
Nenek hong dan bibi fei telah selesai bermeditasi. Anak anak juga bangun satu persatu. Kesegaran tubuh mereka membuat suasana ramai walau sebentar.
Mereka tenang kembali setelah nenek hong dan bibi fei menunjukkan chuan yang sedang tertidur. Semuanya tidak mengetahui kalau chuan sedang bersama patriak lion diruang jiwanya.
Bibi fei mengajak anak anak bermain ditaman belakang. Nenek hong menghampiri tetua shusin dan mengucapkan terima kasihnya atas bimbingannya. Tetua shusin meminta nenek hong duduk dengan mereka.
Rasa penasaran mereka berempat ditanyakan pada nenek hong. Dengan lugas nenek hong menceritakan kalau chuan yang mengusahakan semuanya. Tentang status chuan diserikat dan murid tetua tian, nenek hong tetap merahasiakannya.
Sedikit terobati rasa penasaran mereka karena cerita itu. Siang yang mulai berganti sore, semua yang ada dipenginapan kembali didepan meja makan.
"kak chuan bangun" terdengar ninie membangunkannya. Chuan yang sudah selesai dengan gurunya lalu terjaga. "hemmm, ninie" ucapnya.
"ayo makan dulu" ajak ninie.
"iya, aku basuh muka dulu" ucap chuan lalu menuju kamarnya.
Tak lama chuan kembali dan membaur bersama mereka. Obrolan anak anak mendominasi suasana. Tetua shusin dan muridnya hanya melepaskan senyum melihat tingkah mereka.
Chuan melihat ada sedikit raut keengganan diwajah keempatnya.
"setelah ini kalian mandi dan jangan berebut" ucap chuan melihat semuanya sudah menyelesaikan makannya.
"baik" jawab mereka serentak, lalu berhamburan kekamar masing masing.
"setelah mandi, ajak mereka membeli pakaian" ucap chuan sambil memberi nenek hong lima koin emas.
"masing masing dua stel" lanjut chuan.
"hanya anak anak yaa" ucap nenek hong. "nenek sama bibi juga beli sekalian,
"siapa tahu kalau berdandan nanti ada yang naksir, hehehe" usil chuan.
"huhh, mesti" guman nenek hong sambil mengajak bibi fei kekamarnya.
"bisa ngobrol didepan dengan kami" ajak tetua shusin. "bisa tetua" jawab chuan dengan hormat, membuat keempatnya kikuk.
"paman belikan arak, untuk kami" ucap chuan pada pelayan yang sedang bersih bersih.
"lima yaa" ucapnya.
"enam" jawab chuan.
Kelimanya lalu duduk santai dilobi. Mereka bercakap cakap ringan dan sesekali menyinggung perihal anak anak tersebut.
Sulitnya membimbing dengan gaya dan bahasa mereka membuat tetua shusin mengungkapkan kekagumannya. Chuan hanya tersenyum mendengarkan ucapan keempat orang itu.
Dia juga menanyakan tentang keanehan saat anak anak bermeditasi.
"kenapa tetua menanyakan hal tersebut" tanya chuan. "ketiga muridku berhenti dipuncak tahap mahir, sedang aku macet ditahap bumi tingkat lima" ucap tetua shusin. "kalau qi tetua dan lainnya murni harusnya tidak sulit untuk menembus kemacetan" ucap chuan membuat keempatnya tercengang.
"dapatkan menolong kami untuk itu" tanya tetua shusin meskipun ada keraguan, karena chuan masih berada pada tahap menengah.
"apa sarana kultivasi tetua" tanya chuan
"kami menggunakan pil dan inti hewan buas berunsur api" jawab tetua.
"guru" ucap chuan lewat pikirannya.
"bantu saja mereka, rasa hutang budi seorang pendekar akan membekas seumur hidupnya" ucap patriak lion.
"baik guru" ucap chuan.
Keempatnya terdiam melihat chuan sedang berpikir.
"akan aku usahakan, seandainya gagal mohon tetua tidak kecewa" ucap chuan disambut senyum keempatnya.
"ini araknya" tiga pelayan menghampiri chuan. "terimakasih, kembalinya buat kalian" ucap chuan, lalu membagi arak yang ada dimeja.
Kelimanya asyik dengan arak masing masing.
"chuan ikut" sapa bibi fei.
"aku menemani tetua shusin, bi" jawab chuan.
"biar muridku yang menemani kalian" ucap tetua sambil menyuruh dua muridnya menemani mereka.
Suara riuh anak anak ditemani nenek, bibi dan dua murid tetua shusin, terdengar didepan penginapan.
"sebentar tetua" ucap chuan lalu menuju kekamarnya.
Tak lama dia keluar dengan botol kecil berisi empat pil inti api yang sudah ditambahkan qi murni oleh chuan.
"ini untuk tetua dan yang lain" ucap chuan lalu menjelaskan. Masing masing untuk mengkonsumsi satu pil dari chuan.