Pendekar Hitam

Pendekar Hitam
# Larangan Patriak Chen


Dua bulan berlalu dengan cepat. Patriak Chen, Tetua Shusin dan para tetua sudah mahir dalam pemahaman tehnik pedang macan suci yang telah disempurnakan oleh Chuan. Saat awan tipis mulai berarak mereka duduk santai.


"terima kasih untuk semuanya, kedepan tehnik ini hanya akan kami ajarkan pada murid dari sekte hutan suci" janji Patriak Chen. Chuan tersenyum puas dengan komitmen tersebut.


"terima kasih patriak, tapi kalau ada murid pribadi tak masalah untuk diajari, namun mereka harus tahu asal tehnik tersebut" ucap Chuan. Beberapa kesepakatan terucap, tapi Chuan tidak merasa dirugikan.


Patriak Chen dan Tetua Shusin mnyadari kalau terlalu banyak hutang budinya pada Chuan. Keduanya berjanji akan membantu perkembangan dan keamanan sekte hutan suci. Bahkan Tetua Shusin sempat menyuratkan kalau ingin tinggal disekte hutan suci.


Patriak Chen melarang keinginan tersebut, karena dia merasa kehilangan pendukung setia kalau Tetua Shusin meninggalkan sekte macan putih.


"saatnya kita kepulau untuk melihat mereka" ucap Chuan mengingatkan kalau para wakil tetua sudah saatnya menerima  petir kesengsaraan. Chuan dan yang lain segera melesat kearah pulau tersebut.


Tiba didekat pulau, Chuan dan yang lain memantau mereka yang akan menerima kesengsaraan petir. Tak lupa dia meminta Tetua Tian dan yang lain untuk membantu memberikan pil saat ada yang terluka diantara mereka. Saat yang lain diliputi kecemasan. Chuan terlihat santai, dan senyum terkembang dibibirnya.


"ada apa" tanya Tetua Tian saat melihat Chuan tersenyum.


"ada tamu untuk Patriak Chen dan Tetua Shusin" jawab Chuan.


"biar kami yang menemui mereka" ucap Patriak Chen sambil melihat beberapa orang yang melayang, jauh dibelakang mereka.


"kelihatannya mereka dari beberapa klan yang penasaran dengan fenomena yang terjadi" ucapTetua Gun.


"sepertinya mereka ditahap bumi dan ada tiga yang tahap langit" sambung yang lain.


Setelah memasuki tahap suci, mereka mudah mendeteksi tahap dibawahnya. Obrolan mereka terus berlanjut, dan baru berhenti saat petir menyambar saudara mereka.


Semua serius menyaksikan proses tersebut dengan rasa ngeri. Lebih mudah menerima sambaran untuk diri sendiri, daripada melihat orang lain yang seperti itu. Saat mereka menerima kesengsaraan petir, ada rasa pasrah hidup dan matinya pada dewa. Saat sambaran yang ketiga telah turun, terlihat semuanya mengalami luka dalam. Namun ada tiga yang cukup parah.


"beri mereka pil obat, dan biarkan mencernanya" jelas Chuan. Biarkan mereka berkultivasi sebentar dan setelah itu bawa mereka semua kesekte. Rombongan mereka tiba disekte saat dini hari. Agar tidak mengganggu tidur saudara yang lain. Nanti kosongkan aula dibalai pengobatan untuk mereka berkultivasi. Jelas Chuan dalam pengaturannya.


"baik" jawab para tetua. Kemudian mereka melesat menghampiri pulau dan memberikan pil pada para wakil tetua. Chuan yang melayang sendiri, kemudian melesat kearah lain. Dia menghampiri para tamu tak diundang yang sedang menonton kejadian tersebut.


"bagaimana kondisi mereka" tanya Tetua Shusin saat Chuan baru tiba didekatnya.


"mereka selamat, tapi ada tiga orang yang perlu perawatan" jawab Chuan.


"Chuan" sapa Tetua Zhao.


"salam tetua" ucap Chuan.


"wajahmu" tanya Tetua Zhao, sambil melihat wajah bersih tanpa noda hitam.


"hahaha, putri walikota pasti menyesal saat mengetahuinya" ucap Tetua Shusin sambil tertawa.


"siapa dia" tanya seorang paruh baya pada Patriak Chen. Orang itu dari awal Chuan datang, wajahnya tak bersahabat.


"aku Chuan, dari sekte hutan suci" sahut Chuan sebelum Patriak Chen menjawab.


"ooo, murid sekte hutan suci" lanjut orang tersebut.


"iya, memang kenapa" tanya Chuan santai seakan mengabaikannya.


"tak ada yang berani bersikap tak sopan padaku" ucapnya sambil menahan kekesalan hatinya.


"huh" dengus Chuan terdengar.


"lihat saja nanti, kau pasti dikeluarkan dari sekte itu" ancam orang tersebut.


"tak usah mengancamku, dari awal kau sudah tidak suka dengan kehadiranku" ledek Chuan.


"sudahlah tetua, jangan diperpanjang" lerai Patriak Chen sambil melihat orang tersebut.


"sikapnya membuatku muak" jawab orang tersebut.


"Patriak dan Tetua Shusin, tolong bantu yang lain, abaikan orang seperti itu" ucap Chuan.


"baik" jawab Tetua Shusin.


"Tetua Zhao, bisa melihat mereka yang dipulau" ucap Chuan sambil tersenyum. Sebelum Tetua Zhao membalas, dia sudah melesat pergi. Patriak Chen, Tetua Shusin, dan Tetua Zhao menyusulnya.


"sial,,, anak kurang ajar, berani dia mengabaikan kita" kata orang tua tersebit, semakin kesal pada Chuan.


"masih tahap bumi tingkat satu, sudah sombong" sahut yang lain.


"bulan depan kita datang ke sekte hutan suci, melihat apa ada dari mereka yang menembus tahap suci"


"sial, Patriak Chen melarang kita mendekati pulau"


"kalau tidak ada orang orang dari sekte macan putih, kita bisa mendekati mereka".


Percakapan mereka terus berlanjut. Setelah mengungkapkan kekesalannya, mereka membubarkan diri. Ternyata nama besar sekte macan putih membuat mereka segan dengan larangan mendekat yang disampaikan Patriak Chen.