Pendekar Hitam

Pendekar Hitam
# Klan Han


Chuan meninggalkan pinggiran kota dan menuju sekte pedang naga. Sementara Jenderal Erlong yang menerima surat dari Chuan yang dititipkan pada seorang prajurit khusus juga bergegas menuju tempat yang sama.


Ruang pertemuan sekte saat ini duduk tujuh orang saling berhadapan mengelilingi meja.


"ada apa kau mengumpulkan kami" tanya Jenderal Erlong.


"wah,,, ternyata paman semakin sibuk yaaa" balas Chuan


"maksudnya" ucap Erlong.


"untuk sekedar minum arak dan bersantai sehenak, harus mempunyai alasan" goda Chuan.


"aku kira ada situasi yang sangat penting, whahaha" ucap Erlong sambil tertawa. Hilang sudah ketegasan dan ketegangannya.


"ohhh,,,"


"hahaha" gumanan dan tawa terdengar dari para sesepuh yang saat ini lebih senang dipanggil tetua sekte pedang naga.


Dua murid sekte masuk dan membawa arak untuk mereka.


"silahkan menikmati araknya" ucap Tian Wu.


"terima kasih tetua" balas Erlong.


Mereka bertujuh dengan santai menikmati arak yang disuguhkan. Perbincangan tentang situasi yang berkembang juga disampaikan kepada Chuan. Bahkan Kaisar Jing meminta Jenderal Erlong untuk memberi laporan perkembangan pada Chuan.


Lingkup pejabat, ratu selir dan para pangeran membuat kaisar menjadi berhati hati dalam mengambil sikap dan keputusannya. Mereka sudah terlalu dalam menancapkan pengaruh didalam kekaisaran. Sehingga jika Kaisar Jing salah dalam memutuskan suatu hal akan berakibat kerusuhan yang meluas. Selama Chuan tidak ada, Jenderal Erlong melaporkan segala situasi pada Putri Meilin.


Rouyan, Erlong dan empat tetua menyampaikan semuanya secara gamblang. Ternyata selain klan tang dan chao, semua berharap pada pangeran Jing Feng menyelesaikan pelatihan tertutupnya.


Sudah hampir setahun, sang putra mahkota belum muncul dari kultivasi tertutupnya. Karena tempatnya dirahasiakan, membuat mereka tidak mengetahui perkembangan sang pangeran.


Saat senja datang, Chuan mengakhiri acara santai tersebut.


"ada berapa prajurit khusus ditempatmu" tanya Chuan.


"dua puluh orang" jawab Erlong.


"baiklah, nanti malam bawa mereka ketempat ini" ucap Chuan.


"baik, ada lagi yang lainnya" ucap Erlong.


"cukup, aku ingin minum arak dengan mereka" lanjut Chuan lalu pamit dan segera melesat meninggalkan ruangan tersebut.


Kebiasaan Chuan yang seenaknya sendiri membuat kelima orang ditempat itu hanya menggelengkan kepala. Cuma Rouyan yang memahami karekter Chuan.


"maafkan sikapnya yang seperti itu" ucap Rouyan.


"hahaha,,, Tetua Rouyan tak perlu merasa tak enak hati" jawab Tian Wu.


"itu sudah mendingan dia pamit, lha kemarin aku diajak kekamp pelatihan" ucap Erlong. Saat hendak kembali kekota, Chuan sudah hilang dari tempat tersebut tanpa ada yang tahu.


"whahaha,,,," terdengar mereka menertawakan kesialan Jenderal Erlong.


Tak lama, mereka akhirnya kembali keaktifitasnya masing. Dan berjanji kalau nanti malam berkumpul lagi, karena ingin mengetahui keusilan apa yang akan dilakukan Chuan.


Hari sudah beranjak malam. Chuan dan Meilin sedan mengunjungi Kaisar Jing. Keduanya membawa berita tentang situasi diperbatasan. Meskipun sedikit emosi, Kaisar Jing memberikan beberapa usulan dan menjadi perintah untuk mereka berdua.


Chuan dan Meilin menyanggupi titah kaisar. Namun yang paling ditekankan oleh kaisar, adalah keduanya jangan membuat rakyat resah. Mereka berdua diminta menyelesaikan orang orang tersebut, sebelum memasuki perbatasan.


Malam semakin larut, Erlong, para tetua dan dua puluh prajurit khusus sudah menunggu kedatangan Chuan.


"ini beneran atau kita lagi dikerjain" tanya Erlong pada Rouyan


"mana aku tahu" jawab Rouyan sambil mengambil guci arak didepannya.


"salam semuanya,,, maaf terlambat" sapa Chuan saat melangkah memasuki tempat tersebut.


"salam tuan muda" jawab mereka.


