
Ceiyun dan Teysan sudah datang ketempat Chuan dan yang lain tinggal. Keduanya bingung, bagaimana membawa anak anak itu. Dua kereta kuda yang disediakan walikota tidak mampu menampung semuanya.
Chuan lalu menjelaskan, dirinya dan yang lain akan berkuda saja. Maka biarkan dua kereta itu kembali saja. "baik, kami berdua juga akan berkuda denganmu" ucap Teysan.
"tunggu kami mengambil kuda" ucap Ceiyun dan keduanya segera pergi.
Pagi mulai beranjak siang, terlihat barisan anak anak berkuda melintas dijalanan. Ceiyun dan Teysan didepan sebagai penunjuk jalan untuk anak anak, sedang Chuan, tetua dan yang lain dibelakang.
Memasuki gerbang kediaman walikota, rombongan anak anak berkuda mengejutkan undangan yang lain. Petugas yang sudah diberitahu kalau rombongan anak anak, adalah tamu penting walikota. Mereka dengan ramah menyambutnya.
Kebiasaan melepaskan kuda seenaknya membuat beberapa pengurus kuda dikediaman walikota kebingungan.
Chuan memberitahu pengurus kuda agar membawa kuda mereka ketempat latihan dan melepaskannya tanpa terikat. Kebingungan mereka teratasi saat beberapa anak membantunya.
Setelah rombongan Chuan berkumpul semua, petugas keamanan mengantar mereka keruang pertemuan. Duduk dideret depan menghadap para undangan ada walikota, kedua istri dan tiga anaknya.
Sedang Chuan ditemani dua penatua yang tak asing bagi dia. Penatua klan dan keluarga sudah asyik ditempat duduknya. Para tetua sekte utama dan beberapa murid terlihat hadir. Dan beberapa kepala desa diwilayah klan chu juga ada.
Rombongan anak anak dengan suara khasnya membuat beberapa orang yang telah duduk dikursi masing masing terusik. Pandangan sinis dan geram nampak dibeberapa wajah.
Selain Tetua Zhao dan yang disebelahnya, tiga tetua lain tampak menahan emosinya, dengan kegaduhan yang terjadi.
"silahkan saudara Chuan rombongan menempati kursi yang kami sediakan" ucap seorang penatua yang menemaninya. Tak lama suara anak anak mulai tenang dengan sendirinya.
"terimakasih atas kehadiran semua tamu undangan" ucap walikota sambil berdiri.
"aku mengundang kalian semua sebagai ungkapan kebahagiaan atas kesembuhanku" lanjutnya mulai menjelaskan.
Atas usaha Chuan dan teman temannya, dia sembuh dari sakit yang beberapa tahun ini menyiksanya. Sebagai hadiahnya maka walikota memberikan hutan diutara seluas 150km2 untuk dikelola mereka. Dan juga janji dari istrinya akan menikahkan anak gadisnya dengan Chuan.
"ayah!!!" terdengar teriakan anak gadis walikota. Kegaduhan juga terdengar juga dikursi rombongan para tetua sekte utama.
"tenang semuanya" seorang penatua berteriak dengan tenaga dalam membuat suasana seketika sedikit tenang. Semuanya tenggelam dalam pikiran masing masing.
"ada apa" tanya walikota pada anak gadisnya.
"tak pantas pemuda miskin dan jelek itu untukku" jawab gadis itu. Ucapan itu membuat beberapa orang tersenyum lega.
"kamu yang tak pantas buat kak Chuan" teriak Lumonk marah sambil menunjuk gadis tersebut.
"iya dia yang gak pantas"
"sombong"
"gak tahu terima kasih"
"tak sumpahi gak ada yang mau sama dia" sahut beberapa anak kesal.
"anak anak tenang dulu" ucap chuan santai dengan sedikit tenaga dalam, lalu dia berdiri.
"maaf atas sikap anak anak itu, dan mohon anak anak yang lain tidaklah bijak untuk menimpalinya" ucap Chuan dengan lantang.
Walikota dan yang mendukungnya hanya tersenyum mendengarnya. Sedang yang lain terlihat geram menahan marah.
"whahaha, anak anak usia 50th dan 100th" celetuk Tetua Tian tak dapat menahan tawanya. Disambut tawa kecil rombongan Chuan yang lain
"tetua" tegur Chuan
"maaf" ucapnya sambil memandang Chuan.
"maaf tuan walikota, kami membantu anda tanpa harap imbalan apapun" jelas Chuan.
"mengenai hutan diutara seandainya ada yang keberatan pihak chuan siap dengan segala administrasinya" lanjutnya.
Beberapa tetua dan penatua menyuarakan interupsinya.
Kata kata Chuan dianggap sombong bagi undangan yang dari awal sudah sinis padanya. Namun wajah walikota yang mulai memerah, membuat mereka bungkam.
"tidak Chuan, segala dokumentasi dan surat lain sudah kami siapkan" ucap walikota.
"Tetua Zhao" lanjutnya memanggil Tetua Zhao.
Tetua Zhao lalu mendekat pada walikota, dan menerima sebuah amplop besar untuk diserahkan pada Chuan. Dengan tenang Chuan menerima amplop dari tangan tetua Zhao.
"terimakasih tetua" ucap Chuan pelan.
"sama sama chuan" balasnya.
"semua sudah didalamnya, untuk penolakan anakku harap Chuan bisa bijaksana" ucap walikota.
"aku hanya ingin, janji tuan putri agar tidak merubah penolakannya dilain waktu" ucap chuan membuat para undangan terdiam.
"baik" ucap anak gadis walikota.
"aku tidak akan menarik penolakannku selamanya, lebih baik disambar petir daripada menikah denganmu" lanjutnya dengan tegas dan arogan.
Keheningan tercipta karena mereka terkejut dengan ucapan berani putri walikota.
"jderrrr, jderrrr ,jderrr" terdengar tiga kali petir menyambar.
Kengerian terlihat diwajah beberapa orang. Janji yang terucap sederhana telah menjadi janji suci. Bahkan walikota hanya tertunduk diam
NB ,,,, maaf terlambat update ,,,, ada gangguan kesehatan ......