
Sebelum Rouyan sempat menutup pintu, terlihat dua pelayan mendatanginya.
"ada apa" tanya Rouyan
"kami mengantar makan malam untuk tuan" jawab pelayan kecil
"oo, silahkan masuk" jawab Rouyan
Kedua pelayan masuk dan menata hidangannya diatas meja. Selesai melakukannya keduanya lalu berjalan keluar.
"kenapa buru buru" ucap Chuan yang sudah duduk diatas tempat tidur
"oohh, maaf mengganggu Tuan Chuan" ucap pelayan kecil
"tak apa, siapa namamu" tanya Chuan
"Lin Wei, tuan" ucapnya
"adakah buku menu untuk rumah makan dibawah" tanya Chuan
"tolong ambilkan" ucap Chuan
Lin Wei melangkah ke meja mengambil buku menu lalu menyerahkan ke Chuan. Seporsi hidangan lengkap dan arak dipesannya. Lima belas koin emas untuk membayar nilai pesanannya.
"dua koin untukmu, yang satu berikan pada temanmu" ucap Chuan saat Lin Wei bingung melihat koin yang diterimanya. Karena jumlah yang dipesan Chuan senilai dua belas koin emas.
"terima kasih tuan" jawab Lin Wei
"bisa diantar cepat" ucap Chuan
"baik, akan kami usahakan" jawab Lin Wei dan segera berlalu pergi dengan temannya. Chuan tersenyum melihat raut bahagia dikedua pelayan tersebut. Rouyan hanya mematung melihat kejadian tersebut.
Tak perlu ratusan atau ribuan koin emas untuk membahagiakan orang lain. Kadang satu atau dua koin sudah membantu banyak bagi mereka. Sedangkan bagi para pendekar hanya setitik debu dari sumberdaya yang diperlukan untuk budidayanya.
Sebagai contoh pil emas, mereka akan mengejar puluhan bahkan sampai ratusan koin emas untuk mendapatkan beberapa butir darinya. Mendengar penjelasan singkat Chuan, Rouyan hanya menghela napas pelan.
Saat keduanya asyik ngobrol santai, kedua pelayan datang lagi. Setelah menaruh pesanan Chuan, keduanya hendak pergi. Tapi Chuan menahannya dan menyuruh keduanya menemaninya makan. Awalnya keduanya takut, namun saat Chuan tetap menyuruh pintu kamar dibiarkan terbuka akhirnya mereka menerima.
Chuan dan Rouyan yang bisa memancing suasana santai, membuat kecanggungan kedua orang itu perlahan berkurang. Dari kedua pelayan tersebut Chuan mendapat gambaran dari garis bawah dikota doucan.
Selesai makan, Chuan langsung meminta mereka berdua merapikannya. Tanpa canggung lagi dan tetap bersemangat keduanya membereskan bekas makan malam sampai bersih. Namun sebelum pergi, Chuan berpesan, kalau besok pagi dia tidak ada dikamar keduanya diminta untuk menghabiskan jatahnya.
Malam berlalu dan fajarpun masih gelap menyapa. Saat suasana penginapan lengang dan sepi, dua sosok berjalan santai keluar dari tempat itu. Dua penjaga hanya bengong dan terkejut, sepagi ini mereka berdua sudah beraktifitas. Chuan dan Rouyan lalu melesat menuju rumah Lin Xhuan.
Para Prajurit yang berjaga terkejut atas kedatangan keduanya.
"jangan bangunkan komandanmu" ucap Chuan
"baik" jawab mereka masih kebingungan.
Namun Chuan yang berjalan dan mulai duduk santai dikursi depan rumah, membuat para prajurit menghela nafasnya. Mereka melirik kedua orang yang mulai asyik dengan arak ditangannya.
Mentari mulai menyapa dengan hangatnya. Teriakan semangat Lin Dong memecah kesunyian dalam rumah itu. Chuan dan Rouyan hanya tersenyum mendengarnya.
"Paman Chuan belum pulang, nanti siapa yang akan jadi saksi" ucap Lin Xhuan
"ya ibu yang menghitung, paman pasti percaya" teriak Lin Dong bersemangat.
"iya, ayo ibu yang menghitungnya"
"horree, ayo bu sekarang" ucap Lin Dong
Saat pintu dibuka, sesosok anak kecil segera melompat.
"lha itu Paman Chuan" teriaknya saat menyadari Chuan dan Rouyan yang sedang duduk santai.
"ohhh" guman Lin Xhuan dan istrinya terkejut.
"sudah mulai sana, tapi pelan dulu kemudian bertambah cepat" ucap Chuan
Meskipun lapangan tersebut tidak terlalu luas, namun cukup besar bagi anak seperti Lin Dong. Dua jam berlalu sudah hampir tiga puluh putaran. Kecepatan dan daya tahan anak itu memang bagus. Tetap dengan kecepatan yang stabil dia terus berlari.
Mendekati empat jam, kecepatan Lin Dong sedikit berkurang. Keringat yang deras, keluar dari tubuhnya. Empat jam sudah terlewati, saat tepat lima jam lima puluh dua putaran dilewatinya.
Chuan dan Rouyan saling pandang, melihat semangat dan perjuangan anak itu. Saat terik mentari mulai menyengat, semangatnya tidak pudar.
