
Komandan Xhuan dengan santai masuk kembali keruang pertemuan. Duduk didekat Chuan, dia lalu memanggil para komandan kelompok untuk mendekat dan membawa kursi.
Sedang Jenderal Erlong memantau keberangkatan para prajurit tersebut.
"klan chao, tang, lin,,, oh ada yang seperti itu" guman Erlong membaca daftar mereka yang pergi.
"bagaimana Chuan bisa tahu"
Erlong terhanyut dalam berbagai pertanyaan dihatinya. Namun yang dipikirkan sedang asyik berbicara didepan prajurit diruang pertemuan.
"kenapa pilihan kalian berbeda dengan mereka" tanya Chuan
"kami hanya punya kesetiaan dan keyakinan, tanpa latar belakang seperti mereka"
"kami hanya ingin mengabdi pada kekaisaran dan berbakti pada para pembimbing serta orang tua"
Dan beberapa jawaban dari pikiran mereka sendiri.
"kalian tahu kenapa pelatihan prajurit khusus sangat berat" lanjut Chuan
"karena harus kuat dan siap dengan siksaan dan kematian" jawab seorang prajurit
"apa kalian siap" tanya Chuan
"siap" jawab mereka serempak
"semua prajurit khusus bukan hanya kuat" jelas Chuan. Mereka harus setia pada kekaisaran dan guru gurunya. Selain itu, harus punya rasa kekeluargaan dan kemanusiaan.
Prajurit khusus harus bisa berbagi tugas dan siap setiap saat. Tugas berat ada dipundak mereka, bukan hanya menjaga kaisar tapi seluruh kekaisaran. Untuk itu minimal harus mencapai tahap suci.
"tahap suci,,,," guman mereka
"maaf tetua, apa bisa kami mencapai tahap suci" tanya seseorang mewakili yang lain
"makanya latihan yang sungguh sungguh dan berkultivasi dengan keras" jawab Chuan.
"kamp prajurit khusus bukan tempat untuk bermain main" ucap Komandan Xhuan. Mereka tiap hari mendapat porsi latihan yang terus bertambah, tetapi tanpa mereka sadari. Tingkat kultivasinya juga diatas rata rata mereka yang seusianya.
"kalian faham" tanya Xhuan
"siap komandan, kami akan lebih giat lagi" ucap mereka.
"tak usah ragu, kami selalu memantau kalian setiap waktu" jelas Xhuan. Setiap latihan dan kultivasi akan diawasi oleh para pembimbing.
"terus bersemangat, dan silahkan kalian kembali" lanjut Xhuan
"siap komandan" jawab mereka dan membubarkan diri untuk kembali beraktifitas seperti biasanya.
Pertemuan malam yang membuka mata mereka semua. Tujuh belas komandan kelompok akhirnya faham. Masih jauh perjalanan yang akan mereka tempuh. Tahap suci yang akan mereka capai, lebih berharga dari jabatan apapun. Kebulatan tekad dan kesetiaan semakin terukir dalam hati mereka.
Kedua petinggi akhirnya menyadari kalau masih terdapat celah dijajarannya. Mereka bertekad untuk mulai melakukan pembenahan secara bertahap. Khusus para prajurit yang langsung bersentuhan dengannya.
Malam itu juga, Chuan dan Meilin melesat keluar kamp. Dikejauhan keduanya sempat berhenti saat melihat prajurit yang didaftar hitam dihabisi oleh dua puluh pasukan khusus. Selanjutnya mereka dimakamkan dalam satu lubang.
Ketangkasan dan kecepatan para prajurit tersebut membuat keduanya bangga.
"latihan mereka cukup berhasil" ucap Meilin
"tapi insting mereka masih perlu dilatih" ucap Chuan.
"maksudnya" ucap Meilin
"meskipun kita yang memantau mereka, harusnya ada prajurit khusus yang datang" ucap Chuan.
"mari kita datangi" lanjut Chuan. Lalu keduanya melesat kearah tersebut.
"tuan muda, tuan putri" ucap mereka terkejut melihat kedatangan keduanya
"meskipun cukup rapi tapi kalian terlalu ceroboh" ucap Chuan.
"kami salah, siap menerima hukuman" ucap mereka
"lain kali tempatkan orang kalian untuk memantau situasi" lanjut Chuan
"siap, tuan muda"
"silahkan dilanjut aktifitasnya, kami pergi dulu"
"siap" jawab mereka serempak.
Sepeninggalan Chuan dan Meilin, para prajurit juga meninggalkan tempat tersebut. Mereka menuju ketempat yang lainnya berkumpul.
