Pendekar Hitam

Pendekar Hitam
# Minta Bayar Berapa


Malam berganti pagi, selain Chuan tidak ada yang tidur. "wah, sudah pada bangun" ucap Chuan yang baru terjaga. "enak aja, siapa yang tidur" sahut Chu Guan.


"whahaha, hebat, hebat" ucap Chuan seenaknya sendiri, sambil berlalu menghampiri Tetua Gun.


"kalau energinya stabil, sudahi dulu tuan" ucap Chuan pada walikota yang masih meditasi.


"haahhhh" helaan nafas walikota terdengar tak lama kemudian.


"siapkan handuk bersih, dan yang lain bantu tuan walikota ketempat tidur" ucap Chuan. Setelah walikota keluar dari bak mandi, yosue membantu mengelap tubuhnya.


"sudah kering, kalau mau pegang nanti saja, hehehe" usil Chuan. Yosue dengan muka memerah, membantu tuan walikota memakai pakaiannya. Sesaat keduanya berpandangan, lalu bersama sam jongkok didepan chuan.


"terimakasih, tuan muda" ucap tuan walikota. Karena terkejut, Chuan membangunkan mereka berdua dengan energi dari kedua tangannya. Kejadian sesaat membuat suasana sunyi.


"tak perlu peradatan seperti itu tuan" kata Chuan.


"jangan panggi tuan lagi, lebih enak saudara atau paman juga boleh, dan namaku Chu Yeliong" ucapnya.


"namaku Chuan, dan panggil itu saja" ucap Chuan. "sebaiknya paman tiduran dulu" lanjut Chuan.


Saat walikota Liong sudah tenang diatas tempat tidurnya, Chuan mulai menjelaskan. Ada racun yang mengendap dan mulai merusak organ tubuhnya. Racun itu dimasukkan sedikit demi sedikit melalui makanan. Jadi sebaiknya hanya orang tertentu yang diperbolehkan untuk membawakan makanan pada walikota Liong.


Untuk pil regenerasi yang bisa memulihkan organnya biar Tetua Gun dan paman Guan yang mencarikannya, dan proses pemulihannya perlu waktu sekitar satu bulan. Selama proses pemulihan, sebaiknya juga dibarengi dengan berkultivasi.


Saat ini biarlah hanya orang ini saja yang mengetahui dia sudah bersih dari racunnya. Dan wajahnya yang sudah kembali cerah, chuan ada cara menyamarkannya. Banyak yang chuan jelaskan pada semua orang.


"terimakasih Chuan, aku juga sudah meraba raba siapa mereka" ucap yeliong. Chuan lalu mengambil segelas arak dan memberi setetes cairan hitam.


"maaf paman" ucap Chuan dan mengoleskan arak tersebut kewajahnya. Terlihat wajah walikota Liong kambali seperti saat sakit namun sedikit segar. Penampilan seperti itu bisa mengelabuhi mereka, serta biarkan mereka mengira kalau tak bisa disembuhkan.


Cara menghilangkan warna hitam, cukup basuh dengan arak sambil mengalirkan qi kewajahnya. Atau bisa juga dengan air laut dengan cara yang sama.


"bagaimana hasilnya" tanya Xulien sinis.


"sudah lewat kritisnya, namun belum bisa banyak bicara" jawab Chuan tetap santai.


"kau minta bayar berapa" tanya Xulien lagi. Dan diabaikan oleh Chuan.


"maaf aku permisi dulu, hanya ingin pulang dan tidur" ucap Chuan lalu pamit pada Yosue.


"terima kasih Chuan" ucap Yosue, lalu mengantarnya keluar.


Meskipun geram, Xulien tidak berani menghentikan kepergian Chuan. Saat dijalan, Chuan pamit pada Chu Guan karena ada hal yang harus diselesaikan.


Dia lalu melesat menjauhi rumah warga, dan terus melesat kearah yang ditujunya. Hutan perbatasan seluas lebih 150 km2 adalah tujuannya. Patriak Lion beberapa kali mengunjungi tempat itu, saat dia jenuh diruang dimensi.


Setelah melewati tujuh atau delapan desa, dia sampai ditempat yang dituju. Hutan yang masih asri dengan pohon besar dan energi alam yang cukup padat. Sebelah barat berbatas dengan Klan Gu, sebelah utara berbatasan dengan Klan Tian.


"bagaimana guru" tanya Chuan.


"disini kalian bisa membangun sekte" jelas Patriak Lion. Dengan membuat walikota berhutang budi, maka mudah bagi Chuan untuk negosiasi saat membeli hutan ini.


Untuk pembangunannya bisa melakukan kontrak kerja dengan serikat. Sedangkan pagar luar Chuan bisa melakukan sendiri dengan ilmu yang dikuasainya. Pohon pohon besar dirapikan dahannya dan pindahkan berderet serapat mungkin, dan tentukan titik jalan utama. jelas Patriak Lion panjang lebar.


"sebelumnya telusuri bagian dalam hutan" ucap Patriak Lion. Melompat dari pohon kepohon, Chuan melihat situasi dengan teliti. Beberapa hewan liar terlihat, namun sejauh ini masih aman untuk anak anak.


Hanya beberapa babi hutan yang sedikit lebih kuat, namun dibiarkan Chuan jika saatnya tiba bisa buat melatih anak anak.


"hahaha, sebelum kalian tempati mungkin sudah diburu para pekerja" ucap Patriak Lion.


"hemm" guman Chuan sambil terus menyusuri tiap bagian dari hutan tersebut.