Pendekar Hitam

Pendekar Hitam
# Gerombolan Harimau Hitam


Rouyan terus melesat dengan cepat meninggalkan tempat tersebut. Tanpa menoleh kebelakang, dia terus berusaha untuk lebih jauh.


***


Sementara ditempat kejadian, beberapa sosok muncul. Ditengah hutan lebat yang seperti itu, cepat juga reaksi orang orang itu.


"hahaha,,, patriak sekte bulan merah cepat juga sampai sini" ucap seorang laki laki tua


"pemimpin iblis darah ternyata juga berharap dapat keberuntungan, whahaha" balas patriak sekte bulan merah.


Ditempat tersebut hadir juga yang lain. Namun semuanya hanya menemukan sisa sisa akibat dari kejadian itu. Lama orang orang itu memperhatikan bekas reruntuhan dari pohon yang terbakar.


Setelah mereka gagal mendapat manfaat yang diharapkan, semuanya membubarkan diri. Terdapat juga yang melesat kearah Rouyan pergi.


***


Rouyan yang telah jauh dari tempat tersebut, saat ini telah sampai disebuah kota yang cukup besar. Kota Hindau adalah kota tempat pemberhentian ketika memasuki benua tengah.


Memasuki perbatasan, Rouyan melalui pemeriksaan penjaga kota. Dia menggunakan identitas yang didapatnya saat tinggal diklan tian.


Dengan tenang dan tetap waspada, Rouyan berjalan menusuri jalan utama dikota itu. Tak mau terlibat dengan masalah, dia langsung memasuki sebuah penginapan yang dijumpainya.


Setelah membayar kamar yang disewanya, dia bergegas masuk kekamarnya.


"huuhhhh, siapa mereka" batin Rouyan saat didalam kamar. Ternyata instingnya mengatakan kalau ada yang menguntit saat melewati para penjaga.


Dengan tenang dia meletakkan giok dimensi dalam genggamannya. Lalu mulai bermeditasi dan mengedarkan penjagaannya. Seakan suara dan gerakan dipenginapan.tersebut, terus dalam pantauannya.


Sementara itu, Chuan maaih berada dalam giok dimensi. Didalam giok dimensi sudah tiga bulan lebih, Chuan merawat rubah putih. Sosok anak berusia dibawah lima belas tahun adalah perubahan sang rubah putih.


Chuan memanggilnya Luoaan, nama yang diberikan oleh raja rubah es. Percakapan keduanya terlihat akrab dan santai. Namun kalau benar benar memperhatikan raut wajah Luosan, tersirat rasa hormat pada Chuan.


"wusss,,,," terdengar hembusan dikamar penginapan yang disewa Rouyan.


"huhhhh" terdengar gumanan Rouyan seakan lepaa dari himpitan beban dan kekhawatirannya.


"kek" terdengar Luosan menyapa kakeknya


"hahaha" tawa Rouyan terdengar, namun tetes airmata terlihat setelahnya. Disusul tangannya yang segera memeluk cucu tercinta.


Chuan merasakan kebahagiaan yang terpancar pada keduanya. Diantara senyum yang tersungging dibibir Chuan, ada juga bulir airmata yang jatuh.


Disela rasa bahagia saat ini dan ketegaran Chuan selama ini, ada yang menggugah dalam hatinya.


"kapan aku terakhir merasakan pelukan seperti itu"


"namun saat itu bukan pelukan bahagia, namun perpisahan"


Terjadi kecamuk dihati Chuan. Perpisahan dengan sang ayah terungkit lagi. Pelukan saat dia hendak dijadikan persembahan seperti nyata yang tergambar dalam pikirannya.


"ayah,,, ibu,,, bahagialah diatas sana" batin Chuan dengan airmata jatuh tanpa disadarinya.


"maafkan kami" ucap Rouyan saat menyadari keadaan Chuan yang sedang linglung.


"maaf,,," terdengar ucapan Luosan yang bergegas memeluk Chuan.


Keheningan dikamar tersebut terjadi, namun suara jendela yang diterobos orang terdengar. Chuan dan yang lain menghapus airmatanya.


"hahahaha, tak perlu kalian takut" tawa sosok pria kekar terdengar. Keempatnya mengira Chuan dan yang lain menangis karena takut dengan mereka.


"siapa mereka kek" tanya Luosan sambil melepaskan pelukannya pada Chuan.


"sepertinya mereka hendak menjarah kita" jawab Rouyan


"siapa kalian" tanya Chuan yang raut wajahnya mulai terlihat tenang.


"tak perlu kalian tahu siapa kami, cukup serahkan giok itu dan harta kalian yang lain" ucap pria tersebut sambil menatap Rouyan.


"biarkan saja" ucap Chuan sambil menepuk pundak Luosan.


"whahaha, ternyata kau tahu diri juga" ucap pria gendut.


"pendatang muda ini cerdas juga, tak ada yang berani menolak keinginan harimau hitam" ucap pria kekar


"hahaha" terdengar tawa yang lain.


