Pendekar Hitam

Pendekar Hitam
# Kemarahan Tetua Tiga


Didalam kamar, Chuan memeriksa isi cincin dan kantong penyimpanan. Koin emas, koin perak, pil dan barang berharga lain. Semuanya dia masukkan dicincin naga, kemudian tidur.


Hangat mentari menyapa, sejuknya udara pagi bangkitkan jiwa. Kelima murid tetua dan Nenek Hong masih berkultivasi. Semuanya sudah menembus tahap bumi, dan focus mengalirkan energi kedentiannya. Sebentar lagi energi yang masih berputar ditubuhnya akan stabil.


Sedangkan anak anak lagi serius latihan dihalaman rumah bersama Tetua Tian. Latihan pagi ini tidak ditempat latihan seperti biasanya, karena Chuan ada janji dengan Xusei.


"pagi Chuan" ucap Xusei yang baru datang, ditemani dua wanita lain.


"pagi bi, kog pagi amat datangnya" ucap Chuan.


"silahkan masuk" lanjutnya.


"disini saja, kami mau melihat mereka latihan apa boleh" ucap Xusei.


"boleh, mari duduk diteras saja" ajak Chuan.


Ketiganya ditemani Chuan duduk santai sambil melihat anak anak yang berlatih. Xusei dan dua temannya sesekali bertanya tentang mereka. Bahkan ketiganya tak bisa menutupi kekaguman pada semua orangĀ  dirumah ini.


Sepenuh hati semua dewasa dan Chuan membagi kasih sayang. Juga bimbingan dan pengajaran yang tanpa pamrih.


Saat hari menjelang siang, anak anak dihentikan dulu latihannya oleh Chuan.


"kog berhenti kak" protes beberapa anak terdengar.


Chuan dengan santai menjelaskan alasannya. Juga tentang Xusei dan temannya yang telah lama menunggu anak anak selesai latihan.


"sekarang cuci muka dulu dan kembali kesini lagi" ucap Chuan menyelesaikan penjelasannya.


"asyik baju baru lagi"


"horee" terdengar teriak riang anak anak.


Xusei dan dua temannya, tersenyum melihat tingkah mereka. Bahkan beberapa tetes airmata keluar karena rasa haru yang hadir dihati.


Tak lama menunggu, anak anak sudah kembali dengan wajah segar. Xusei dan temannya mulai sibuk dengan anak anak. Chuan dan Tetua Tian hanya tersenyum melihat antusias mereka.


Enam orang terlihat keluar dari dalam rumah. Senyum tersungging diwajah mereka semua.


"selamat paman dan nenek" ucap Chuan saat mereka didepannya.


"terimakasih tetua" ucap mereka pada Chuan dan Tetua Tian.


Selanjutnya mereka tenggelam dalam senda gurau. Kehidupan baru hadir dengan peningkatan tahapan mereka.


Saat Chuan dan yang lain sedang sibuk dengan aktifitasnya. Kegemparan terjadi dijalan besar kota kingsan. Kondisi penatua dan dua pengawalnya yang setengah telanjang dan tertotok menjadi pergunjingan warga.


Meskipun tetua satu sekte utama telah melepaskan totokan dan menyuruh muridnya mengantar keduanya pulang namun warga tetap bergerombol dibeberapa tempat.


Pendekar hitam, nama yang selalu hadir dalam obrolan mereka. Lebih heboh lagi adalah kemarahan tetua tiga.


Hampir seratus murid berkumpul dihalaman rumah tetua tiga. Bahkan puluhan murid yang berjaga tadi malam sudah babak belur karena kemarahannya. Tetua dua yang datang berusaha meredakan amarahnya.


Harta kekayaan yang dikumpulkan tetua tiga, lenyap dalam semalam. Siapa pelakunya, dia masih buntu untuk menebaknya. Bahkan sampai siang dia melakukan penggeledahan diseluruh kamar murid muridnya.


Kehebohan yang dibuat Chuan berlalu dalam kurun dua bulan lebih. Namun nama pedekar hitam tetap menggema dan masih menimbulkan tanda tanya besar buat semua orang.


Saat ini Chuan sedang melihat pembangunan sektenya. Sebuah bangunan terbuka yang besar selesai dikerjakan. Berlantai batu tertata rapi dengan pagar kayu satu meter sebagai dindingnya. Terdapat pula pintu masuk dikeempat sisinya.


Jalan selebar 10m yang memanjang menghiasi paket besar. sebuah perencanaan matang sebuah sekte nesar dengan segala fasilitasnya. Dan beberapa gubuk sementara berjejer disela sela pohon dipinggir jalan.


Rumah Chuan yang memanjang didepan dojo tinggal merapikan saja. Bahkan beberapa rumah lain sudah dimulai pengerjaannya.


Teikong yang melihat Chuan sedang memperhatikan dojo, menghampirinya.


"bagaimana Chuan" tanya Teikong.


"baik, tapi sedikit lambat yaa" ucap Chuan.


"maaf, kami kesulitan menentukan titik yang kau maksud" jelas Teikong.


Beruntung mereka menyadari pohon yang rapat ditepi hutan. Dari situ kami membuka lahan ini. Untuk kayu hutan yang mereka tebang sepertinya hanya cukup untuk membuat rangka bangunan.


"harap kumpulkan semua disini paman, sekalian keluarga mereka yang ada digubuk" ucap Chuan. Teikong segera melakukan apa yang Chuan minta. Para pekerja dan seluruh keluarganya bergegas untuk berkumpul didalam dojo.


Dengan ilmu menembus dasar samudra, chuan memandang mereka satu persatu. Tanpa suara dia menembus tiap pikiran para pekerja dan keluarganya.