Pendekar Hitam

Pendekar Hitam
# Seperti Yang Paman Lihat


"hehehe" tawa kecil Chuan terdengar melihat keakraban dalam kunjungan mereka. Sedang walikota dan yang lain hanya tersenyum.


"maaf, ada keperluan apa paman Liong, para penetua dan tetua sekte, mengunjungi gubuk kami" ucap Chuan. Pertanyaan keluar setelah cukup lama mereka berbincang bincang ringan.


"sebenarnya kami ingin bantuanmu" jelas walikota. Kemudian dia menceritakan semuanya dan juga menyerahkan beberapa lembar kesaksian hasil interogasi pagi tadi. Hasil kesepakatan mereka juga disampaikan ke Chuan.


"sepertinya para tetua mampu untuk itu" ucap Chuan setelah mendengar penjelasan walikota.


"tapi ketiganya ditahap pendekar bumi, bahkan tetua dua diatas tahapan kami" ucap tetua satu sedikit ragu karena tidak melihat keistimewaan mereka.


"tetua tian dan yang lain, lepaskan" ucap Chuan. Energi dari tujuh orang tahap bumi dan seoarang tahap langit membuat keringat dingin tetua satu dan yang lain keluar. Bahkan tekanan tetua tian membuat mereka sulit bernafas.


"kog lama apa Tetua Tian mau menghancurkan rumah ini, whahaha" ucap Chuan santai. Semuanya menyembunyikan kembali ke tahap mahir.


"Chuan,,,," ucap walikota setelah menenangkan diri.


"ada apa paman" tanya Chuan.


"tahap mereka,,," ucap walikota.


Chuan menjelaskan Tetua Tian tahap langit, sedang yang lain tahap bumi, bahkan nenek yang dibelakang juga tahap bumi.


"kalau kamu" lanjut walikota.


"seperti yang paman lihat" ucap Chuan santai.


"tapi kau,,, " ucap tetua satu penasaran.


"para tetua terlalu baik padaku, jadi energinya dikesampingkannya" ucap Chuan tapi tetap membuat semuanya penasaran, bahkan Tetua Tian juga terlihat sedikit ragu.


"baik nek" balas Chuan.


"kami ada sedikit jamuan sederhana, harap semua berkenan keruang dalam" ucap chuan. Walikota mengajak penatua dan tetua untuk menghormati tuan rumah. Saat masuk diruang tengah terlihat olahan ikan segar yang menggiurkan. Juga banyak guci arak tersedia diantara hidangan itu.


"ini sederhana, katamu" ucap Tetua Zhao.


"hehehe ini tak ada apa apanya dibanding jamuan walikota saat itu, silahkan dinikmati" ucap Chuan.


Mulailah bergantian mengambil sesuai porsi masing masing. Walikota yang biasa dilayani dengan santai mengambil sendiri makanannya. Juga tercipta percakapan hangat disela sela menikmati hidangan yang ada.


Sementara mereka yang diluar juga mendapatkan jamuan yang sama. Sikap anak anak yang terbuka membuat murid dan pengawal walikota semakin akrab. Bahkan beberapa murid yang pernah kalah dalam latih tanding tak malu bertanya tentang metode latihan mereka. Garis besar cara berlatih mereka disampaikan lumonk dan temannya.


Malam semakin gelap, rombongan walikota beranjak kembali kekediaman masing masing. Kesanggupan Chuan dan para tetua untuk datang membuat beban walikota dan yang lain seakan terselesaikan. Chuan dan yang lain merasa senang dan puas, dapat menjamu tamu mereka dengan baik.


Malam semakin pekat, anak anak telah terbuai dalam mimpinya. Chuan, para tetua, nenek dan bibi fei sedang santai dan bercanda ria. Selain nenek dan bibi yang beristirahat duluan, semuanya asyik sampai pagi. Sang mentari sudah menampakkan kegagahannya. Anak anak tetap berlatih fisik sambil membawa kuda untuk dilepaskan ditepi hutan tempat latihan mereka. Pagi ini Nenek Hong dan Bibi Fei yang mendampingi mereka.


Sedang Chuan dan para tetua bersiap menuju kediaman walikota.


"bagaimana kalau kita berjalan kaki saja, sambil menikmati hari hari terakhir kita dikota ini" ucap Chuan. "begitu juga lebih baik" ucap Tetua Tian.


Kemudian dengan santai rombongan itu mulai menyusuri jalanan kota. Senyum dan sapa para warga yang sudah mengenal mereka terdengar disepanjang jalan. Saat hari sudah beranjak siang, mereka sampai digerbang kediaman walikota.


Ketika Chuan mengetahui pertemuan dilakukan diaula besar klan chu, maka Chuan menolak ketika para pengawal memintanya singgah dirumah walikota. Semua penatua dan tetua sekte utama sudah hadir, dan duduk didepan menghadap kursi para undangan.


Dikursi undangan para kepala desa dan perwakilannya. Juga beberapa pengusaha dan kepala cabang serikat. Murid Tetua Zhao ditugasi mengamankan ruang pertemuan. Beberapa murid mengarahkan Chuan dan para tetua supaya duduk didepan.