Pendekar Hitam

Pendekar Hitam
# Surat Teysan


"ternyata aku malah jadi beban guru" ucap chuan pelan, tapi masih terdengar oleh mereka.


"bukan beban chuan, tetua tian sudah lama ingin mempunyai murid pribadi" jelas tetua gun.


"tapi sayang, situasi dan keadaan yang pikirannya gelisah" lanjutnya.


"aku akan berusaha mencarikan tempat untuk sekte" kata chuan.


"yang setia pada tetua tian, tinggal kami bertujuh" kata tetua cun pelan.


Mereka juga ingin keluar dari kantor serikat ini. Meskipun mereka aman, tapi ada harga yang diminta oleh kepala cabang. Biayanya dipotongkan dari gaji kelima murid sekte. Andaikan ada tempat mereka lebih baik kelaparan diluar dari pada terkungkung seperti sekarang ini.


Kabar yang begitu mengejutkan terdengar. Dikantor ini hanya ceiyun dan teysan yang perduli pada mereka. "sepuluh hari lagi tetua lifan bisa menyusulku, dan teysan tahu dimana aku tinggal" ucap chuan lalu berpamitan.


Chuan keluar ruangan tersebut dihantar oleh tatapan sedih ketujuh orang tersebut.


"ini pesanannya chuan, semua tiga puluh koin emas" ucap ceiyun saat chuan tiba didepannya. Chuan lalu membayar harga tersebut, dan memasukkan rumput emas dicincinnya.


"pimpinan cabang ada dikantornya" ucap ceiyun pelan. "tetap rahasiakan tentangku, tetua sekte sudah bercerita tentang dia" ucap chuan.


"maafkan kami" ucap ceiyun.


"tak apa apa, dan tolong minta teysan untuk menyusulku dikedai yang kemarin" balas chuan.


"baik" ucap ceiyun.


Chuan lalu keluar dan menuju kedai arak. Saat siang hari suasana kedai sedikit lengang.


"satu arak yang terbaik paman" ucap cuan pada pemilik kedai yang mendatanginya saat dia duduk dipojok kedai. "kamu yang bersama tuan teysan kemarin" tanya pemilik kedai.


"iya, paman kog masih hafal" balas chuan.


"karena tanda hitam dipipimu" jawabnya.


"oohhh" guman chuan sambil tersenyum.


"aku ambilkan arak dulu" ucapnya kikuk


"silahkan paman" jawab chuan.


Tak seberapa pesanan chuan datang.


"terima kasih" ucap chuan.


Seteguk demi seteguk, arak diguci sudah pindah keperut chuan.


Saat arak didalam guci tinggal setenah, tiba tiba teysan duduk agak menyamping. Tangan kanannya diulurkan kepada chuan. Kantong uang dan sepucuk surat diserahkannya.


Pemilik kedai dan seguci kecil arak diserahkannya pada teysan.


"maaf aku tidak bisa lama" ucap teysan pelan. "tak apa apa" jawab chuan.


Dengan seguci arak ditangannya, teysan cepat keluar kedai tersebut.


"sepertinya dia lagi ada masalah" batin chuan. "seorang pendekar yang baru tahap bumi, sedang mengikutinya" ucap patriak lion dari ruang jiwanya.


"karena teysan sudah keluar, maka dia tidak jadi masuk kedai" lanjut patriak lion.


Cukup lama chuan menunggu suasana kondusif. Setelah membayar, chuan segera meninggalkan kedai, dan pulang kerumah.


Tak ada yang menarik baginya saat ini. Pikirannya tenggelam dengan berita yang diterimanya siang tadi. Sekte pasir putih, ternyata tidak seperti rumor yang tersiar selama ini.


Sesampai didepan rumah dia hanya diam tertegun. Semua anak berbaris rapi dihalaman. Mereka sedang memperagakan gerakan silat dasar dibawah bimbingan nenek hong.


"teruslah kalian berlatih" ucap chuan saat mereka menghentikan latihannya ketika melihat chuan datang. Nenek hong hanya tersenyum dan terus memberi aba aba pada mereka.


Chuan hanya duduk santai didepan pintu, dan mulai membuka surat yang teysan berikan. Penginapan sederhana yang dibicarakan sebenarnya milik ceiyun dan teysan.


Mereka sedang menabung untuk masa depan. Keduanya akan melangsungkan pernikahan, jika tiba waktu yang tepat. Selama menginap keduanya tidak menarik uang sewa.


Beberapa koin chuan yang berkurang digunakan untuk jatah makan tiga kali sehari. Dan juga ada yang dipakai untuk menggaji pegawainya selama seminggu.


Keduanya menginginkan agar chuan dan yang lain mulai tinggal dipenginapan nanti malam. Pihak serikat pekerja mulai persiapan segala alat dan bahannya pada malam nanti. Dan banyak lain yang disampaikannya melalui surat.


*ada urusan yang kami tidak bisa menyelesaikannya, mohon tuan muda chuan berkenan membantu* tertulis harapan teysan. Catatan terakhir disurat itu membuat chuan bertanya tanya. Urusan tentang mereka berdua yang mulai tak nyaman, saat ketahuan ketika membantu tetua tian dan yang lain.


Sekte pasir putih meskipun kelihatan dibawah lindungan serikat. Namun mereka tak ubah sebagai tahanan dan dikaryakan tanpa gaji yang pantas.


Serikat dagang yang saat ini, mulai dimasuki beberapa orang dari aliran hitam. Mereka yang netral hanya bertugas jaga diserikat. Untuk tugas penting dari orang orang itu dan murid sekte yang dibawah kendali kepala cabang.


Masih banyak yang disampaikan disurat tersebut dengan ringkas.