"kita masih ceroboh" jelas mereka yang baru datang.
Aksi mereka semua ternyata dipantau oleh Tuan Muda Chuan dan Putri Meilin. Padahal kita sudah menyisir keadaan ditempat tersebut. Sebelum pergi, tuan muda berpesan untuk tidak mengulangi kecerobohan kita.
"baiklah, kedepannya kita harus lebih hati hati dan teliti" jawab seorang prajurit.
***
Kedai dan Penginapan Lou Sin
Tempat usaha Lou Sin semakin berkembang. Penginapan kecil mereka saat ini menjadi yang paling ramai dipinggiran kota. Meskipun arak yang sama dengan ditempat lain, tetapi Lou Sin dan dua karyawannya pandai menciptakan suasana nyaman bagi para pengunjung.
"tuan muda" teriak Lou Sin dari kejauhan, saat melihat Chuan dan Meilin memasuki kedai.
"paman masih ingat aku" ucap Chuan santai
"pasti, bagaimana bisa lupa" balas Lou Sin.
"ini,,,, salam tuan putri" lanjut Lou Sin terkejut melihat Meilin memakai cadar hitam tipis.
"salam paman" balas Meilin.
"ohhh,,, silahkan masuk" ajak Lou sin lalu melangkah masuk keruang tamu yang ada dibelakang.
Istri Lou Sin dan kedua karyawannya segera mendatangi keduanya dan memberi hormat.
"salam tuan muda,,, salam tuan putri" ucap mereka
"salam,,, sudah biasa saja" balas Chuan sambil tersenyum.
"bibi duduk saja disebelahku" ucap Meilin.
Tak lama menunggu, Lou Sin dan dua karyawannya membawa arak dan makanan ringan.
"silahkan" ucap Lou Sin sambil duduk.
"hehehe lama tak jumpa, bagaimana kabar kalian" ucap Chuan.
"atas bantuanmu, kami bisa bangkit dan berkembang seperti sekarang" ucap Lou Sin.
"apa kalian belum punya momongan" tanya Chuan
"sudah, laki laki usia delapan tahun" ucap Lou Sin
"jadi waktu aku kesini,,,," ucap Chuan lalu terdiam
"memang saat itu kami sudah punya seorang anak" jelas Lou Sin. Tapi anak kami mengalami kelainan dan sampai hari ini berjalannya tidak normal. Banyak tabib yang kami datangi dan obat yang sudah kami beli untuk kesembuhannya. Namun semuanya belum menunjukkan hasilnya.
"dimana dia sekarang" tanya Chuan.
"kalau malam dia dirumah kakeknya" jawab Lou Sin. Biasanya pagi dia diantar kesini, dan bermain sampai siang. Meskipun keadaanya seperti itu, tapi ayah mertuaku sangat menyayanginya.
Meilin yang sebelumnya bercakap sendiri dengan Minie (nama istri Lou Sin), kini keduanya terdiam saat mendengar percakapan Chuan. Ada airmata yang menggenang hampir tertumpah pada kedua mata Minie.
"jangan terus bersedih, silahkan bawa aku untuk melihatnya" ucap Chuan.
"tak perlu, biar dia yang tak bawa kesini" ucap Lou sin langsung bangkit dan berlari keluar.
Chuan dan Meilin terus menghibur Minie. Keduanya memberi semangat sesulit apapun pasti ada jalan pemecahannya.
Minie menyampaikan, kalau ejekan dan hinaan keluarga dari suaminya membuat hancur hatinya. Bahkan mereka mengusir Lou Sin karena istri dan anaknya dianggap pembawa sial. Sambil bercerita, airmata yang terbendung akhirnya tumpah.
"ibu kenapa" terdengar suara anak kecil. Terlihat seorang anak yang berjalan dengan kesulitan menuju ke Minie.
"ibu menangis karena Tantan" ucapnya setelah disamping ibunya.
"ini Lou Tan anak kami" ucap Lou Sin.
"anak yang baik dan gagah" ucap Chuan spontan memperhatikan anak itu.
"dengar bu, paman itu mengatakan aku gagah" ucap Lou Tan, membuat tangis Minie semakin pecah sambil memeluk anaknya.
"Tantan apa ingin bisa silat" tanya Chuan
"apa Tantan bisa" tanya anak itu bersemangat.
"asal mampu menahan sakit maka Tantan bisa berlatih" ucap Chuan.
"aku bisa,,, aku gak pernah mengeluh kok" ucap Tantan sambil menatap Minie, seakan meminta dukungan ibunya.