Pendekar Hitam

Pendekar Hitam
# Apel Emas


Chuan meneteskan darah dari ujung jari yang telah dilukainya. Tiga tetes darah chuan langsung terserap kotak tersebut. Sekarang dia sudah merasakan ikatan dengan kotak ruang dimensi.


"tuhhh muridmu sudah sampai, simpan dulu kotaknya" kata patriak lion.


"maaf guru" ucap chuan sambil memasukkan kotak kecincin naga.


"aku malah senang dan kau tak perlu meragukan kesetiaan mereka" ucap patriak lion menambah semangat chuan.


"masih kuat" teriak chuan.


"masihhh" sahut mereka sambil tetap berlari. Chuan hanya tersenyum melihatnya.


Agak jauh dibelakang terlihat lima anak enam tahun yang berlari dengan irama yang masih stabil.


"tetap semangat" teriak chuan.


"iya kak" sahut mereka.


"hahaha" terdengar tawa patriak lion dipikiran chuan. "kenapa guru" tanya chuan penasaran.


"mereka lebih bersemangat daripada masa kecilku dulu" ucap patriak lion.


Dia dulu harus dipaksa untuk berlatih fisik. Patriak lion lalu bercerita tentang masa masa kecilnya. Chuan sering tertawa saat patriak lion menceritakan bandel dan usil saat mudanya dahulu.


"nanti masing masing anak beri setengah apel emas, tidak usah kau tambahkan qi mu" ucap patriak lion mengakhiri cerita masa kecilnya.


"caranya sama dengan cincin dimensi" ucap chuan.


"ada banyak apel yang sudah matang aku masukkan dicincin naga" jelas patriak lion.


"guru" ucap chuan terkejut.


"semua yang dikotak dimensi atau cincin naga akan bisa bertahan puluhan tahun bahkan lebih" ucap patriak lion.


Apel emas akan berbuah seratus tahun sekali dan proses kematangannya selama lima puluh tahun. Karena sehari didunia nyata sama dengan setahun diruang dimensi maka chuan bisa panen tiap enam bulan.


Saat ini ada ratusan buah yang sudah jatuh dari pohonnya. Patriak lion menaruh semuanya didalam cincin naga.


Rombongan anak usia tujuh dan delapan tahun sebentar lagi melintas. Raut mereka sudah mulai pucat.


"iya kak" jawab mereka.


Tajamnya mata chuan melihat lima anak yang sudah kehilangan ritme larinya. Sedang dibelakangnya ada nenek dan bibi fei dengan raut cemasnya. Sesekali terlihat mereka membantu temannya yang terjatuh karena kelelahan.


Namun dengan semangat, mereka masih berlari kecil sampai batas kemampuan mereka. Dengan pucat pasi kelimanya sampai dihadapan chuan.


Nenek dan bibi yang juga sampai segera menyiapkan air minum buat mereka.


"minum separuh gelas saja, lalu makan buah ini" ucap chuan sambil membagikan masing masing separuh apel emas.


Terdapat tiga puluh dua potong apel yang sudah dibelah chuan. Nenek hong terlihat bengong menyaksikannya. "bimbing anak anak mencernanya nek" ucap chuan menyadarkan lamunannya. Setelah kelimanya memakan apel tersebut, maka nenek hong membimbing kelimanya.


Rombongan anak yang lain mulai terdengar mendekat. Wajah pucat juga terlihat pada mereka. Bibi fei dan chuan membagikan minum dan apel pada mereka. Keempat anak juga mendapatkan bagiannya.


Nenek hong yang telah membimbing lima anak sebelumnya kini membimbing mereka yang baru menghabiskan apel emas. Terlihat wajah lima anak menjadi cerah namun tetap dalam posisi meditasi. Sedang yang lain mulai tenggelam dalam meditasinya. Bibi dan nenek hong juga mendapatkan jatahnya.


Chuan juga merasakan separuh apel emas. Berbeda dengan yang lain, chuan tidak terlalu merasakan manfaatnya. Hampir bersamaan mereka menyudahi meditasinya. Semuanya dihadapan chuan, nenek dan bibi fei.


"benarkah yang tadi apel emas" tanya nenek hong.


"iya nek" jawab chuan.


"dapat darimana" lanjutnya penasaran.


"sudahlah nek, saatnya memberi bimbingan pada mereka" ucap chuan. "kalian juga chufei pasti belum pernah makan apel yang tadi" ucap nenek hong.


"tahu apel seperti itu baru sekarang" ucap bibi fei. Lalu nenek hong melanjutkan ucapannya.


Satu apel emas bisa bernilai seratus koin emas bahkan lebih.


"huhhh" bibi fei dan anak anak terkejut mendengarnya. "kak chuan" ucap lumonk penasaran.


"tak perlu nenek untuk menjelaskan nominal dari apapun yang aku keluarkan" ucap chuan lalu menenangkan keterkejutan mereka.


Apapun dan berapapun mahalnya demi masa depan anak anak, chuan akan berusaha sekuat tenaga..