
Beberapa penginapan sudah diboking oleh sekte sekte yang ikut berpartisipasi. Tetua Gun lalu menuju kantor pusat balai lelang mutiara. Sebuah bangunan yang berdiri megah, mereka datangi. Meskipun berpenampilan sederhana, mereka disambut baik oleh para penjaga dan pelayan balai lelang.
"kami dari sekte hutan suci menyampaikan surat untuk Tuan Tian Sun" ucap Tetua Gun.
Seorang pelayan berjalan cepat keruang belakang setelah Tetua Gun memberikan surat yang Chuan titipkan. Tak berapa lama, pelayan tadi keluar bersama seseorang. "selamat datang tetua, maaf kalau penyambutan kami kurang berkenan" ucap Tian Sun yang sudah mengenal Tetua Gun dan yang lain. Sudah beberapa kali dia berkunjung kesekte hutan suci. Maka, dia mengenal para tetua dari sekte tersebut.
"hehehe, tak perlu seperti itu" ucap Tetua Gun. Tian Sun lalu mengajak para tetua kerumah dibelakang balai lelang. Sebelumnya dia berpesan pada pelayan balai lelang untuk mengantar para murid, setelah puas melihat semua pajangan dibalai lelang.
Tanpa diketahui yang lain, Chuan juga menyusul mereka dikota Liong_an. Dengan santai dia mendatangi sekte macan putih. Sungguh sekte yang besar. Beberapa penjaga sedikit arogan menanyai Chuan. Dia menyampaikan untuk bertemu Tetua Shusin. Namun tidak menunjukkan lencana yang dibawanya, karena ingin mengetahui sifat dan karakter para murid sekte tersebut.
"hai, untuk bertemu tetua harus ada janji dulu"
"aku sudah ada janji untuk bertemu" sahut Chuan santai. Suasana pagi, saat yang lain mulai beraktifitas. Kini mulai berkumpul karena mendengar hardikan keras empat murid yang sedang tugas jaga. Seorang berpakaian tetua datang melihat kejadian tersebut.
"wakil tetua" jawab murid serempak.
"ada apa" ucapnya pada murid yang sedang menonton. Seorang murid menceritakan semua yang sedang terjadi. Dia terkejut melihat siapa yang datang dan mendekati keempat penjaga.
"plak, plak, plak, plak" tamparan mendarat dikeempat murid jaga, membuat mereka terhuyung.
"maaf atas sikap para murid" ucapnya sambil membungkukkan badan. Tak ada murid sekte ditempat itu yang tidak tertegun. Wakil tetua yang sangat dihormatinya membungkukkan badan untuk orang ini.
"wakil tetua, anda,,," seru keempat murid yang ditamparnya.
"kenapa,,," serunya. "aku tahap mahir, sedang dia hanya tahap menengah" ucap seorang murid protes.
"jangan mentang mentang anak dari keluarga utama diklan tian kau jadi sombong, kalau tidak terima lapor sana pada Tetua Shusin" ucapnya tegas.
"baik" balas murid tersebut sambil berlalu.
"wakil tetua, sudahlah jangan diperpanjang" ucap Chuan pelan.
"panggil saja Wang Qin, tak pantas dipanggil seperti tadi" ucap Wang Qin sambil mengajaknya masuk.
"dia orangnya, tetua" teriak seorang penjaga yang tidak terima dengan tamparan Wang Qin.
"selamat datang saudaraku" sapa Tetua Shusin hangat.
"wah sulit juga untuk bertemu tetua" ucap Chuan.
"maaf, Chuan" ucap Tetua Shusin.
"tak pantas kalian ikut pelatihanku" ucap Tetua Shusin pada empat penjaga yang mengadu padanya. Chuan lalu diajak masuk kekediaman Tetua Shusin bersama tiga wakilnya. Sedangkan empat penjaga tetap terpaku lemas dihalaman depan. Para murid Tetua Shusin yang sudah bertemu dengan Chuan, saat ini menjadi wakil tetua.
"selamat untuk semuanya" ucap Chuan saat mereka berlima duduk diruang dalam.
"untuk apa Chuan" tanya Tetua Shusin.
"pendekar langit dan bumi, suatu pencapaian yang luar biasa" balas Chuan.
"whahaha, kau jangan mengejek kami" ucap Wang Qin.
"mana ada pendekar menengah tahu tahapan langit" ucap Tetua Shusin.
"iya ya, mana ada semut bisa mengintip gajah, whahaha" ucap Chuan.
"menginaplah disini, ada yang mau bertemu denganmu" ucap Tetua Shusin. "wah, kalau fasilitas seperti ini sewanya pasti mahal" usil Chuan.
"mulutmu tetap usil yaa"
"hehehe, hanya berkunjung atau ada tujuan lain dikota ini"
"hehehe, sebenarnya aku bersama murid sekte yang ikut seleksi turnamen kekaisaran"
"mana yang lain"
"dibalai lelang mustika"
"baiklah, biar Xiantan dan Xiansan yang menjemput mereka"
"tak perlu tetua, mereka tak tahu aku kesini"
"hehehe, biar mereka berdua yang mengurus pendaftaran sektemu" ucap Tetua Shusin dan langsung menyuruh kedua wakilnya untuk mengurusi hal tersebut.
"whahaha, seandainya ada arak pasti enak ngobrolnya" "hahaha maaf Chuan kami gak nyangka, dirimu yang sibuk membangun sekte bisa datang kesini"
"hehehe hanya sekte kecil, tidak bisa dikatakan sibuk"
"aku sudah dua kali kesektemu, kelihatannya kecil namun seperti singa yang tertidur"
"whahaha tetua bisa saja" ucap Chuan.
"bagaimana perkembangan sektemu sekarang"
"baik tetua, saat ini aku hanya menemukan sepuluh anak yang bakat dalam pembuatan pil"
"kalau masih nanti tak bantu untuk itu"
"wah, terima kasih tetua"
"untuk keamanan bagaimana?" tanya Tetua Shusin tetap penasaran dengan sekte hutan suci
"cukuplah untuk sebuah sekte kecil seperti kami"
"gimana gak cukup, ada tiga tetua tahap langit" ucap Tetua Shusin gemas dengan jawaban santai Chuan.
"saat ini sepuluh tetua kami ditahap langit, dan ada lima puluhan keamanan yang sudah tahap bumi, sedang yang lain masih ditahap mahir" jelas Chuan
"hah" guman Tetua Shusin setelah mendengarnya.
Kalau kekuatan seperti itu dikatakan sekte kecil, bagaimana standart untuk sekte besar. Mempunyai sepuluh pendekar tahap langit, menjadikan sekte kalian tak ada yang berani menyentuh di Klan Tian. Sedang sekte macan putih hanya punya enam tetua yang ditahap tersebut. Jelas Tetua Shusin sedikit serius.
"kog tetua jadi sentimen seperti ini" ucap Chuan
"huh" guman Tetua Shusin sambil menghela nafas.
"maaf Chuan" lanjutnya, kemudian menjelaskan kegundahannya.
Patriak sepuh sekte macan putih, saat ini belum pulih karena kecelakaan saat memasuki tahap suci. Untuk posisi patriak sekarang dipegang oleh anaknya.
"sudah berapa lama" tanya Chuan
"hampir setahun"
"bisakah aku melihatnya"
"bisa, dan untuk itu nanti malam patriak muda ingin bertemu" ucap Tetua Shusin dengan hati yang mulai lega karena berkurang beban yang dipikirkannya.