"bukan biarkan barang kami yang diambil, tapi biar Paman Rouyan yang menyelesaikan" ucap Chuan tetap tenang.


"jadi kalian gerombolan harimau hitam" ucap Rouyan pada keempat orang itu.


"hahaha, dia adalah adik dari pemimpin kami" ucap pria gendut sambil menunjuk sosok kekar disampingnya.


"sring,,, bukk" terdengar suara halus dan benda jatuh. Tanpa basa basi lagi, Rouyan bergerak dengan cepat. Terlihat pedang yang tiba tiba telah berada dalam genggamannya dan ada lumuran darah yang masih menetes.


"kau,,, kau,,," suara tiga pria tercekat. Adik pemimpin mereka terbunuh tepat didepan mata.


"ambil kepalanya dan jangan menyentuh kami bertiga lagi" ucap Rouyan tegas, sambil menunjukkan tahap kultivasinya.


Dengan rasa marah dan takut yang muncul dihati, ketiga pria itu gemetaran. Kepala yang telah lepas dari badannya, diambil pria gendut dan ketiganya melarikan diri.


"bersihkan paman" teriak Chuan sambil melesat mengikuti arah tiga pria tersebut.


"apa yang kakek lakukan" tanya Luosan yang melihat kakeknya, menyimpan mayat dan membersihkan bercak darah dilantai kamar.


Didunia luar akan lebih kejam dari semua yang kau lihat barusan. Ada saatnya kita harus bertindak tegas dan kejam. Diwaktu yang lain malah sebaliknya, menjadi santun dan penuh kasih sayang.


"dengan kakek dan saudara Chuan, kau akan belajar untuk itu" jelas Rouyan sambil terus membersihkan darah dilantai. Keduanya terus berbincang bincang sambil melakukan aktifitas tersebut. Sesekali membicarakan Chuan, mengungkapkan kekaguman dan hormat dalam kata kata mereka.


***


Chuan yang melesat mengikuti ketiga pria tersebut, kini sedang menyembunyikan keberadaannya. Diatas atap sebuah rumah yang besar, dia bersembunyi. Dirumah tersebut ketiga pria yang diikutinya masuk didalamnya.


"bangs***" teriakan marah terdengar menggema. Disusul dengan teriakannya mengumpulkan semua anggotanya.


"anjing dari mana yang berani mengusikku" bentak suara itu.


"tiap kali ada orang marah, kenapa harus anjing yang disalahkan" batin Chuan sambil tersenyum


Terdengar tiga orang menceritakan kejadian yang mereka alami. Disebutkan yang membunuh adik pemimpin, seorang pendekar suci. Dua pemuda yang mengikutinya masih ditahap bumi.


"kita punya dua pendekar suci, bahkan saudara angkatku ditingkat lima" jelas suara pimpinan gerombolan itu. Dia mengajak dua ratusan anak buahnya untuk mengepung penginapan yang dimaksud.


Selain anak buahnya, terdapat saudara angkatnya yang juga diajak serta. Dengan amarah yang menguasai mereka, kewaspadaannya sedikit longgar. Rombongan orang orang yang mengikuti dua pendekar suci keluar dari rumah besar tersebut.


Kewaspadaan mereka tertutupi oleh kemarahannya. Sehingga, Chuan yang mengawasi luput dari deteksi kedua pendekar suci.


"hutang darah dibalas darah dan nyawa dibalas nyawa" teriak pemimpin dalam amarahnya.


"semoga Paman Rouyan bisa mengatasinya, atau minimal mengulur waktu" batin Chuan sambil melihat kepergian orang orang itu. Dia melah melesat masuk kedalam rumah dengan memakai penutup wajah.


Beberapa anggota gerombolan yang ditinggal untuk menjaga rumah sekaligus markas mereka, dengan mudah dilumpuhkan oleh Chuan. Lalu dengan cepat, Chuan mengobrak abrik rumah tersebut.


Setiap kamar dan ruangan tertutup dijebolnya. Banyak barang berharga yang telah masuk dicincin dimensinya. Beberapa wanita didalam rumah diabaikan dan diusir untuk keluar. Bahkan didalam sebuah kamar terdapat beberapa wanita yang lebih muda sedang ketakutan.


"ambil semampunya kalian membawa, dan pergilah selagi masih ada kesempatan" ucap Chuan sambil melempar satu peti yang tidak terlalu besar berisi koin emas. Setelah menulis kata 'pendekar hitam' ditembok ruang utama, Chuan segera melesat pergi.


"hahaha, inilah markas gerombolan penjarah yang dijarah" guman Chuan sambil tersenyum kecil. Saat kebaikan dibalas kebaikan adalah hal wajar.


Namun kejahatan dibalas kejahatan adalah impas. Bukan sesuatu yang dibolehkan, atau dibenarkan. Tapi impas, jadi tidak ada yang benar diantara keduanya.


"hahaha,,,," tawa kecilnya terus terdengar saat melesat menuju penginapan.