
Kaisar Jing mengajak Chuan ketempat yang dimaksud. Chuan melihat permaisuri dan putrinya ikut dibelakang kaisar. Tabib He juga mengekor Tuan Qin juga.
"maaf pavilliun pil hanya boleh Tuan Qin Shi dan dua temannya" ucap Chuan santai
"aku perwakilan pavilliun pil dibenua ini" balas Tabib He
"jadi posisimu lebih tinggi dari Tuan Qin Shi" ucap Chuan
"Tabib He, kau keluar" ucap Tuan Qin Shi tegas
Dengan raut memerah karena amarah, dia melenggang keluar.
"maaf permaisuri dan tuan putri, boleh didalam asal tidak menyela apa yang aku lakukan" ucap Chuan setelah mengetahui dari Tuan Qin tentang identitas keduanya.
"kalian keluar" kata kaisar sambil melihat ratu selir dan putranya.
"yang mulia" bantah seorang ratu selir
"keluar" bentak kaisar.
Rombongan ratu selir dan putranya keluar dengan muka masam.
"Paman Rouyan, jaga pangeran dulu" ucap Chuan sambil menghentikan Tuan Ho dan Lin Xhuan yang memasuki tempat itu sambil mengangkat pangeran dengan hati hati.
Semua orang yang ada ditempat itu diam dan memperhatikan apa yang akan dilakukan Chuan. Kedua jari telunjuknya, secara cekatan membentuk pola. Saat telunjuk kanan diangkat, pola keemasan melayang ditengah tempat itu dan menghilang dilantai.
Kemudian Chuan bermeditasi mengeluarkan energi spiritualnya untuk memastikan keamanan tempat tersebut. Fluktuasi halus yang tersembunyi dirasakan Chuan dari sudut bangunan yang temaram.
"seperti ilmu bayangan naga" batin Chuan. Sembilan samar berputar diatas kepala Chuan.
"jiwa adalah pedang" teriaknya, lalu sembilan cahanya melesat seperti kilat kearah yang dimaksud.
"buugkk" terdengar benda jatuh dan muncul sesosok berpakaian hitam tergeletak disudut ruangan.
Api ungu muda dijentikkan Chuan, dan membungkus sosok itu. Dengan energi qinya Chuan mengangkat dan menunjukkan pada kaisar.
"pembunuh iblis darah" teriak Tuan Qin Shi
"tuan mengenalnya" tanya Chuan
"aku hanya tahu dari pakaian dan topeng yang dikenakannya, organisasi mereka sangat misterius" jawab Tuan Qin Shi
Tetap dengan energi qi, Chuan menyibak topeng dan tutup kepalanya.
"dia,,, dia,,, pengawal Pangeran Tian" teriak kaisar dan Tabib Ho karena terkejut.
"huhhh,,, penyusup bodoh" ucap Chuan sambil menguatkan api ungunya. Api yang semakin padat dan mulai mengompres sosok itu. Semakin lama semakin membulat dan mengecil. Saat sebesar kepala, terdengar letupan dari dalam api itu.
Ketika Chuan menghilangkan apinya, terlihat abu putih yang tersebar. Semua orang mematung dan linglung, melihat kekejaman Chuan.
"kalau kita tidak kejam, maka mereka akan lebih kejam dari kita" ucap Chuan membuat semua orang sadar.
Kemudian Chuan melanjutkan apa yang dikerjakannya. Dua puluhan batu roh tingkat rendah dilemparkan Chuan pada tiap simpul yang tergambar dilantai. Ditengah pola sebuah batu roh tingkat menengah dilemparkannya.
"baringkan pangeran ditengahnya" ucap Chuan dan ditindak lanjuti oleh Lin Xhuan.
"maaf, hanya batu tingkat rendah yang aku punya" ucap Chuan sambil menatap Kaisar Jing
"ohhh, kenapa tidak meminta padaku" ucap Kaisar Jing sambil tersenyum kecut.
"wah,,, belum apa apa sudah banyak permintaan" ucap Chuan sambil menggaruk kepalanya. Suasana tegang berangsur mereda, saat mereka mendengar celotehan Chuan.
"lalu, apa yang akan kita lakukan" tanya Tuan Qin Shi
"lha mana bahan dan alatnya" ucap Chuan balik bertanya
"ohh" guman Tuan Qin Shi kecut, lalu mengeluarkan bahan dan alat yang diminta Chuan.
Empat gelas kristal diletakkan didepannya. Seguci air dan dua belas pil emas dikeluarkan Chuan dari cincin naganya. Sepertiga gelas diisi air dan tiga pil ditiap gelas. Pil yang larut membuat warna air menjadi keemasan.
Api melesat dari jari Chuan dan membungkus keempat bahan satu persatu. Lalu keempatnya melayang diatas empat gelas tersebut. Chuan melakukan hal itu dengan serius.
Semua orang diam tanpa gumanan yang terdengar. Saat keempat bahan mencair, Chuan lalu memasukkan kegelas dibawah bahan itu melayang.
"wusss,, wusss,, wusss,, wusss" terrdengar bahan bahan yang tercampur dengan cairan keemasan.
