Pendekar Hitam

Pendekar Hitam
# Jenderal Erlong


Dalam tiga hari para pejabat dilingkup istana dan ibukota duocan sudah tidak ada yang datang lagi. Siang hari yang cukup terik, Chuan mendatangi markas prajurit.


"siang Tetua Chuan" sapa Lin Erlong, nama panglima besar yang kemarin juga menyempatkan diri datang ketempat Chuan.


"ohhh,,, siang jenderal" ucap Chuan.


"meski aku panglima jenderal dikekaisatan, kau harusnya panggil paman saja" balas Erlong.


"paman juga panggil saja Chuan" kelit Chuan.


"whahaha,,, kau guru dari Lin Dong, sedang kakek dia adalah adik kandungku" ucap Erlong


"maka sudah sewajarnya kami menghormatimu" lanjutnya.


"hahaha,,, paman bisa saja, boleh kita berbincang secara pribadi" balas Chuan.


"ohhh,,, ayo keruang kerjaku" ajak Erlong sambil melangkah menuju ruang kerjanya. Sesampai didalam keduanya duduk berhadapan.


"bagaimana kabar Lin Dong" tanya Chuan membawa suaaana santai.


"meskipun bersama orang tuanya, dia terus giat berlatih" jawab Erlong.


"semoga latihan fisik dan kultivasinya,,,,," ucap Chuan lalu diam tidak meneruskan ucapannya.


Chuan langsung mengeluarkan tehnik pedangnya, membuat sebilah pedang yang menghiasi dinding melayang.


"trackkk,,,, achggg" terdengar suara jendela dan erangan seseorang dibaliknya.


"maaf paman, dia mencuri dengar pembicaraan kita, tolong diselidiki dan datanglah ditempatku" ucap Chuan sambil berdiri.


"baik,, aku pasti ketempatmu" balas Erlong yang masih tertegun atas kejadian tersebut.


"pantas Xhuan memujimu setinggi langit" guman Erlong sambil menatap kepergian Chuan.


"meskipun terlihat santai namun dia sangat teliti dan berhati hati"


"benar benar naga yang sedang menyamar" batin Erlong lalu keluar ruang kerjanya dan memastikan siapa prajurit yang sedang memata matainya.


Malam harinya, Erlong berkunjung ketempat Chuan.


"silahkan masuk paman" ucap Chuan menyambut kedatangan Erlong. Chuan langsung masuk ketempat khusus yang sudah disediakan.


Keduanya mulai terlihat serius dalam percakapannya. Chuan menceritakan percakapan dua tuan muda, yang kedua klan mereka berencana menguasai semua aspek diibukota.


Semua kejadian diceritakan oleh Chuan. Juga mengenai lumpuhnya kultivasi kedua tuan muda tersebut.


"huuhhhhh" guman Erlong mendengar berita yang disampaikan oleh Chuan.


"sudah lama aku mencurigai gerak gerik generasi kedua klan tersebut" ucap Erlong. Prajurit yang terbunuh kemarin juga dari klan chao. Namun untuk membersihkan pengaruh mereka saat ini cukup sulit.


Masih ada pos pos penting yang dikuasai oleh orang orang mereka. Khaisar Jing juga khawatir akan pergolakan yang terjadi mencopot jabatan mereka.


"saat ini hanya pasukan khusus yang cukup bersih dari pengaruh mereka" jelas Erlong.


"lalu apa rencana paman untuk mengatasi gejolak yang akan terjadi" tanya Chuan.


"saat ini posisi wakil komandan sudah diganti orang orang kita" jawab Erlong.


Hasil pelatihan khusus disekte hutan suci membuat lima puluh pasukan khusus mereka mengalami peningkatan yang signifikan. Dengan sumberdaya yang diberikan oleh kaisar, tiga puluhan lebih yang saat ini dipuncak tahap langit. Mereka belum menembus tahap suci karena masih menunggu bimbingan dari Tetua Lifan.


"baiklah, tujuh hari lagi kumpulkan mereka ditempat pelatihan khusus, diwilayah pegununungan" ucap Chuan.


"aku akan memberitahu mereka, dan tolong bantu memikirkan posisi yang lain" ucap Erlong berharap.


"pasti paman, bagaimanapun juga aku menantu disini" ucap Chuan.


"iya paman, mari kita pindah diruang tamu" balas Chuan.


Keduanya keluar dari ruangan tersebut dan menuju ruang tamu. Meilin ditemani dua pelayannya sedang menunggu keduanya diruangan tersebut.


