
Tak lama nenek hong kembali dengan sepiring ubi rebus dan guci air minum.
"hanya ini yang nenek punya" kata nenek hong.
"iya nek, tapi kenapa disuruh mampir, sedang aku ingin ke wilayah klan chu" tanya chuan.
Dengan suara pelan nenek menjelaskan. Setelah keluar desa ini, chuan akan memasuki hutan. Meski tidak terlalu lebat tapi cukup luas dan berbahaya apalagi kalau malam.
Waktu yang baik untuk melintasinya adalah pagi hari. Dengan berkuda perlu setengah hari melintasinya. Sedang kalau jalan kaki mungkin menjelang malam baru tiba dipinggiran hutan diseberangnya.
Keluar dari hutan nanti chuan akan memasuki desa, yang membatasi hutan dan kota kingsan. Kota kingsan adalah pusat dari klan chu. Sedang desa dipinggir hutan tersebut adalah tempat sekte utama klan chu dan sekaligus benteng keamanan.
Panjang lebar nenek hong menjelaskan. Tidak lupa juga tentang hutan yang saat ini dikuasai oleh gerombolan perampok harimau hitam yang didukung oleh sekte pasir darah.
Juga beberapa gerombolan lagi yang didukung sekte golongan hitam dibelakang mereka. Selesai memaparkan segala informasi lalu mereka saling terdiam.
"kog nenek tahu semuanya" tanya chuan tidak dapat menyembunyikan rasa penasarannya.
"kamu bertemu dengan empat laki laki dikedai sana" nenek hong balik bertanya.
"iya nek" "yang paling tua adalah pek cun, dia pemimpin gerombolan harimau hitam" jelasnya.
Lalu melanjutkan bercerita, kalau pek cun dulu adalah suaminya. Mereka berdua pelarian dari benua timur, tepatnya dari sekte racun iblis.
"huhhh" chuan mengambil nafas panjang dan mengeluarkannya, untuk menjaga ketenangan hatinya. "ada apa nak" tanya nenek hong.
"tak apa apa nek, lanjutkan saja" jawab chuan lalu diam mendengarkan lagi.
Sampai didesa ini nenek hong dan suaminya menetap. Mereka hanya menggarap ladang dibelakang rumah. Bertahun tahun dia hidup dalam kesederhanaan, meskipun ada banyak harta yang dibawa suaminya saat melarikan diri dari sekte.
Mereka melarikan diri saat sekte sedang diserang oleh pasukan kerajaan.
Beberapa tahun lalu suaminya tergoda oleh seorang janda yang masih muda. Ternyata wanita tersebut istri dari salah satu tetua sekte pasir darah.
Dan sampai sekarang suaminya tak pernah masuk rumah meskipun lewat didepannya. Terlihat air mata menggenang hampir jatuh. Mereka berdua terdiam cukup lama.
"maaf nek, kalau luka lama dihati terbuka lagi" ucap chuan.
"tak apalah nak, lagian nenek juga sudah tua" jawabnya. "tetaplah lanjutkan hari tuamu nek" ucap chuan lalu mulai menghibur nenek hong.
Janganlah menyalahkan diri sendiri atau siapapun. Dari kecil chuan juga tiada ayah dan ibu. Dia juga sudah melupakan kejadian yang menimpa dirinya. Hidup hanya sebuah perjalanan.
Kita bisa belajar dari alam, lihatlah daun yang kering dan jatuh dari tungkainya. Apakah sang pohon menyalahkan angin yang menerbangkan daun tersebut?
Jangan sakiti diri sendiri dengan kesedihan, amarah ataupun dendam. Hadapilah kehidupan ini tanpa perlu mencari kambing hitam untuk disalahkan.
Yang Diatas sana sudah memberikan karunia Nya yang besar meski tanpa kita sadari. Sebagai contoh kecil, pernahkah kita sadar kalau bernafas secara otomatis? Pernahkah kita bersyukur kalau mata bisa melihat gelap dan terang?
Sedih atau bahagia adalah hasil dari olah pikiran kita. Ucapan chuan nyrocos keluar tanpa kendali. Semua kata bijak dari guru gurunya terlintas dipikiran dan keluar lewat mulutnya. Setelah lama dia bicara kini terdiam dan berusaha memahami apa yang telah diucapkannya.
Terdengar isak tangis pelan dari nenek hong menyadarkan chuan.
"maaf nek" ucap chuan.
"tidak apa apa nak, terima kasih sudar membuka hati nenek" jawab nenek disela tangisnya.
Kemudian keduanya tenggelam dalam pikirannya masing masing.
"jadi selama ini nenek hidup sendiri" tanya chuan memecah keheningan.
"iya, karena banyak murid wanita disekte racun iblis tidak bisa punya keturunan, salah satunya nenek"
Kenangan masa lalu melintas dalam pikirannya. Tak tertinggal sedikit pun. Pahit atau manis akan selalu melekat dihati.