Pendekar Hitam

Pendekar Hitam
# Membunuh Seorang Penyusup


Patriak Chen hanya terdiam melihat kepergian Chuan.


"dia tetua satu dari sekte hutan suci" tanya patriak pada Tetua shusin.


"maaf patriak, dia yang minta untuk tidak diungkapkan" jawab Tetua Shusin.


"tetua satu ada ditahap menengah, bagaimana tetua yang lain" celoteh tetua dua yang sebelumnya sangat sinis memandang Chuan.


"maaf patriak, aku menyusul Chuan dulu, bagaimanapun dia adalah tamuku" kata Tetua Shusin


"baiklah tetua" jawab Patriak Chen


"untuk tetua yang lain, dibawah posisi dia ada sepuluh tetua tahapĀ  langit dan lima puluh keamanan tahap bumi" ucap tetua Shusin.


"tak perduli apa tahapan kalian, tak seharusnya memandang orang lain dengan sebelah mata" lanjut Tetua Shusin lalu menghormat pada patriak sebelum meninggalkan ruang pertemuan.


Sepeninggalan Tetua Shusin, Patriak Chen buru buru berlalu dari balai agung. Kondisi keamanan sekte macan putih terasa terbelah jadi dua kubu. Para tetua yang sebelumnya tenang, hanya berharap Patriak Sepuh selesai dalam meditasinya.


Chuan yang sudah keluar balai agung dihampiri oleh dua wakil Tetua Shusin. Dia diajak melihat tempat latihan para murid. Ada 80an murid inti dibawah asuhan Tetua Shusin yang sedang berlatih. Rata rata ditahap mahir awal dan menengah. Mereka hadir dari berbagai klan dan beberapa murid yang ditemukan acak oleh mereka.


"tak ada tiga puluh murid yang benar benar patuh pada Tetua Shusin" terdengar Patriak Lion menyampaikan penilaiannya.


"maksud guru" ucap Chuan lewat pikirannya.


Banyak murid yang hanya mementingkan klan mereka. Ada juga murid inti dari tetua lain yang ditugaskan untuk memata matai Tetua Shusin. Dan beberapa penjelasan lain yang disampaikan Patriak Lion lewat pikiran Chuan.


Selesai latihan semua murid dikumpulkan oleh kedua wakil tetua.


"ini saudara Chuan, dia sahabat baik Tetua Shusin" jelas wakil tetua.


"semoga Chuan berkenan memberi sedikit bimbingan pada murid kami" lanjutnya.


"kalau sebagian aku mungkin bisa" jawab Chuan. "silahkan untuk memilih murid yang beruntung" balas wakil tetua. Chuan mulai memilih sesuai yang diarahkan oleh patriak Lion.


Dibantu oleh dua wakil tetua, dia mengumpulkan dua puluh tujuh murid yang dipilih. Semua murid yang beruntung dibawa kekediaman Tetua Shusin. Keributan terjadi sebentar karena rasa iri dan penasaran diantara mereka. Terlihat empat murid yang masuk diam diam dalam barisan.


Tetua Shusin yang sudah sampai dikediamannya, keluar saat melihat rombongan murid yang dibawa Chuan. Dia tersenyum senang saat barisan muridnya tiba dihalaman.


"whahaha kenapa dari muridku hanya ini yang kau pilih" ucap tetua Shusin setelah mendengar penjelasan dari wakilnya.


"hehehe maaf tetua"


"tak masalah mari masuk diruang latihan" ajak tetua Shusin, kemudian pergi keruang latihan disamping kediamannya. Semuanya mengikuti dibelakang.


"duduklah dan beri jarak satu meter diantara kalian" ucap Chuan setelah semua murid masuk. Tetua Shusin dan keempat wakilnya hanya berdiri menanti apa yang akan Chuan lakukan.


"kalian berempat berdiri didepan" ucap Chuan sambil menunjuk para penyusup itu.


"plak, plak, plak, plak" terdengar suara tamparan beruntun membuat seorang terhuyung dan tiga lainnya malah jatuh kebelakang.