"apa Paman Han kenal dengan komandan Han Cun dari benua timur" tanya Chuan


"iya" jawab Han San. Dulu Han Cun adalah anak dari tetua klan han dibenua timur. Orang tuanya kena musibah dan meninggal ditangan perampok. Dia dirawat oleh seorang saudagar ebih dari sepuluh tahun. Dan akhirnya patriak klan menemukannya. Saat ini dia bukan lagi komandan tetapi sudah menjadi jenderal.


"hubungan dengan paman apa" lanjut Chuan.


"kami terhubung garis keturunan" ucap Han San. Memang komunikasi klan didua benua terjalin baik, namun masing masing setia pada kekaisaran ditempat mana mereka berada.


Apalagi klan han dibenua timur adalah klan keluarga kaisar. Kekaisaran Han yang berkuasa saat ini. Mereka pernah memanggil keluarga klan han yang tersebar. Namun semua cabang menolak karena ingin berkembang secara wajar. Tak ada kemarahan saat itu, dan mereka malah memberi jaminan seandainya ada generasi yang berbakat diminta bergabung untuk disiapkan sumberdaya baginya.


"klan chao juga berpusat dibenua timur, apa itu benar" tanya Chuan.


"iya, mereka termasuk klan bangsawan yang mempunyai prajurit sendiri" ucap Han San. Mereka menguasai sebuah tambang baja, karena alasan tersebut pihak kekaisaran mengijinkannya membentuk barisan prajurit untuk keamanannya.


"gejolak di Kekaisaran Jing semakin menggeliat" jelas Chuan. Khawatir kalau ada pergerakan dari klan chao di Kekaisaran Han. Maka perlunya antisipasi dan kewaspadaan.


"bisakah Tetua Han meminta bantuan Jenderal Cun memantau pergerakan mereka" ucap Chuan berharap.


"baik, aku akan melakukan perjalanan" ucap Han San.


"apa tidak berbahaya kalau salah satu dari kita meninggalkan kekaisaran" ucap Hu Long.


"iya apalagi kita masih meraba raba kekuatan mereka" tambah Gin Yan.


"sepertinya untuk beberapa waktu tidak ada yang perlu dikhawatirkan" ucap Chuan.


"baiklah, apa tetua perlu pengawal untuk kesana" ucap Erlong.


"sepertinya lebih aman kalau sendiri dan menyamar" jawab Han San.


"kapan paman berangkat" tanya Chuan.


"malam ini, lagi pula apa yang ditunggu" balas Han San


"sampaikan salamku, Chuan dari desa pesisir" ucap Chuan sambil menyodorkan sebuah lencana pada Han San.


"lencana teluk sandi kekaisaran" ucap Han San terkejut.


"hahhhhh"


"siapa kau sebenarnya" gumanan dan pertanyaan spontan keluar dari mereka yang ada ditempat tersebut.


"whahahaha,,,, tak perlu kaget seperti itu, aku tetap Chuan dari sekte hutan suci" jawab Chuan. Memang dia punya identitas lain, yaitu Chuan seorang pemuda dari desa pesisir.


"hahaha,,, hanya kau keluarga Kaisar Jing yang tidak diketahui identitas sebenarnya" tawa dan ucapan Erlong terdengar. Bahkan telik sandi dan pengawal pribadi kaisar tidak dapat menemukan identitas aslimu.


"itu salah kaisar tidak mau bertanya langsung padaku" balas Chuan sekenanya.


"whahaha"


"hahaha"


"hahaha" tawa terdengar dan mengubah suasana tegang menjadi sedikit rileks.


"baiklah, selanjutnya untuk Paman Rouyan" ucap Chuan. Mulai malam ini, Rouyan diminta untuk mencari kesampatan buat menjarah sumberdaya yang dimiliki klan tang dan chao. Jika sumberdaya mereka hilang maka rencana makarnya secara otomatis akan berantakan.


"wah,,, itu serahkan padaku" jawab Rouyan.


"Jenderal Erlong dan tetua yang lain tolong terus memantau situasi yang berkembang" ucap Chuan, sambil menyodorkan surat dari Kaisar Jing. Dua buah surat mandat, satu untuk Jrnderal Erlong dan yang lain untuk tetua sekte pedang naga.


Dalam mandat tersebut, kedua belah pihak boleh mengambil kebijakan untuk keamanan kekaisaran. Ada tambahan buat sekte pedang naga, yaitu membantu menjaga keselamatan rakyat.


"untuk pasukan khusus, malam ini ikut denganku" ucap Chuan.


"siap, tuan muda" jawab mereka.


"ini bukan latihan atau sekedar uji coba" jelas Chuan. Lalu melanjutkan berita yang didapatnya.