Tiba diputaran ke enam puluh lima, Lin Dong terlihat mulai goyah. Setelah beberapa kali goyah, saat putaran di tujuh puluh dua tiba tiba dia mulai jatuh. Lin Xhuan dan istrinya terlihat cemas dan menggenggamkan erat kepalan tangannya.
Melewati putaran tujuh puluh dua, Lin Dong terlihat pucat. Chuan segera melesat dengan cepat, saat anak itu jatuh pingsan. Kedua orang tuanya hanya terbengong karena terkejut. Teriakan para prajurit juga terdengar melihat kejadian itu.
Chuan membuka semua baju Lin Dong dan mengangkat anak itu dengan energi qi. Melihat anaknya melayang dalam perawatan Chuan, Lin Xhuan dan istrinya tidak jadi menghampiri tempat itu.
Tetap dalam keadaan melayang, Chuan melempar puluhan jarum perak. Seluruh tubuh anak itu tertancapi oleh jarum perak dan nampak mengerikan. Sesekali Chuan memutar Lin Dong dengan posisi kepala dibawah.
Mendekati satu jam perawatan Lin Dong, tiba tiba anak itu memuntahkan darah kental dengan warna agak gelap. Chuan tersenyum melihatnya, namun yang lain bengong mengetahui hal itu.
Chuan mengangkat tangan kanannya, dan puluhan jarum perak tercabut dari tubuh Lin Dong dan masuk dicincin dimensi. Perlahan Lin Dong membuka matanya, dan anak itu tertegun karena masih melayang.
Tubuh Lin Dong terlihat lebih cerah dan ada aura yang terpancar dari dalamnya. Perlahan Chuan menurunkannya, dan segera menyuruhnya memakai baju. Dia memberikan pil emas dan menyuruhnya berkultivasi seperti yang diajarkannya.
Ternyata saat pingsan, Chuan menarik jiwa Lin Dong keruang jiwanya untuk mengajarkan anak itu cara berkultivasi.
"terima kasih guru" ucap Lin Dong sambil bersujud tiga kali dihadapan Chuan.
"anak ini" guman Chuan saat melihat Lin Dong yang berlari ditengah lapang. Setelah menelan pil emas, kemudian dia segera berkultivasi.
Chuan berjalan kearah Lin Xhuan dan istrinya. Melihat keduanya masih terisak Chuan tersenyum canggung.
"maafkan aku, saat usia lima belas tahun penyumbatannya bisa permanen dan dia tak akan bisa membentuk dentiannya" ucap Chuan
"terima kasih Tetua Chuan" ucap Lin Xhuan dan istrinya sambil membungkuk dengan lutut ditanah.
"bangunlah lutut kita adalah emas, hanya orang tua dan guru kita yang berhak menerimanya" ucap Chuan sambil mengalirkan energinya yang membuat keduanya berdiri.
Para prajurit yang berdiri disekeliling lapangan tertegun melihat kejadian yang diluar imajinasi mereka. Kecepatan Chuan dan cara merawat yang aneh. Menjadikan mereka terdiam selama proses itu dan sampai saat ini.
"tolong rahasiakan kejadian hari ini" ucap Chuan bergema, dan membunyarkan linglung para prajurit.
"baik" teriak prajurit sambil menangkupkan kedua tangannya
Semuanya mulai membubarkan diri dan meninggalkan prajurit yang dapat tugas jaga. Chuan juga mengajak suami istri itu kembali kerumahnya.
Keempatnya mulai bercengkrama diteras rumah Lin Xhuan. Chuan mulai menjelaskan apa yang dilakukannya. Semangat anak itu harus disertai dengan tehnik kultivasi, kalau dibiarkan malah menghambat saat dia semangat dan rajin berlatih fisik. Bahkan bisa berakibat fatal dikemudian hari.
Satu jam obrolan itu berlalu, teriakan Lin Dong yang ceria terdengar dikejuhan. Dia terlihat berlari cepat kearah rumahnya. Sampai diteras dia melompat kepelukan ayah dan ibunya.
"aku bisa berkultivasi bu" ucap Lin Dong dengan riang
"bagaimana bisa" balas ibunya sambil melihat suaminya
"hehehe, Guru Chuan yang mengajarkan tadi" ucap Lin Dong polos
"tolong rahasiakan hal ini" ucap Chuan lalu menjelaskan. Bertingkahlah seperti biasa dan jangan sombong. Dengarkan selalu apa yang diajarkan kedua orang tua.
"sekali aku tahu kau membantah orang tuamu, jangan lagi panggil guru padaku" ucap Chuan tegas.
Lin Dong segera turun dari pangkuan ibunya dan menghadap Chuan.
"aku akan ingat pesan guru" jawabnya sambil bersujud.
"sudahlah bangun dan mandi sana" hardik Chuan sambil tersenyum.
"maaf, aku gak menyuguhkan apa apa, bagaimana ini" ucap istri Lin Xhuan.
"tak perlu, kami masih ada keperluan dan ini pedang untuk Lin Dong" ucap Chuan sambil menyerahkan pedang tumpul dan beranjak pergi.
Lin Xhuan dan istrinya hanya bengong saat Chuan dan Rouyan melesat pergi. Tak ada kata kata yang keluar karena kedua orang itu sudah menghilang dari pandangan mereka.