"siapa kalian" tanya Chuan pada keempat murid yang telah berdiri lagi.


"kami murid tetua Shusin"


"plakk" tamparan Chuan mendarat disalah satu orang itu.


"siapa kamu" tanya Chuan agak keras. Tetua Shusin dan wakilnya terkejut dengan pertanyaan Chuan.


"jawab, jangan kira aku takut untuk menyiksa bahkan membunuhmu" lanjut Chuan


"sekali lagi aku tanya, siapa kalian" ucap Chuan.


"aku,,," jawaban seorang murid tercekat saat melihat tatapan Tetua Shusin.


"tetua dua menyuruhku memata matai Tetua Shusin" lanjutnya dengan gemetar. Jawaban ringkas yang membuat Tetua Shusin dan wakilnya terkejut.


"siapa lagi temanmu" tanya Chuan.


"Patriak Chen, silahkan masuk" ucap Tetua Shusin.


"silahkan dilanjut" ucap Patriak Chen sambil terus bergabung dengan Tetua Shusin dan yang lain.


"siapa kau" ucap Chuan


"whahaha kalau tak ada para tetua, kau pasti mampus" jawabnya geram.


"masalah aku mampus itu belakangan, apa yang kau cari disini" tanya Chuan.


"sepertinya kau tahu identitasku, siapa kau sebenarnya" tanya murid penyusup penasaran.


"hahaha, semakin penasaran yaa" ucap Chuan sambil menaikkan sutra hitam tipis yang biasa dipakai menutup wajahnya.


"ka kau Pendekar Hitam" ucapnya sambil melepas tahapan yang disembunyikannya.


"terlambat kau menyadarinya" ucap Chuan.


"pedang sunyi hutan suci"


"hiaatttt" teriak Chuan


Tak sadar serangan fatal yang dilepaskan Chuan, penyusup malah mengejek.


"semakin sunyi semakin pelan, ilmu rendahan kau pamerkan".


"whahaha berjuanglah, kini saatnya serius"


"hiiaaaatttttt" teriak Chuan lebih kencang.


"kamu juga pendekar hitam"


"benang emas mulai mengganggu khan, hahaha" teriaknya lebih lantang.


Angin yang berisik diruangan tersebut tak membuat penghuni sekte lain bertanya tanya.


"krackkk, jleeebbb" suara tongkat langit menghancurkan pelindung lawan dan langsung menembus tubuhnya.


"acchhhh" teriaknya sambil muntah darah.


"bagaimana bisa??"


"teknik pedang sunyi yang tadi adalah pamungkas, energi qi yang aku keluarkan berfungsi memutus urat nadimu yang aku pikirkan, sedang tongkatku hanya pengalihan saja" jelas Chuan


"whahaha, hahaha, hahaha" tawa yang keras untuk meledakkan dirinya ternyata gagal. Teknik pedang angin begitu kejam, membuat kepalanya lepas sebelum meledak.


"Chuan" sapa Patriak Chen.


"ada apa patriak" tanya Chuan


"kau sudah sadar" lanjutnya


"bang,,,,t emang dilihat kaya orang gila ngamuk yaaa" teriak Chuan


"kalau lagi konyol gak ketulungan, kalau lagi serius juga gak ketulungan, tapi pas lagi kejamnya datang total aku bahkan gak pernah banyangin" kata Tetua Shusin


"whahaha komplit" ucap Patriak Chen.


"semuanya berdiri" teriak Chuan pada murid Tetua Shusin.


Hampir semua murid gemetaran menyaksikan kejadian barusan. Suatu hari kalian akan mengalami yang seperti tadi. Apakah jadi korban atau melawan, jawabannya ada ditekad kalian.


"yang mau muntah silahkan keluar dan cepat kembali" ucap Chuan. Semuanya keluar untuk menumpahkan isi perut mereka. Sementara Chuan mengeluarkan dua guci besar arak yang harum.


Sambil menunggu para murid, Chuan melepaskan dua api biru untuk membakar mayat tersebut. Kedua api tersebut akan terus menyala sampai mayatnya menjadi abu.