Pendekar Hitam

Pendekar Hitam
# Keranjang Obat


Cukup lama nenek hong sesegukan dalam tangisnya. Pelampiasan kebahagian memicu detak jantungnya semakin keras.


Dia berhenti menangis dan sekarang terdiam menahan sakit akibat racun yang mengendap diorgannya mulai bekerja.


"duduklah dilantai nek" ucap chuan sambil menuntunnya yang terlihat meringis menahan sakit.


"jangan dilawan nek, aku akan mengalirkan energi untuk menekan racunnya" lanjut chuan sambil menempelkan tangannya dipunggung nenek hong.


"pejam matamu nek, biarkan energiku mengalir ditubuhmu" kemudian chuan mengalirkan qinya.


Tak lama wajah yang sedikit pucat mulai pulih kembali. Raut tegang dan menahan sakit sudah tak terlihat lagi. Setelah dirasa cukup, chuan menyudahi dalam mengalirkan qi.


"terima kasih chuan" ucap nenek hong setelah berhadapan pada chuan. Air mata seakan tiada habis menetes. Tak kuasa menahan rasa bahagia, diapun memeluk chuan dengan erat.


"kamu bukan hanya cucuku, tapi juga dewa penolong bagi nenek" ucapnya lirih sambil terisak.


"duduk dulu nek jaga emosinya, jangan biarkan racun itu bereaksi lagi" ucap chuan sambil menuntun nenek hong duduk ditempat tidur.


Lalu dia kembali duduk dikursi panjang.


"bagaimana nek, besok mau ikut" tanya chuan memecah suasana.


"tak ada yang nenek harapkan didesa ini, nenek pasti ikut kemanapun perginya cucuku" jawabnya sambil tersenyum.


"sekarang istirahatlah nek, besok pagi kita akan melakukan perjalanan, sekarang aku akan meditasi dulu" ucap chuan.


"baiklah" jawabnya lalu merebahkan tubuhnya ditempat itu.


Chuan mulai bermeditasi dan masuklah dia diruang jiwanya.


"kenapa saluran energimu dihentikan" tanya patriak lion. "qi murniku sedikit beda" jawab chuan.


Dia tidak mau tahap pendekar yang sudah ditekannya diketahui. Biarlah nenek hong tidak terlalu berhutang budi padanya. Jelas chuan akan perbuatannya barusan.


"Seandainya sudah termurnikan maka efek racun tidak separah itu dan bisa dibersihkan dengan ramuan dibelakang rumahnya" lanjut patriak lion menjelaskan.


Dibelakang rumah ada kebun kecil yang ditanami berbagai tanaman obat. Ada beberapa jenis yang cukup langka sebagai penawar racun. Jika benar dalam komposisi saat meramunya, tanaman itu bisa menawarkan racun yang kuat.


Kelihatannya dia diracun secara perlahan sehingga sampai mengendap diorgan tubuhnya tanpa disadari. Bahkan perlu tambahan rumput emas untuk membersihkan racun yang ada organ tubuhnya.


Selain untuk itu rumput emas bisa digunakan jadikan pil energi emas. Dulu sekte besar menggunakan pil itu, saat murid intinya ingin memurnikan qi.


Nenek hong mulai memejamkan matanya. Senyum tipis terhias dibibirnya. Semangat hidup yang hampir padam kini bersinar kembali. Chuan sudah dia anggap sebagai cucu dengan sepenuh hati.


Sepinya malam karena chuan tenggelam dalam meditasinya. Nyanyian binatang malam serasa alunan merdu yang menina bobokan. Tetap dalam keceriaan hati, nenek hong mulai tenggelam dalam mimpi indahnya.


Malam panjang berlalu, sang fajar mulai mengintip dengan siluetnya. Chuan masih hanyut dalam meditasi.


Nenek hong yang sudah terjaga mulai aktifitasnya. Tanaman obat dan penawar racun dibelakang rumah dia panen semuanya. Beberapa tanaman yang mulai sulit didapat tak tersisa diambilnya.


Sedang beberapa tanaman obat biasa yang masih kecil dia sisakan. Dua keranjang bambu tanaman obat diangkatnya satu persatu, dibawa kedapur.


"eh chuan" sapa nenek hong saat melihat chuan melangkah kedapur, saat dia membawa keranjang yang kedua.


"apa mau dibawa semua nek" tanya chuan.


"iya dan nenek punya cincin penyimpanan kog" jawabnya sambil meletakkan keranjang yang dibawa.


Kemudian nenek hong berjalan menuju tempat tidurnya. Mengangkat dipan disalah satu kakinya dan mengambil kotak kecil yang terlihat sebagai ganjal penyeimbang dipan.


Nenek hong membuka kotak tersebut. Terlihat sebuah cincin dimensi didalamnya.


"ambillah chuan" ucap nenek hong.


"nenek saja yang bawa, aku sudah punya" ucap chuan sambil menunjukkan cincin dimensi dijari manisnya.