Pendekar Hitam

Pendekar Hitam
# Dua Tahun Berlalu


Semua kereta telah penuh oleh para wanita dan anak anak.


"kalian jalan dulu dan kembali lagi" ucap Chuan.


"baik kak" jawab anak asuhnya serempak.


"yang lain mari berjalan kaki dulu" lanjut Chuan sambil berjalan. Para pemuda tetap mengikuti dibelakangnya. Begitupun para warga yang terasa lebih santai dan diwarnai dengan obrolan mereka. Kesigapan para kusir kecil menjadi topik pembicaraannya.


Saat mereka sampai dibatas wilayah klan tian dan hutan suci, terlihat kereta sudah berjajar rapi. Semua warga naik kereta kuda, namun tersisa beberapa pemuda yang masih bersama Chuan.


"kalian naik didepan bersama kusirnya" kata Chuan.


Perlahan semua kereta mulai menyusuri jalanan. Suasana sunyinya malam kini pecah oleh kehadiran warga baru di wilayah hutan suci. Nenek Hong dan Ceiyun menyibukkan diri didapur umum. Tanpa ada yang meminta, para wanita segera membantu keduanya.


"Chuan" sapa Ceiyun saat melihatnya memasuki dapur umum.


"apakah persediaan kalian masih cukup" tanya Chuan.


"tinggal sedikit, dan rencana besok mau belanja" ucap nenek Hong sambil mengajak Chuan keruang depan.


Keduanya menjelaskan tentang kesibukannya karena ada warga baru yang datang.


"kalian dan yang lain hanya memantau dan membagi tugas bagi mereka" jelas Chuan sambil menambahkan rencana kedepan tentang wilayah hutan suci.


"baiklah kalau begitu kami paham" ucap Ceiyun.


Chuan lalu melangkah keluar, diikuti keduanya sampai halaman.


"cari orang untuk memasukkannya" ucap Chuan sambil mengeluarkan bahan makanan dan arak dari cincin naganya.


"gila, darimana ini" ucap nenek Hong tetap terkejut dengan yang dilakukan Chuan.


"kurang yaa" canda Chuan.


"tetap belanja untuk kepeluan lain, sambil mengajak anak anak untuk mengusir kejenuhannya" ucap Chuan.


"baiklah, aku panggil para laki laki biar menata diruang depan" ucap nenek Hong.


"iya, aku juga mau istirahat dulu" balas Chuan.


Hari terus berjalan, sedang para pemuda sudah pulih keadaannya karena perawatan Tetua Lifan dan Nenek Hong. Untuk para warga baru dengan senang hati mengikuti semua yang dijadwalkan sekte hutan suci. Tiap pagi mereka berlatih dasar ilmu silat dibawah bimbingan Teysan dan yang lain.


Para anak asuh Chuan sebagian melatih anak anak baru, yang lain melatih para wanita. Selesai berlatih mereka semua membantu pembangunan wilayah sesuai yang direncanakan.


Bulan berganti tahun, tak terasa dua tahun telah berlalu. Wilayah hutan suci yang dulu sepi kini menjadi hidup. Luas perkampungan yang sudah dibangun mencapai 50km2.


Meskipun banyak rumah yang masih kosong, namun tertata dan terawat rapi. Bahkan tiga bangunan besar juga telah jadi. Balai pengobatan, balai pil, dan balai perdagangan dan perencanaan.


Saat ini tercatat ada ratusan murid disekte hutan suci. Diluar pagar hutan suci mulai berdiri rumah rumah warga. Mereka merasa nyaman dekat dengan sekte hutan suci.


Balai pengobatan, bangunan besar paling sibuk saat ini. Banyak warga dari klan chu, tian, gu dan xu yang dekat dengan hutan suci datang untuk berobat. Tetua Lifan dan Nenek hong yang mengelolanya, namun tak ada tarif untuk pengobatan yang dilakukannya.


Hampir semua anak asuh Chuan senang membantu dibalai pengobatan. Mereka merasa dirinya berguna bagi orang lain. Sebagian anak laki laki membantu melatih para murid baru.


Teysan dan Ceiyun selalu sibuk dengan beberapa serikat dagang dan sekte lain yang ingin bekerjasama dengan balai perdagangan dan perencanaan. Keduanya begitu selektif dalam memilih mereka.


Sebulan dua kali, perwakilan serikat dagang datang untuk pembagian pil, bahan obat obatan dan buah langka. Jumlah yang dibatasi membuat harga barang barang tersebut cukup stabil dipasaran.


Tiga sekte besar dan sekte kecil diklan tian sudah datang berkunjung. Hanya para tetua yang menemui mereka. Selain Tetua Shusin dari sekte macan putih tidak ada bertemu Chuan, karena mereka memandang sebelah mata padanya.


Semua sudah yang tinggal dihutan suci sudah mengetahui sikap dan sifat Chuan. Tak ada yang lebih tinggi atau rendah, semuanya sama baginya. Kepada siapapun selalu ramah namun kekonyolan dan usilnya membuat siapapun diwilayah hutan suci segan dan hormat padanya.


Hutan seluas 100km2 masih dibiarkan alami belum dikelola karena menunggu selesainya pembangunan wilayah utama sekte hutan suci.


Malam ini semua tetua, keamanan dan juga orang yang telah ditunjuk Chuan berkumpul.