Pendekar Hitam

Pendekar Hitam
# Poster


Atas kemauan sendiri, semua anak berlatih fisik dengan keras. Bahkan sampai ambang batas kemampuan mereka.


Tetua Lifan sering mengangkat anak anak yang pingsan karena kelelahan. Qi yang sering disalurkan Tetua Lifan keanak yang pingsan rupanya cukup menguras energinya.


Sudah seminggu rumah mereka seakan kosong. Pagi berlari memutari tempat latihan dengan tenaga kasar mereka. Siang bermeditasi memulihkan tenaga dan langsung berlatih silat dibawah bimbingan Tetua Lifan.


Baru menjelang sore mereka kembali kerumah. Namun saat malam hari telah datang, semua penghuninya berada ditempat latihan untuk berkultivasi.


Ketekunan mereka menjadikan anak anak dapat menembus tahap menengah, dan mulai menerapkan kultivasi yang pernah Chuan ajarkan. Nenek Hong dan Tetua Lifan terus memperhatikan perkembangan dan juga keselamatan mereka.


Sore hari yang cerah, semuanya sedang giat berlatih. Terdengar derap kuda mendekati mereka.


"kak Chuaaaannnn" terdengar gema teriakan mereka, saat melihat Chuan menunggang kuda mendekati mereka.


Sorot mata kerinduan  terpancar pada anak anak itu. Tetes air mata keluar tanpa bisa mereka bendung. Lima anak enam tahun berhamburan saat melihat Chuan turun dari kudanya.


Kelimanya menubruk chuan dengan isak tangis yang tetap terdengar.


"sudah, sudah, aku juga rindu pada kalian semua" ucap Chuan sambil memeluk kelimanya. Setelah kelimanya melepas pelukannya, Chuan mendekati semua anak dan memeluk satu persatu.


"salam tetua, nenek dan bibi" ucap Chuan sambil menghampiri ketiganya.


"terimakasih, tetua sudah membimbing mereka" ucap Chuan sambil sedikit membungkukkan badan.


"tak usah sungkan, mereka berlatih sendiri dan aku hanya memberi sedikit arahan" balas Tetua Lifan sambil tersenyum.


"nenek dan bibi sehat" tanya Chuan.


"kami baik baik saja selama ini" ucap Bibi Fei.


"kamu kemana saja" tanya Nenek Hong penasaran.


"nanti aku ceritakan nek" ucap Chuan.


"kak, apa kami boleh belajar naik kuda" ucap Lumonk yang sudah dibelakang Chuan.


"boleh, dan hati hati" ucap Chuan.


"biar aku yang mengajari mereka" kata Tetua Lifan menawarkan diri.


"suiittt" siulan pelan chuan membuat kudanya mendekat. Dua apel emas diberikan chuan pada kudanya.


"biarkan mereka bermain dipunggungmu" ucap chuan sambil mengusap kepala kudanya.


Seakan menurut, kudanya mendekati Tetua Lifan yang sedang bersama anak anak.


"gantian jangan berebut" teriak Chuan.


"iya kak" jawab mereka.


Chuan lalu asyik berbincang dengan nenek dan bibi Fei. Sore mulai beranjak pergi digantikan malam. Chuan mengajak semuanya kembali kerumah. Mereka berjalan dengan suara riuh anak anak yang berebut menuntun kuda.


Chuan yang berjalan bersama nenek, bibi dan tetua hanya tersenyum melihat tingkah anak anak yang berjalan didepan mereka.


"kudanya biarkan lepas, jangan diikat" ucap chuan saat tiba dihalaman rumah. Anak anak berhamburan melakukan aktifktas masing masing. Anak perempuan membantu nenek dan bibi didapur. Yang lain mulai membersihkan diri.


Sedang Chuan dan Tetua Lifan mulai bercakap cakap diruang depan. Malam ini mereka hanya bercanda ria melepaskan kerinduannya pada chuan.


***


Pagi itu Tian Sun dan Louyin menerima dua anak buahnya yang dari kantor pusat. Mereka menjelaskan perkembangan yang terjadi. Pelelangan apel emas dikantor pusat menyebabkan tiga sekte besar mengirim tetua mereka untuk bertemu tuan Tian Sun. Dan berbagai perkembangan lain yang terjadi.


"bagaimana tentang tuan Chuan" tanya Louyin. Dibenua selatan mereka tidak menemukan jejak riwayatnya. Sedang ada satu orang kita yang mendapat sedikit informasi tentang dia. Jelas kedua orang tersebut.


"bagaimana hasilnya" ucap Tian Sun penasaran. Hanya jejaknya diserikat dagang bintang perak yang didapat. Saat ini 25% saham bintang perak yang dibenua timur adalah milik tuan Chuan.


"haahhhh" teriak kecil Tian Sun dan Louyin terkejut.


"ada apa tuan" tanya seorang anak buahnya.


"hahahaha" tawa Tian Sun sebelum bercerita.


Saat pertama datang louyin pernah mengusirnya. Dan sebelum membeli saham balai lelang, Tian Sun juga pernah berpikir yang tak baik terhadapnya. Sampai dia sadar tahap bumi seperti dirinya hanyalah semut dihadapannya.


"maksud tuan" tanya dua anak buahnya, ganti yang terkejut. Saat ini tak ada yang bisa menyentuhnya. Dan jangan sampai ada orang dari balai lelang yang salah mengenalinya.


"ini gambar tuan baru kalian" ucap Tian Sun sambil menyerahkan beberapa poster gambar Chuan.