Pendekar Hitam

Pendekar Hitam
# Inti Batu Roh


"hahaha, apa kalian pikir bisa menghadang prajurit kekaisaran" teriak komandan Xhuan terdengar keras dan menggema. Suaranya dibuat tegas, namun dia hanya menggoda orang orang tersebut.


Sin Wan dan Tian Sun yang didepan berhenti. Saat yang lain mengikuti, namun para prajurit sebagian menyebar. Dengan sigap mereka memantau situasi ditempat tersebut.


Selain menjaga komandan mereka, yang paling penting adanya Putri Meilin dalam rombongan tersebut. Meakipun sebelum berangkat para prajurit dihimbau untuk tenang dan santun. Tapi insting dan kebiasaan yang terlatih menyebabkan mereka seperti itu.


"ampun tuan, apa salah suku kami" teriak pemimpin suku yang hendak sujud diikuti yang lain. Namun sebelum lutut mereka menyentuh tanah, sebuah kekuatan menahan untuk itu.


"bangunlah" teriak Tian Sun, dan ternyata dia yang mengerahkan energi qi nya agar mereka tidak bersujud.


"bangunlah kalian, biarkan kami masuk" teriak komandan Xhuan. Bersamaan dengan itu, Sin Wan dan empat pemuda suku turun dari kudanya.


"mereka adalah teman teman Chuan" teriak Sin Wan sambil berlari bersama empat lainnya, kearah pemimpin suku. Tatapan kosong karena terkejut dan ketakutan terlihat mulai pudar saat mendengar teriakan itu.


"Chu Chu Chuan,,,"


"Tuan Muda Chuan,,," ucap orang orang suku itu tergagap. Sosok sederhana yang mereka kagumi. Benarkah mempunyai teman seperti itu. Bahkan ada prajurit yang mengawal.


"apakah aku sedang bermimpi" ucap pemimpin suku.


"biarkan mereka maauk dulu" ucap Sin Wan. Lalu menyuruh para warganya memberi jalan. Sedang empat pemuda berlari kerumah dan memberitahu para wanita untuk keluar serta tak perlu takut.


Putri Meilin mengajak komandan Xhuan dan yang lain turun dari kuda. Mereka memasuki perkampungan tersebut dengan berjalan kaki. Sedang para prajurit membuat tenda tak jauh dari rumah warga.


Antara gembira, hormat dan takut, berkumpul dalam hati para warga. Apalagi identitas putri kaisar terungkap, membuat rasa kikuk mereka semakin menjadi.


Butuh waktu lama mereka menenangkan diri. Hasil penukaran bahan obat dibuka oleh dua pemuda. Bahan pokok dan pakaian yang cukup banyak dikeluarkan dari kantong penyimpanan.


Sedangkan Sin Wan mengeluarkan senjata dan peralatan lain dari cincinnya.


"semuanya adalah bantuan dari tuan putri" jelas Sin Wan. Serta dalam beberapa hari kedepan, komandan Xhuan dan para prajurit akan membantu penataan kampung mereka.


Suasana semakin mencair, percakapan diantara mereka mulai terjadi dengan terbuka. Para wanita dan anak anak berkumpul dengan putri Meilin dan istri komandan Xhuan.


***


Chuan yang telah meninggalkan kedai, melesat kearah yang sesuai dengan informasi dari beberapa orang. Saat gelap datang, ketiganya berhenti disebuah lembah yang cukup dalam.


Kesunyian menyelimuti malam dilembah tersebut. Meakipun energi cukup bagus, ketiganya tidak langsung berkultivasi. Chuan mengedarkan energi spriritualnya, dengan jangkauan yang sangat luas.


Setelah mantab ditahap kaisar, kontrol energi spiritualnya semakin mendekati sempurna. Riak riak kecil dapat dirasakannya. Geliat binatang malam mulai beraktifitas diketahuinya.


Sebuah riak energi ditebing lembah tersebut juga dalam pantauan Chuan.


"biar aku yang memeriksanya" ucap Rouyan yang juga merasakannya. Tanpa menunggu jawaban Chuan, Rouyan melesat meninggalkannya.


Chuan hanya tersenyum dan diam melihat Rouyan pergi. Sedang Luosan malah tenggelam dalam meditasinya. Membuat Chuan terpaksa menjaga anak tersebut.


Tempat yang terpencil, seakan terisolasi dari dunia luar. Chuan segera melesat tinggi dan melayang diudara. Semakin tinggi dia melayang, kini nampak beberapa titik cahaya dikejauhan.


