Pendekar Hitam

Pendekar Hitam
# Kabut Aneh


Wajah mereka semua terlihat serius dan tegang. Semua yang ada ditempat tersebut adalah pendekar suci awal. Enam diantaranya berada diatas tingkat lima. Pembicaraan mereka hanya focus pada satu nama 'pendekar hitam'.


Mereka semua adalah pemimpin cabang organisasi pembunuh iblis darah. Tewasnya banyak anggota mereka dan kehilangan sumberdaya yang cukup besar membuat mereka kebakaran jenggot.


"bagaimana penyelidikannya" tanya pemimpin organisasi. Satu persatu mulai melaporkan hasil mereka, namun nihil dalam penilaiannya. Tak ada gerakan dari para telik sandi kekaiasaran. Begitu juga dengan sekte besar atau klan utama.


Tentang pemuda bernama Chuan juga tidak ada berita dalam dua bulan ini. Dia adalah tetua satu dari sekte hutan suci dan seorang alkemis. Beberapa waktu yang lalu sebuah suku gunung membuat kebun obat karena dia. Sepertinya pemuda tersebut masih tenggelam dihutan belantara. Untuk berburu bahan obat langka.


"apa kecurigaan kita padanya salah" ucap kepala cabang.


"semua pihak pantas untuk dicurigai" Pemuda itu jalan bersama dua orang dan paling lama dua hari dia singgah disatu penginapan.


Saat diperbatasan memang dia menginap ditempat tersebut. Tapi postur tubuh dua orang itu sedikit berbeda. Dan Chuan serta dua lainnya juga menghilang sebelum kejadian tersebut.


"baiklah saat bertemu lagi dengannya, pastikan untuk menyusupkan orang bagaimanapun caranya" ucap pemimpin tersebut. Perbuatan Chuan dan Rouyan yang acak membuat mereka kebingungan melacaknya.


Saat ini Rouyan yang memakai identitas tersebut dengan hati hati saat melancarkan aksinya. Memang secara kebetulan, sekte dan penguasa yang disatroni Rouyan sebagian besar mengunakan jasa organisasi tersebut.


Selama tidak bersama Chuan, dia sering menghabiskan malam dikedai arak atau dialam liar. Dari kedai arak atau rumah makan kecil, dia mencari informasi untuk terus melancarkan terornya.


Saat ini, beberapa sekte golongan hitam mulai resah. Juga para penguasa yang arogan mulai was was akan keselamatan dirinya. Disisi lain banyak juga sekte, klan, serta penguasa yang baik, ingin merangkul pendekar hitam.


Dalam beberapa hari ini Rouyan tidak melancarkan aksinya. Insting dan kewaspadaannya, merasakan ada dua atau tiga orang yang selalu mengawasinya. Bukan takut pada mereka, tapi dia menjaga agar identitasnya tidak terbongkar.


Siang berganti malam. Didalam sebuah kedai arak, Rouyan menyelinap lewat pintu belakang. Dia terus melesat menembus pekatnya malam. Arah zig zag dan selalu berubah, dia berusaha menghindari penguntitnya.


Tiba didaerah berbukit, dia terus melesat dengan cepat. Menemukan sebuah gua kecil dia segera memasukinya dan membuat api unggun saat telah didalamnya.


Malam dilalui dengan tenang. Dia mencoba menghubungi Chuan dengan mengalirkan energi spiritualnya.


"hahaha, ada apa paman" terdengar suara Chuan bersamaan dengan dua siluet yang muncul.


"sialan, sudah berapa tahun kalian berlatih" ucap Rouyan.


"maaf kek, kami keasyikan berlatih" ucap Luoyan.


"sampai mana perkembangan kalian" ucap Rouyan.


"tahap suci awal sempurna" jawab Luoyan. Menurut Kak Chuan, dia berada ditahap tersebut. Namun dia melarangnya untuk menembus tahap selanjutnya. Kedua tehnik sudah dikuasainya, serta Chuan membantu menggabungkan dua tehnik tersebut.


Sementara Chuan sudah berhasil menguasai tehnik yang baru, serta telah menggabungkan dengan ilmunya. Yang membuat keduanya lama dalam giok dimensi karena energi didalam bagus buat kultivasi.


Inti batu roh dapat mencukupi kebutuhan energi yang dibutuhkan pohon dewa. Dengan menyerap energi dari inti batu roh, pohon tersebut tumbuh dengan pesat. Saat ini pancaran energi yang murni mulai disebarkan oleh pohon tersebut.


Tanaman obat yang ada juga kian subur dan beberapa buah roh sudah mulai matang. Sedang tahap kultivasi Chuan juga naik ketingkat delapan.


Obrolan ketiganya terus berlanjut. Tanpa disadari pagi mulai menyapa.