"huuhhhh" dengusan Chuan menghela napasnya.
"sialll" ucap Tuan Qin Shi
"kami takut mengganggumu" balas Tabib Ho
"hihihi,,," terdengar juga tuan putri yang tertawa kecil saat mendengar pertanyaan Chuan yang konyol.
"Tuan Ho dan Komandan Xhuan, tolong lepas pakaiannya" ucap Chuan. Keduanya maju dan mengerjakan apa yang diminta Chuan dan setelah selesai segera kembali ketempatnya.
"Tuan Qin Shi, tolong minumkan sampai habis" lanjut Chuan sambil mengulurkan gelas berisi esensi darah. Tuan Qin Shi menerima gelas tersebut dan bergegas meminumkan pada pangeran. Sementara kedua temannya berdiri dengan serius diluar pola yang dipasang Chuan.
"karena tidak ada kursi, kenapa tidak duduk dilantai saja" seloroh Chuan
"kau,,," ucap Lin Xhuan menegurnya, takut kalau kaisar tersinggung
"sudahlah, tak apa apa" jawab Kaisar Jing dengan santainya duduk dilantai, dan diikuti oleh yang lain.
"oohhhh" guman Tabib Ho dan Lin Xhuan terkejut.
"duduk santai seperti ini lebih nyaman daripada disinggasana yang panas" kata Kaisar Jing sambil tersenyum
"sudah,, Chuan" teriak Tuan Qin Shi sambil keluar dari lingkaran pola. Ketiganya lalu menjauh dan duduk disebelah Kaisar Jing.
Chuan melompat dan berdiri diluar pola. Saat obat mulai beredar, dia menjentikkan energi spiritualnya untuk mengaktikan pola yang Patriak Lion sebut rune pengumpul energi. Pola tersebut mulai bersinar dan batu roh ditiap simpulnya berkedip.
Bagian tengah tempat pangeran terbaring bersinar lebih terang dan membungkus tubuh itu. Chuan mengangkat tubuh pangeran dan memposisikan berdiri.
Puluhan jarum perak dikeluarkan dari cincin naganya. Jarum yang melayang didepan Chuan segera melesat karena jentikan jarinya. Puluhan jarum menancap dititik titik tertentu pada tubuh pangeran.
Aliran energi dan aliran darah yang kacau ditubuh pangeran, terus dipantau Chuan dengan serius. Sesekali tangannya bergerak dan memutar posisi pangeran, sehingga kepalanya dibawah.
Satu jam telah berlalu, saat ini Chuan masih serius dengan apa yang dilakukannya.
"wes, wes, wes" terdengar pelan batu paling luar mulai hancur dan pola terluar terlihat samar.
Lewat dua jam, semua batu roh tingkat rendah telah hancur. Menyisakan batu roh tingkat menengah dipusat pola.
"huek, huek, huek" terdengar suara pangeran muntah.
Gumpalan darah hitam keluar dari mulutnya. Wajahnya masih terlihat pucat, namun matanya mulai terbuka. Setelah menatap Chuan dan tersenyum kecil, dia menutup kembali matanya.
Chuan mengetahui, kalau pangeran merilekskan semua instingnya dan membiarkan Chuan untuk mengobatinya.
"hahaha, baru kali ini rakyat kecil bisa menjungkir balikkan pangeran" tawa dan selorohan Chuan menggema. Namun tangan dan pandangannya tetap focus.
Semua orang menghela napas mendengar suara Chuan. Mereka menyadari kalau saat paling kritis sudah berlalu. Bahkan permaisuri dan putrinya terisak pelan.
Sudah tiga jam proses pengobatan yang dilakukan Chuan. Tangannya disentakkan dan puluhan jarum perak tercabut dan melesat masuk dicincinnya. Kemudian menurunkan pangeran tetap posisi terbaring.
"huhhh" helaan napas Chuan terdengar
"Paman Rouyan, tolong bantu pangeran untuk duduk" ucap Chuan. Rouyan segera bertindak dan membantu pangeran. Meskipun masih pucat, namun mata pangeran sudah terbuka dan senyum tipis tersungging dibibirnya.
Chuan mengambil cairan berisi sari lotus ungu dan menyerahkan pada pangeran.
"minum sampai habis dan berkultivasilah" ucap Chuan. Rouyan membantu pangeran minum dan segera meninggalkannya untuk berkultivasi.
Sementara pangeran berkutivasi, semua orang yang ada ditempat itu mulai tersenyum. Perasaan lega hadir dihati mereka. Tuan Qin Shi dan dua temannya menatap Chuan lekat lekat.
"ada apa tuan" tanya Chuan pada Tuan Qin Shi.
"siapa gurumu" ucap Tuan Qin Shi balik bertanya dengan serius.
"maaf aku tidak bisa mengungkapkannya" ucap Chuan
"ohhh, kenapa" tanya Tuan Qin Shi
"aku dan guruku bukan dari benua selatan" ucap Chuan
"hahhhh" semua orang berguman dan penasaran
"sebenarnya aku dari benua timur, guru dan kedua orang tuaku sudah tiada" ucap Chuan pelan
"apakah aku harus terus mengenangnya" ucap Chuan.