
Rouyan yang baru keluar dari kultivasinya, telah kembali ketahap surgawinya. Kontrol energi yang sempurna membuatnya seperti orang biasa. Kemampuan tambahan bagi siapapun yang menerobos tahap surga. Hanya akan terasa energi yang besar saat dia menghendakinya.
"berapa lama aku didalam pagoda" tanya Rouyan
"hanya satu setengah tahun, paman" jawab Chuan
"haahhhhhh" guman Rouyan
"bagaimana rencana selanjutnya" tanya Chuan
"keberangkatannya kita tunda dulu" jelas Rouyan. Saat didalam pagoda, dia telah berjanji untuk menghidupkan kembali sekte ini. Selain itu, untuk nama sekte diserahkan pada Chuan.
Chuan mengajak Rouyan, Luosan serta dua ratu lebah kerumah yang ditempatinya. Selain itu dia juga membubarkan para lebah untuk kembali dalam aktifitas mereka.
Kelimanya berbincang dengan suasana yang santai. Nama sekte gunung suci disarankan oleh Chuan. Serta penempatan para prajurit lebah akan dipindah kerumah yang berdekatan dengan ratunya. Rumah dikiri kanan gerbang teleportasi akan ditempati Chuan dan Rouyan bersama cucunya.
Empat rumah disisi kiri dan kanan yang saling berdekatan akan diberi pagar tertutup, untuk keamanan dan kenyamanan para lebah. Karena dalam satu setengah tahun ini, jumlah mereka sudah meningkat.
"sepertinya kita kalah dengan dua ratu lebah ini" ucap Rouyan memandang keduanya.
"hihihi sumberdaya dari Tetua Chuan yang meningkatkan reproduksi kami" ucap Lin Yu sambil tersenyum.
"benar, meskipun setetes esensi sangat melemahkan kami, namun cairan yang diberikan tetua sangat bermanfaat untuk pemulihan" ucap Lin Ling bersemangat.
Rouyan tersenyum mendengar kebanggaan keduanya pada Chuan. Dia juga meminta para lebah dan anggota sekte bisa hidup berdampingan seperti saat ini. Serta keamanan sekte nantinya lebih bergantung pada kepandaian para prajurit lebah untuk pengintaian dan pencegahan awal.
Namun, musuh yang kuat biar anggota sekte yang akan mengurusnya. Sedangkan para lebah bisa bersembunyi dulu disekitar bukit dibelakang sekte.
Perpustakaan sekte tetap seperti sebelumnya, serta gudang senjata dan balai pengobatan juga ditentukan. Selanjutnya masih ada sembilan rumah yang belum terpakai.
Untuk para murid sekte, rencananya dibangunkan tempat baru. Sementara lembah, dimana pagoda ditempatkan akan dijadikan area pelatihan buat prajurit lebah. Sehingga semua pihak tidak saling terganggu dalam aktifitasnya.
Senja telah datang, kedua ratu kembali ketempat masing masing. Sedangkan Chuan dan kedua lainnya mulai menuruni tangga menuju keluar benteng.
Dengan kemampuan yang tinggi, ketiganya mulai membuka jalan masuk kesekte dengan menebang pohon. Tanpa lelah ketiganya membuka jalan selebar sepuluh meter. Sedangkan prajurit lebah hanya melihatnya dari jauh.
Malam yang gelap dan sunyi berubah sedikit ribut oleh pohon tumbang. Suara ranting dan daun terbakar menambah riuh suasana dan malam gelap kini menjadi terang.
Malam berganti pagi. Batang pohon besar tergeletak dikiri kanan jalan. Ditengah jalan terdapat abu bekas pembakaran yang masih mengepulkan asap. Jalan tembus dari tepi hutan menuju sekte sudah jadi dan tinggal membersihkan saja.
Seakan tak kenal lelah, ketiganya terus membenahi jalan tersebut. Serta memindahkan batang kayu kedekat benteng sekte.
Hari terus berjalan. Pembenahan luar pagar sekte telah selesai dalam tiga hari. Selanjutnya ketiganya membenahi saluran irigasi dari sumber air yang ada di lereng kanan sekte.
Banyak lagi yang ketiganya benahi.
***
Daerah pegunungan yang dulu sunyi kini sudah menggeliat dan berbenah. Suku pegunungan yang dulu terpecah belah saat ini mulai terjalin hubungan yang baik. Jalan menuju antar perkampungan suku gunung sudah dibuat.
Tempat terpencil yang jarang didatangi orang luar saat ini mulai membuka diri. Meskipun terbatas yang berkunjung saat ini menunjukkan keramahan pada orang luar. Saat ini hanya dari balai lelang dan prajurit kekaisaran yang datang.
Bahkan timbal balik yang saling menguntungkan terjadi diantara mereka. Tempat pelatihan sementara yang ada dipegunungan. Kini dijadikan pemukiman prajurit khusus dibawah komando komandan Xhuan.
Bahkan para prajurit khusus yang selesai pelatihan disekte hutan suci, kini memilih tinggal ditempat tersebut. Mereka menganggap keluarga mereka lebih nyaman ditempat tersebut. Meskipun beberapa hari sekali mereka bergiliran menuju kekaisaran untuk tugas memantau keamanan diistana.
***
Kehilangan dua penatua, membuat klan wu kebakaran jenggot. Konfirmasi utusan dari klan wu tidak mendapatkan informasi yang memuaskan. Pihak sekte hutan suci juga bersikukuh bahwa semua rombongan telah meninggalkan sekte.