"ada beberapa orang yang mengikutiku dari kemarin" ucap Rouyan dipagi hari.


"baiklah, kita melanjutkan perjalanan sambil mencari tanaman obat sebagai kedok" ucap Chuan


Ketiganya menekan tahap kultivasinya. Orang lain yang tahap kultivasi berada dibawah ketiganya, akan melihat mereka ditahap bumi.


Dengan santai ketiganya menyusuri hutan sambil memegang pedang tumpul ditangannya. Sesekali mereka membongkar tanaman obat dan menyimpan dicincinnya.


Senja mulai menyapa, Rouyan telah pergi kehutan sendirian. Ketika kembali dia membawa binatang buruan. Chuan dan Luosan menyiapkan kayu bakar untuk memanggangnya.


Sambil menunggu Rouyan memanggang binatang tersebut, Chuan dan Luosan memilah tanaman obatnya. Untuk sementara tanaman obat tersebut dipisahkan menjadi dua. Yang satu untuk dibudidayakan, sisanya untuk dijadikan pil.


Setelah menyimpan tanaman yang akan dibudidayakan, Chuan mulai serius mengelompokkan bahan obat. Kemudian mulai membuat pil ditempat itu juga.


Kelima orang yang memperhatikan dari jauh terus mengikuti sampai saat ini.


"sudah kau rekam aktifitas mereka"


"beres"


"pantas saja mereka tidak kita temukan dikota"


"hanya orang gila seperti mereka yang begitu bergembira ditempat seperti ini"


Mereka berlima membicarakan Chuan dan dua orang lainnya. Berburu tanaman obat, membuat pil dan tidur dialam liar. Kegiatan yang membosankan bagi kelima orang tersebut. Namun Chuan dan yang lain begitu menikmati.


Ketiganya terlihat tanpa beban dan selalu bercanda tawa. Mereka berlima tidak menyadari siasat yang diperlihatkan Chuan. Akting Chuan dan dua lainnya begitu sempurna dalam mengelabuhi dan memperdaya kelima orang itu.


Saat malam mulai datang, para pengintai tersebut akhirnya pergi meninggalkan tempatnya. Sedang Chuan dan yang lain masih terlihat asyik dengan kegiatan mereka.


Beberapa pil nutrisi dan penawar racun telah selesai dibuat oleh Chuan. Kedua jenis pil diberikannya pada Luosan. Sedangkan beberapa bahan lain yang belum lengkap disimpannya.


Ketiganya menikmati daging panggang sambil berbincang bincang. Karena mengetahui para penguntit telah pergi, mereka membicarakan rencananya. Malam tersebut, ketiganya akan melanjutkan mencari letak sekte tua. Chuan juga ingin keduanya menyelidiki kekuatan didaerah liar tersebut.


Malam pekat yang ditunggu telah tiba. Ketiga sosok melesat menuju daerah utara. Bayangan mereka tersamarkan oleh gelapnya malam.


Hari terus berganti, dan minggu berganti bulan. Chuan dan dua lainnya telah melintasi beberapa desa dan kota kecil. Pagi ini ketiganya menyisir sebuah perbukitan. Kabut tipis menghalangi pandangan mereka.


"kabut yang aneh" ucap Rouyan sambil mengajak keduanya berhenti.


"ada apa kek" tanya Luosan


"sepertinya kita sampai ditempat tujuan" ucap Rouyan.


Sementara Chuan yang menyadari keanehan tempat tersebut dia mulai bermeditasi. Sedang Rouyan mengingatkan Luosan agar mereka bertiga tidak terpisah satu sama lainnya.


Chuan semakin tenggelam dalam meditasinya. Energi spiritualnya diedarkan untuk memecahkan keanehan yang ada. Namun tekanan balik yang diterima Chuan juga semakin besar.


Ada semacam energi yang menolak dan memantulkan kembali energi spiritualnnya. Sebuah tempat yang unik, sepertinya tidak sama dengan pola formasi yang dipelajari sebelumnya.


Bangun dari meditasinya, Chuan sempat linglung. Namun sapa Rouyan menyadarkannya.


"kita terus berjalan kedepan, sepertinya tidak ada bahaya dalam formasi ini" ucap Rouyan.


"tapi kita tidak bisa mengedarkan energi apiritual ditempat ini" ucap Chuan


"hahaha" tawa Rouyan terdengar. Dia lalu menjelaskan kalau ras rubah mempunyai cara sendiri untuk hal tersebut. Setiap ras binatang akan mempunyai insting yang kuat disaat saat seperti ini.


Mendengar penjelasan Rouyan, Chuan hanya bisa tersenyum kecut.


"huh,,, kenapa tidak bilang dari tadi" gerutu Chuan.