun tidak semuanya mau pindah guna memulai hidup baru.


"saat ini, kami belum ada solusi" ucap Tetua Tian.


"beri beberapa waktu untuk memikirkan hal itu" lanjutnya. Setelah basa basi sebentar Chuan lalu pamit untuk melanjutkan perjalanan. Kepala desa dan tiga orang lainnya, melepas kepergian mereka bertiga.


Tiga kuda mulai dipacu meninggalkan desa tersebut. Tak lama dalam melanjutkan perjalanannya. Mereka sampai tepi hutan.


Puluhan tenda berdiri didepan mereka. Kepala kelompok yang sebelumnya mengaku kepala desa saat berkunjung dihutan suci, menyambut Chuan.


"salam Chuan" ucapnya.


"salam paman, ada apa dengan kalian" balas Chuan.


"nanti kami ceritakan keadaan kami yang sebenarnya" jawabnya sambil mengajak duduk. Kain lebar dijadikan alas untuk duduk mereka. Air putih dan beberapa ekor kelinci bakar disuguhkan oleh mereka.


Kepala desa mulai bercerita tentang puluhan warga yang ikut dengannya. Sesepuh desa yang didukung beberapa pendekar, mengusir dia dan pendukungnya. Saat ini sesepuh tersebut mengukuhkan diri menjadi kepala desa yang baru. Namun karena kejamnya saat memimpin, banyak warga yang menyusul.


Saat ini mereka sering pindah pindah karena belum ada tempat yang bisa ditinggalinya.


"kami memohon pada kalian, hanya karena masa depan anak anak itu" ucapnya menyudahi ceritanya. Terlihat puluhan anak anak bermain dengan polosnya.


"tolong kumpulkan mereka, perkeluarga masing masing" ucap Chuan. Satu persatu mereka berkumpul ditempat itu. Terdapat empat puluhan keluarga yang ada ditempat itu. Hanya ada tiga orang yang sendiri tanpa keluarganya. Tetua Tian memberi jarak pada tiap keluarga. Sedang tiga orang tersebut dikumpulkan sendiri berdekatan dengan Tetua Tian.


"siapa kalian" tanya Chuan pada ketiganya.


"kami juga satu desa dengan mereka" jawab seseorang mewakili temannya.


Kepala desa dan warga yang lain kebingungan dengan pertanyaan Chuan pada ketiganya. Menurut sepengetahuan mereka, ketiganya adalah warga desa seperti yang lain.


"jika kalian berbeli belit maka tanggung sendiri akibatnya" ucap Chuan. Tetua Tian dan Teikong lalu melepaskan tahap kultivasinya, serta pedang tumpul sudah digenggaman Teikong.


"harap yang lain segera bersiap siap untuk pindah" ucap Chuan pada kepala desa. Dengan arahan kepala desa, warga desanya mulai bersama sama membongkar tenda tenda mereka.


"jawab, siapa kalian" bentak Chuan lagi pada ketiga orang tersebut. Tekanan dari energi Tetua Tian, membuat ketiganya mulai berkeringat dingin.


"kami disuruh memata matai mereka" ucapnya dengan ketakutan.


Jawaban yang terucap, membuat kepala desa dan beberapa warga yang mendengarnya terlihat menghentikan aktifitasnya.


"pulanglah, dan laporkan kalau mereka semua mulai keluar dari wilayah klan Tian" ucap Chuan. Ketiganya langsung berlari ketakutan.


"kenapa dilepaskan" tanya Teikong.


"mereka hanya warga biasa, biarkan mereka menerima pembalasan dari yang lain asal bukan dari kita" ucap Chuan membuat bingung Teikong.


Kepala desa dan beberapa warga yang kesal pada ketiganya, hanya berdiam diri karena segan dengan keputusan Chuan.


"seharusnya kalian bisa mencari jalan aman ketempatku" tanya Chuan.


"untuk keamanan anak anak, kami akan menyusuri tepi hutan" jawab seorang warga.


"berapa lama sampainya" lanjut Chuan.


"mungkin dua hari" jawab yang lain. "berhati hatilah, kami permisi dulu" ucap Chuan.


"terimakasih Chuan" balas kepala desa. Ketiganya lalu meninggalkan kelompok tersebut. Memacu kuda menuju arah hutan suci. Cukup jauh dari tempat mereka, Chuan berhenti. Dia menyuruh Tetua Tian untuk mengawasi mereka dari jauh.


"ambil tindakan kalau memang diperlukan" pesan Chuan.


"baik, serahkan mereka padaku" ucap Tetua Tian