"salam tuan putri" ucap Erlong.


"salam paman, silahkan duduk" balas Meilin


"kalian,,," ucap Erlong pelan sambil melihat dua pelayan yang duduk dikiri Meilin.


"untuk ditempatku semuanya sama, tak ada yang dibedakan. mereka sudah menyadari posisi dan tugas yang harus dijalani" jelas Meilin


"maaf tuan putri" ucap Erlong.


Setelah Erlong dan Chuan duduk, kedua pelayan masuk untuk menyiapkan jamuan buat ketignya. Chuan, Meilin dan Erlong mulai berbincang ringan dan santai. Erlong tak menyangka sikap Putri Meilin yang sebelumnya dingin pada siapa saja, saat ini menjadi ramah dan rendah hati.


***


Klan Chao


Diruang pertemuan klan chao, terdapat patriak klan tang dan beberapa penatua yang berkunjung.


"sialll,,,, anak anak kita sudah salah menyinggung tuan putri" ucap Patriak Chao.


"lalu bagaimana rencana kita selanjutnya" tanya Patriak Tang.


"untuk sementara abaikan dulu rencana kita" jelas Patriak Chao. Yang penting mengunjungi Putri Meilin dan minta maaf atas kelancangan anak anak kita. Selain itu memantau pergerakannya, ada yang mencurigakan atau tidak.


"dalam beberapa hari ini, tak ada pergerakan yang berarti" jelas seorang penatua klan chao. Berdasarkan laporan dari orang yang memantau mereka. Chuan dan Putri Meilin hanya ditemani oleh empat pelayan dan enam prajurit. Keduanya jarang terlihat keluar dari kediamannya.


Bahkan kediaman mereka selalu terbuka untuk siapapun yang berkunjung. Beberapa kali pihak kita berkunjung dan sambutan keduanya tetap hangat dan santai. Tapi ada juga yang hanya ditemui tuan putri, karena Chuan sedang menyempurnakan pil.


Keduanya asyik dengan dunianya sendiri. Meskipun dilingkup istana, mereka tak pernah terlihat menemui kaisar. Hanya permaisuri yang selalu mengunjungi mereka. Seorang pelayan permaisuri memberitahu, kalau tak ada percakapan yang membahas tentang klan kita.


Menurut informasinya, perbincangan ringan yang terjadi saat bersama permaisuri. Itupun terjadi karena keduanya tak akan lama tinggal dlingkup istana.


Pertemuan kedua patriak klan tersebut berlangsung cukup lama. Berbagai laporan dari orang orang mereka tersajikan dipertemuan tersebut. Namun kehatian hatian dan kecerdikan Chuan dapat mengelabuhi orang orang tersebut.


***


Hari terus berjalan tanpa ada yang bisa menahan. Saat yang dijanjikan Chuan telah tiba. Lebih dari tiga ratus orang sudah berkumpul ditempat yang telah ditetapkan.


"salam Tuan Muda Chuan" ucap para prajurit


"salam Tuan Putri Meilin" lanjut mereka saat Chuan dan istrinya memasuki tempat pertemuan.


"salam, silahkan duduk kembali" balas Chuan dan Meilin yan tersenyum pada mereka. Sambil terus berjalan menuju tempat yang disediakan untuknya.


"salam patriak" sapa Tetua Lifan dan tetua lainnya.


"salam tuan putri" lanjut mereka


"salam tetua" balas Chuan sambil tersenyum. lalu mulai duduk dikursinya.


"tetua bisa memanggil Meilin saja, sebab aku juga murid sekte hutan suci" jawab Meilin.


Jenderal Erlong memulai pertemuan tersebut dengan memaparkan situasi yang sedang terjadi. Kekaisaran Jing Besar yang awalnya menguasai benua selatan saat ini hanya setengah wilayah yang ada. Setengah lainnya dikuasai dua kerajaan yang memberontak.


"untuk memperebutkan wilayah tersebut, saat ini tidak mungkin kita lakukan" lanjut Erlong. Adanya gerakan bawah tanah dari beberapa klan menjadikan kekuatan kita tak sebesar yang terlihat.


"kalian adalah tonggak awal kokohnya kekaisaran kita" ucap Erlong bersemangat. Tiga ratus lima puluh prajurit tahap langit tingkat lima keatas. Didalamnya ada lima puluh lima yang berada ditahap langit tingkat sempurna.


Cukup lama, Erlong berbicara didepan para prajurit khusus. Penuh semangat dan harapan besar pada mereka.