Pendekar Hitam

Pendekar Hitam
# Membeli Saham


Mengerti akan maksud ucapannya, pengawal tersebut cepat cepat pergi. Kejadian tersebut membuat para pengunjung semakin penasaran.


Chuan yang baru turun diantar pelayan untuk menemui orang yang mencarinya.


"maafkan aku tuan" ucap wanita muda sambil membungkuk dalam, saat Chuan tiba didepannya. Semua pengunjung dibuat terpana dan bingung melihat kejadian tersebut.


"sudahlah tak perlu peradatan seperti itu, ada perlu apa nona mencariku" tanya chuan datar.


"pimpinan kami ingin bertemu tuan" jawabnya. "pentingkah" tanya Chuan.


"penting bagi kami, tuan" jawabnya.


"baik, aku tunggu dikamar" ucap Chuan lalu pergi begitu saja.


"terimakasih, tuan" ucap wanita muda sambil membungkuk meskipun chuan sudah berlalu.


Sikap dan perkataan keduanya, membuat para pengunjung hilang akal.


"kenapa nona muda mencarinya"


"sudah jelek, bertingkah seenaknya"


"gak tahu diri dia" berbagai hujatan terdengar.


Wanita muda tersebut hanya tertunduk dalam. Pikirannya berkecamuk, dirinya kemarin juga seperti mereka. Sikap yang sama selalu dia lakukan sebelumnya.


Tak tahu apa yang bergejolak didalam hatinya. Dia yang selalu dipuja oleh para pemuda, kini diabaikan oleh dia. Bahkan saat ini semua pengunjung menghujatnya.


Kesadaran mulai muncul dihatinya. Rasa sakit saat orang lain datar dan mengabaikannya. Dia yang merasa kalau selama ini jadi pujaan. Kini dipandang sebelah mata olehnya. "ohhh, beginikah rasanya" batinnya.


Sedang disekitarnya masih terdengar hujatan hujatan. Meskipun bukan dirinya yang dihujat dan direndahkan, ternyata sakit juga mendengarkannya.


"Louyin" sapa seorang lelaki paruh baya.


"dia menunggu dikamarnya" ucapnya.


Keduanya diantar seorang pelayan menuju kamar Chuan. Sepeninggalan kedua orang tersebut meninggalkan tanya para pengunjung rumah makan.


"tuan dan nona, adakah yang bisa aku bantu" ucap Chuan saat keduanya duduk dikursi yang tersedia dikamarnya. "namaku Tian Sun dan ini Louyin, kami dari balai lelang mutiara" ucapnya memperkenalkan diri.


"namaku Chuan, aku berasal dari klan chu" ucap Chuan. "maafkan sikap dia kemarin" ucap Tian Sun.


"tak masalah buatku" ucap Chuan santai.


"tentang apel emas" ucap Tian Tun lalu menerangkan tujuannya.


Bagaimana dia dapatnya.


Berapa yang dimilikinya.


Berapa dia jual.


Banyak pertanyaan keluar tanpa kendali.


"pertanyaan tuan terlalu banyak, bagaimana aku menjawabnya" ucap chuan sambil tersenyum.


"maaf" ucapnya tersadar.


"apa tuan mau mengajakku bekerjasama" tanya Chuan. "tak perlu tuan muda memanggilku tuan, karena usia panggil paman Sun saja" ucapnya.


"kalau tuan muda tidak keberatan" lanjutnya.


"panggil saja Chuan, kerjasama yang bagaimana maksudnya" kata Chuan.


"kami bisa menjadi penyalur kalau tu eh Chuan tidak keberatan" ucap Tian Sun.


Chuan lalu mengutarakan kalau dia berkeinginan menanam saham dibalai lelang. Tian Sun berusaha tetap santai. Dia menyingkirkan rasa sinis dan pesimis terhadap Chuan. Dan mengatakan kalau kantor pusat mereka di klan tian, sedang diklan gu adalah satu satunya cabang mereka.


Jika ada lima puluh juta koin emas, maka chuan akan memiliki 50% saham balai lelang mutiara. Saat ini Tian Sun adalah pemilik tunggalnya. Sedang Louyin adalah anak angkatnya yang sedang diajari untuk mengelola cabang diklan gu.


"guru" panggil chuan.


"beli dengan diamond" ucap Patriak Lion dipikiran chuan. "berapa nilai satu diamond" tanya Chuan pada Tian Sun.


"seratus koin emas" jawab Tian Sun.


"baik aku membeli saham balai lelang mutiara" ucap chuan lalu mengeluarkan peti berisi sejuta diamond.


"i i ini" ucap Tian Sun terbata saat melihat peti diamond yang ada dilantai.


"jumlahnya satu juta" ucap Chuan santai.


"maaf Chuan" ucapnya bingung, dia menjelaskan kalau hanya bisa memberikan 60% saja.


"atur saja dan aku disini tinggal delapan hari" ucap chuan. "boleh aku bertanya" ucap Louyin.


"silahkan"


"tentang penampilan tuan muda" ucapnya.


"tak perlu penampilan untuk bisa melakukan apapun" jelas chuan.


Saat kita sibuk dalam penampilan, bisakah kita bergaul dengan warga biasa, dengan anak anak gelandangan, dengan para pengemis? Sedangkan chuan hanya sebatang kara tanpa sanak saudara.


"tunjukkan tahapanmu" ucap Patriak Lion dalam pikitannya.


"tapi jangan pernah berpikiran buruk padaku" ucap Chuan lalu melepaskan semua tahapan pendekarnya.


Siluet emas menutupi tubuhnya. Tekanan yang besar keluar, membuat keduanya merasa terhimpit oleh tekanan dari energinya.


Sesaat Chuan menunjukkan, lalu menekan kembali ketahap menengah.


"maaf, kami tidak berani" ucap Tian Sun sambil jongkok.