Pihak klan wu mengancam untuk melanjutkan penyelidikan. Namun semua tetua sekte tak merasa gentar pada ancaman tersebut. Mereka tetap tidak memperketat penjagaan sekte untuk menghindari kecurigaan klan wu.
Dalam beberapa bulan ini sudah beberapa kali penyusup yang masuk kesekte hutan suci. Para tetua dengan bantuan Patriak Lion dapat memergoki dan membuat mereka tak nyaman.
***
Setahun berlalu, kebuntuan dalam penyelidikan mereka, membuat organisasi pembunuh mengumpulkan semua pimpinan cabang mereka. Berbagai pertanyaan muncul dalam pertemuan tersebut.
Bagaimana anak itu bisa menghilang keberadaannya.
Bagaimana semua cabang digerakkan tapi tak menemukan jejak ketiganya.
Bagaimana sekte kecil mampu mendeteksi para pembunuh ahli.
Bagaimana pendekar suci menjadi alkemis dan bersatu seperti itu.
Bagaimana
Bagaimana
Pemimpin organisasi memperbolehkan anggota organisasi bertindak seperti yang diinginkannya. Dia juga berpesan untuk berhati hati. Karena baru kali ini, mereka menyelidiki orang yang begitu licin dan berhati hati.
***
Disekte gunung suci, langit malam penuh bintang. Chuan bersikap tak seperti biasanya.
"ada apa Chuan" tanya Rouyan melihat Chuan yang sedang termenung.
"sudah dua tahun lebih kita meninggalkan benua selatan" balas Chuan.
Entah kenapa, hari ini muncul kegelisahan dalam hatinya. Dari pagi hingga malam ini, perasaan tersebut belum juga menghilang. Bahkan saat meditasi dia tidak dapat focus untuk itu.
"bagaimana kalau kita kembali kebenua selatan" tanya Rouyan.
"bagaimana dengan gunung suci" jawab Chuan dengan pertanyaan.
"biar aku yang menunggu disini" ucap Luosan.
"tetua tak perlu khawatir, kami akan menjaga tempat ini" ucap Lin Ling yang baru datang dan mendengar percakapan tersebut.
"baiklah, namun jika tak sanggup mempertahankan tempat ini, aku harap kalian bersembunyi sampai kami pulang" ucap Chuan.
"jangan khawatir kak, aku tak akan ceroboh" ucap Luosan
"pesan tetua pasti kami laksanakan" ucap Lin Yu.
"kalau begitu kapan kita berangkat" tanya Rouyan.
"bagaimana kalau sekarang" balas Chuan
Rouyan hanya tersenyum dan mengiyakan ajakan Chuan. Kemudian mereka berdua berpamitan pada Luosan dan dua ratu lebah. Lalu melesat cepat menuju benua selatan.
Chuan dan Rouyan terus melesat tanpa henti. Meskipun kecepatan penuh Chuan yang berada ditahap kaisar, keduanya perlu dua hari untuk sampai kewilayah suku gunung.
"siapa kalian" beberapa pemuda meneriaki kedua sosok yang baru datang.
"aku Chuan, bisakah bertemu sesepuh Sin Wan" balas Chuan terdengar menggema.
Sesepuh Sin Wan, pemimpin suku dan warganya keluar mendengar suara tersebut. Diawali sesepuh Sin Wan, semua orang menjatuhkan lututnya dan menghormat pada Chuan.
Tanpa basa basi Chuan meminta mereka untuk bangun. Dan menanyakan keadaan dan situasi yang terjadi saat ini. Dengan gamblang dan tanpa berbelit, Sin Wan menjelaskan semua kejadian tanpa satupun disembunyikan.
Merasa tak ada yang mencurigakan Chuan berpamitan dan menolak ajakan sesepuh Sin Wan untuk singgah.
"lain waktu kita bertemu lagi, dan tingkatkan penjagaan kalian" ucap Chuan lalu mengajak Rouyan pergi.
Lesatan keduanya meninggalkan tempat tersebut membuat mereka semua tertegun. Pesan Chuan pada mereka ditanggapi dengan pengaturan keamanan yang lebih ditingkatkan.
Chuan dan Rouyan yang tidak menghentikan perjalanannya tiba digerbang komplek istana.
"berhenti" seorang prajurit jaga menghentikannya.
"plaakkkk" tamparan dari prajurit lain mendarat diwajah prajurit tersebut.
"maaf kelancangannya, tuan" ucapnya sambil membungkuk hormat.
"tak apa, dan tak perlu menegur dengan seperti itu" ucap Chuan
"maaf" balasnya.
"aku masuk sendiri, tak perlu kalian antar" ucap Chuan
"baik tuan" balasnya.
Sementara Chuan dan Rouyan melesat pergi, prajurit yang menampar tadi meminta maaf pada temannya. Dia menjelaskan identitas Tetua Chuan dan statusnya yang menjadi pejabat khusus. Dengan senang hati prajurit tersebut memaafkan temannya dan tertawa riang. Baru kali ini ada prajurit membentak pejabat dan dibiarkan tanpa hukuman.
Kaisar yang mendapat laporan kedatangan Chuan, meminta dua pengawal pribadinya untuk menyambut. Keempat orang tersebut berjalan menuju ruang pribadi kaisar.
Didalam ruangan tersebut Chuan hanya berbasa basi sebentar. Kemudian dia langsung menanyakan tentang pembunuh iblis darah.
"kami berjaga diluar" ucap dua pengawal karena mengetahui pentingnya masalah mereka.
Kaisar Jing menceritakan segala kejadian yang menimpa keluarga dan istananya. Kematian ratu selir dan putranya, juga informasi dari telik sandi yang telah disebarkannya.