Ternyata tempat ini memang cukup tersembunyi. Lima titik cahaya disekitar tempat tersebut paling dekat hampir seratus kilometer. Itu pun menurut perkiraan Chuan, lalu turun ditempat semula.


"hahaha, untung besar" tawa Rouyan yang mendekati Chuan.


"ada apa paman" tanya Chuan


"gua tersebut ditutupi bebatuan" jelas Rouyan


Namun dari sela penutup gua, dapat mengintip batu roh yang bersinar didalamnya. Meskipun tutup batu seperti disengaja oleh seseorang. Tapi saat ini sudah ditumbuhi semak dan rumput liar.


"mungkin orang yang serakah ingin menguasai untuk diri sendiri" ucap Rouyan


"hahaha, apa bedanya dia dengan kita" ucap Chuan sambil menunjukkan wajah rakusnya. Karena diapun membayangkan untuk menguras isi gua tersebut.


"ini sisi lain yang baru aku tahu, whahahaha" ucap Rouyan sambil tertawa


"sisi baik, kejam, licik, jeli sudah sering kau tunjukkan" ucap Rouyan.


"namun sisi rakusmu baru kali ini,, hahahaha" lanjutnya sambil terus tertawa.


"huhhh,,, sial" gerutu Chuan


Suara percakapan keduanya membangunkan Luosan.


"ada apa kek" tanya Lousan


"ada orang rakus yang mengikuti kita" jawab Rouyan


"mana orangnya biar aku yang menghajarnya" ucap Luosan


"sialll,,, ayo pergi" ucap Chuan membalas candaan Rouyan


"maaf kak, aku tidak tahu" ucap Luosan yang menyadari kalau Chuan yang dimaksud kakeknya.


"kau ikuti kami, saatnya untuk bekerja, hahaha" ucap Rouyan pada Luosan.


"baik" balas Luosan


Ketiga orang itu melesat, kearah gua yang dimaksud. Setelah membuat celah, ketiganya bergantian masuk kedalam gua. Dari dalam gua ketiganya menutup kembali gua tersebut.


"awas" teriak Rouyan.


"hati hati" lanjutnya


"apa itu kek" tanya Luosan


"cacing darah, binatang itu menyerap energi batu roh untuk hidup" jelas Rouyan


Meskipun tidak terlihat berbahaya, namun akan terus menyerap energi saat memasuki tubuh kita. Dan kemampuan hidupnya yang sangat kuat. Tapi kelemahan dari binatang tersebut adalah api.


Mendengar penjelasan Rouyan, Chuan segera menjentikkan api dijarinya. Satu persatu terlihat api dilesatkan dan melayang rendah diatas lantai gua.


"jaga api itu tetap stabil, biar kami berdua yang menggali" ucap Rouyan sambil mengeluarkan dua tombak yang cukup panjang. Salah satu item yang ada dicincin Raja Luo adalah sepasang tombak tersebut.


Kerjasama ketiga orang tersebut terus berlangsung. Seakan mereka tak kenal lelah dan tak tahu akan waktu. Setelah hampir lima hari menggali sampailah ketiganya disebongkah batu yang sangat besar.


"adakah akibatnya pada wilayah ini jika itu kita ambil" tanya Chuan


"selama sisi yang lain tidak kita gali, seharusnya tidak masalah" ucap Rouyan


"maksudnya setelah mengambil itu, kita terus menggali" lanjut Rouyan


"tidak, penggalian kita sampai disini" ucap Chuan


"setelah inti batu roh itu, akan banyak batu roh tersebar kalau kita terus menggali" ucap Rouyan


"kita berhenti disini dan meneruskan perjalanan" ucap Chuan.


"baiklah, kita bertiga bekerjasama untuk itu" ucap Rouyan sambil tersenyum


"biar aku mencobanya" ucap Chuan lalu menembakkan api ungunya kedinding dimana inti batu roh berada. Beberapa cacing darah terlihat hangus dan sebagian berlari masuk dalam tanah.


Chuan lalu mengeluarkan giok dimensi ruangnya. Selanjutnya dengan ilmu menembus dasar samudra, dia mencoba mengoyahkan batu roh tersebut. Reruntuhan batu kecil terdengar saat Chuan melakukan hal tersebut.


Saat batu roh tersebut mulai lepas dari dinding gua, Rouyan dan Luosan sedikit menjauh dibelakang Chuan.


"pergilah dulu" ucap Chuan, mengantisipasi kalau gua tersebut runtuh.


"baik" sahut Rouyan lalu melesat keluar bersama Luosan.