
Bulat sudah tekad semuanya untuk mengikuti Chuan. Sikap dan sifatnya selama ini telah melekat dihati semuanya.
Bahkan ketika para tetua menakut nakuti anak anak, tentang segala kesulitan dan bahaya hidup dihutan tidak membuat goyah tekad mereka. Para tetua tertegun dan kagum atas semangat dan tekad yang begitu kuat saat menentukan pilihan.
"saatnya kalian beraktifitas dan yang lain bantu didapur" ucap Bibi Fei.
"baik" teriak anak anak, dan mulai berhamburan melakukan aktifitas masing masing.
Chuan yang sedang keluar ternyata menuju serikat dagang. Chuan dengan santai menuju meja Ceiyun.
"selamat sore tuan putri" ledek Chuan.
"huhhh, jangan meledek" ucapnya sambil senyum.
"ada apa nich" lanjutnya.
"aku perlu sesuatu" jelas Chuan.
Dia memerlukan lima tungku untuk membuat pil dan banyak pil nutrisi. Juga dia sampaikan rencana untuk pindah dalam jangka beberapa bulan kedepan. Dan juga menanyakan berbagai perkembangan serta berita didunia para pendekar.
"mari ikut kegudang" ajak ceiyun pada chuan. Keduanya menuju gudang penyimpanan.
"dimana kepala cabang" ucap chuan.
"saat ini sedang dikantor pusat, kemungkinan akan ada pergantian kepala cabang" jawab ceiyun.
"ini beberapa tungku, silahkan dilihat" lanjutnya. Chuan lalu melihat berbagai jenis tungku yang tersedia. Tidak mau gegabah, dia minta pertimbangan pada Patriak Lion
"guru" ucap Chuan melalui pikirannya. Patriak lion menuntun lewat pikiran Chuan. Ada tiga tungku yang kotor agar diambilnya. sedang lima lainnya dipilihkan Patriak Lion saat Chuan menyentuhnya.
"ini semuanya" tanya Ceiyun.
"iya, berapa" balas Chuan.
"yang lima 2000 koin emas sedang yang tiga aku tidak tahu" ucap Ceiyun lalu menjelaskan harga sudah discont buat Chuan.
Tiga tungku yang kotor itu sudah lama sekali dan dia tidak berani memastikan kwalitas pil jika menggunakan tungku itu.Entah karena apa, ketiga tungku tersebut tidak ada yang memilihnya.
"kalau delapan ini aku beli 3000 koin emas bagaimana" tanya Chuan.
"bisa" jawab Ceiyun.
Delapan tungku itu lalu dimasukkan Chuan dicincin naganya. Kemudian menyerahkan 3000 koin emas. Keduanya lalu kembali keruang depan.
Karena sore agak sepi maka keduanya dengan leluasa bercakap cakap. Banyak yang disampaikan oleh Ceiyun. Bahkan tentang pendekar hitam yang beberapa bulan yang lalu beraksi, saat ini mulai dicari keberadaannya.
"wah siapa orang itu, dan untuk apa mencarinya" tanya Chuan santai. Menurut Ceiyun pihak serikat juga tidak tahu tentang identitasnya.
Tuan Guan yang juga ditugaskan menyelidikinya. Namun dirinya menolak karena lebih mementingkan perkembangan serikat dibenua timur.
Sedang beberapa sekte aliran hitam dan para perampok ingin balas dendam. Untuk aliran putih dan netral ingin supaya dia membantu keamanan sektenya.
"hahaha, terlalu berani apa nekad yaa, orang itu" ucap Chuan menyembunyikan dirinya, karena dia tahu ceiyun juga curiga itu dirinya.
"entahlah, mungkin dia memang berani" balas Ceiyun. "baiklah kalau begitu lain waktu aku datang lagi" ucap Chuan lalu pamit.
"hati hati, Chuan" balas Ceiyun
"terimakasih" ucapnya lalu berjalan keluar.
Saat Chuan pergi, Ceiyun mulai berubah pikiran jika pendekar hitam pasti bukan Chuan. Kalau dia kenapa malah mentertawakan seperti itu.
Sedang Chu Guan begitu terkejut saat mendengar nama pendekar hitam dan meneriakkan nama Chuan. Mungkin gurunya, atau temannya?
"ahh biarlah lagian kenapa juga aku pikirkan" guman Ceiyun.
Chuan sedang mengunjungi serikat pekerja. Saat masuk dia dihentikan seorang penjaga.
"apa tujuanmu" tanya penjaga.
"aku ingin bertemu kepala cabang" ucap Chuan
"sebentar lagi kami tutup, kalau tidak penting bisa datang lagi besok" ucapnya.
"maaf tapi ini sedikit penting" balas Chuan.
"whahaha, orang jelek sepertimu bilang penting" teriak penjaga membuat pelayan yang sedang bersih bersih menghentikan aktifitasnya.
Seorang perempuan berlari keruang dalam.
"tak perlu berteriak, aku cuma sebentar" ucap Chuan. Lihat mereka semua sudah persiapan untuk pulang" ucapnya. "iya aku hanya perlu sebentar" ucap Chuan.
"jangan maksa kau, sudah jelek tak tahu diri" hardiknya semakin kesal.