Pendekar Hitam

Pendekar Hitam
# Membuat Pagar


Lima Belas kilometer disebelah timur ada sungai yang melintang dengan lebar seratus meter.


"cukuplah sungai ini sebagai pagar batas bagian timur" ucap Patriak Lion.


"membangunnya didahulukan sebelah mana" tanya Chuan.


"nanti mulailah membangun disekitar sungai dulu" saran Patriak Lion. Sambil mejelaskan rencananya pada Chuan


"terimakasih guru" ucap Chuan.


"untuk apa" tanya Patriak Lion.


"sebagai guru, orang tua bahkan juga teman, sering aku berpikir seandainya tidak ada yang membimbing, entahlah jadi apa diriku" ucap Chuan sambil merenung.


"aku tidak ingin dirimu jatuh pada penyesalan sepertiku, berguna dan dikasihi oleh orang lain lebih berharga dari sekedar kehormatan dan ditakuti lainnya" ucap Patriak Lion.


"apa yang guru inginkan" tanya Chuan.


"buatkan kamar khusus untukku" ucap Patriak Lion.


"baik guru, bahkan desa atau kotaku nanti bernama 'lion' sesuai nama guru" ucap Chuan membuat Patriak Lion terdiam.


"itu dipikirkan nanti" jelas Patriak Lion. Chuan disuruh membuat pagar bagian barat serapat mungkin. Hutan disebelah barat bahkan lebih lebat, dan beberapa kali jiwa Patriak Lion merasakan hewan buas berumur seratus tahun bahkan lebih.


Kedepannya Chuan juga disarankan untuk membuat lahan kosong setelah pagar, supaya mudah mengawasinya. Dari bahaya binatang buas yang mendekati wilayah tersebut. Dan saat ini ambilkan pohon besar dari luar batas. Patriak lion menjelaskan secara detail.


***


Sementara sepeninggalan chuan, tetua tian tetap tenggelam dalam kultivasinya. Energi dari mustika bumi dan qi murni dari chuan bukan hal yang bisa distabilkan dengan santai. Lima hari berlalu, energi yang berputar masih cukup besar. Saat ini tetua tian sudah kembali ketahap bumi seperti sebelumnya. Semakin tenggelam dalam keseriusan berkultivasi, tetua tian semakin berhati hati. "boommm" dentaiannya pecah lagi, seketika juga mulai terbentuk lebih besar dan kuat. Setelah sempurna, aliran energi yang berputar dialirkan lagi kedentiannya. Qi yang memasuki dentian langsung termurnikan membuatnya terkejut, tak mau ada kesalahan dia terus mengalirkannya. Hari sudah masuki senja, energi ditubuh tetua tian sudah stabil, sedangkan dentiannya telah terisi setengahnya. Saatnya dia menyudahi kultivasinya. "tetua lifan" sapa tetua tian saat melihat hanya dia yang didekatnya. "tetua, tahap ini" ucap tetua lifan terkejut tahapan tetua tian jauh diatasnya. "tahap langit, memang hanya terpaut satu tahap tapi jauh berbeda" jelas tetua tian. "selamat tetua" ucap tetua lifan. "ini semua karena chuan" jelas tetua tian. Dia dan kedua tetua akan menyembunyikan menjadi tahap mahir, untuk menghargainya. Namun padanya dia akan mengatakan tahapan yang sebenarnya. "tapi mana yang lain" lanjut tetua tian menyadari suasana yang lain. "anak anak sedang latihan" jelas tetua lifan. Tentang kepergian chuan dan yang lain, serta lamanya tetua tian berkultivasi juga dijelaskannya. "maaf, selama ini aku menyusahkan kalian" ucap tetua tian penuh penyesalan. "tak perlu seperti itu, kita sudah mengikat diri menjadi saudara" ucap tetua lifan. Diluar terdengar derap kuda dan ramai anak anak. "siapa yang datang" "itu anak anak baru pulang dari latihan" "yang berkuda" "ya mereka juga"


"hahh" terkejut tetua tian.


Bagaimana anak anak ini punya kuda? dalam hatinya dia bertanya.


"semuanya Chuan yang mengusahakannya" jelas Tetua Lifan. Keduanya lalu keluar menemui mereka.


***


Waktu terus berlalu, tak terasa butuh waktu sebulan chuan menyelesaikan semuanya. Pagar pohon hidup yang kokoh, bahkan sedikit sela Chuan tanami dengan pohon yang lebih kecil. Ada jalan keluar masuk keklan tian dan klan chu yang sudah disiapkan.


Sedang pagar dengan batas diwilayah klan chu juga tak ketinggalan dibuat oleh Chuan.


"saatnya kembali" ucap Patriak Lion.


"baik guru" ucap Chuan sambil menyembunyikan tahapannya ketahap menengah.


Dia kemudian melesat pulang kerumah. Melalui pinggiran hutan dia terus melesat menghindari daerah berpenduduk.


Saat sore dia telah sampai ditempat latihan anak anak asuhnya. Duduk dibawah pohon dia menyaksikan anak anak sedang serius dalam latihannya. Tetua tian dan lifan yang sedang melatih anak anak merasakannya.