
Setelah acara makan malam, para tetua masih mengobrol bersama dua tamunya didojo. Para anggota keamanan juga hadir semua ditempat tersebut. Rupanya setelah pertemuan dengan Chuan, mereka dihentikan Patriak Chen.
"begitu banyak pendekar dewa dan langit, bagaimana semua bisa bersatu seperti ini" kata Patriak Chen.
"sebelumnya kami juga tidak setinggi ini, namun Chuan yang mendorong dan memberi kesempatan pada kami" jawab Teysan.
"seandainya ada tawaran dari sekte lain bagaimana" tanya Patriak Chen.
"meskipun kami bebas untuk pergi kemanapun, namun hati kami tetap untuk sekte ini" jawab yang lain.
Semakin banyak pertanyaan yang dijawab, semakin penasaran akan sosok Chuan. Malam beranjak kelam, Chuan yang ada dirumahnya kini keluar menuju dojo. Kedatangannya disambut senyum semua orang.
"selamat malam semua" sapa Chuan pada semua orang.
"malam tetua" jawab mereka semua.
"apakah patriak dan tetua ingin beristirahat" ucap Chuan sambil memandang Patriak Chen dan Tetua Shusin.
"biar kami mengobrol disini" jawab patriak Chen. Chuan hanya tersenyum mendengar jawaban Patriak Chen.
Selain membicarakan tentang perkembangan sekte, juga menyampaikan keputusan yang baru dibicarakan dengan para anggota keamanan. Tak lupa disampaikan tentang murid murid Tetua Shusin yang sedang dalam perjalanan ke sekte hutan suci. Nanti kalau mereka datang hajar fisiknya sesuai pola latihan yang sama dengan murid yang lain.
Setelah selesai dalam pengaturan utamanya, lalu Chuan menanyakan siapa dari para tetua atau lainnya, yang sudah ditahap langit tingkat lima atau lebih. Ada sepuluh tetua dan dua tetua dari rawa angin termasuk didalamnya. Enam wakil tetua, yang sebelumnya adalah anggota sekte rawa angin juga baru menembus tingkat kelima.
"Paman Teikong dan Teysan" ucap Chuan.
"kami masih ditingkat 3" jawab Tekong.
"tetap semangat dalam berkultivasi, jangan kesibukan disekte menjadi alasan kalian semua untuk malas" ucap Chuan.
"baik tetua" jawab anggota keamanan kompak.
"Tetua Gun dalam tiga hari ini tolong focus dalam pembuatan pil" ucap Chuan sambil menyerahkan cincin dimensi.
"baik" ucapnya dengan tersenyum.
Chuan meminta setelah pertemuan ini, ke enam wakil tetua untuk kultivasi tertutup selama tiga hari. Sedang pil emas sebagai sumberdaya untuk itu, diserahkan pengaturannya pada Tetua Tian.
Sedangkan urusan sekte diserahkan pada tim keamanan dan yang lain. Sementara para tetua sedang sibuk, dan wakil tetua dalam kultivasi tertutup, sekte hutan suci juga membatasi tamu dari luar.
Untuk Teykong ada tugas membuat tanda pengenal untuk semua keluarga besar hutan suci. Plakat terdiri dari tiga bahan: emas, perak dan perunggu. Untuk tetua terbuat dari emas. Wakil tetua dan anggota keamanan dari perak namun simbol diatasnya terbuat dari emas. Untuk murid sekte terbuat dari perak. Sedang perunggu untuk para warga dan murid baru.
"bisa paman" ucap Chuan.
"aku ada kenalan untuk itu, selain pesan dulu dari mereka sekalian untuk belajar" jawab Teikong.
Malam beranjak pagi, semua orang meninggalkan Chuan dan dua tamunya. Mereka mulai tenggelam dalam aktifitasnya masing masing.
Tiga hari berlalu dengan cepat, pagi itu rombongan Chuan meninggalkan sekte hutan suci. Mereka semua melesat kearah selatan, melintasi wilayah Klan Chu.
Dengan ilmu naga terbang diawan, para tetua dan wakilnya menikmati pemandangan dari atas. Patriak Chen dan Tetua Shusin juga memakai tehnik yang serupa.
Siang hari mereka sampai dipuncak bukit yang ditumbuhi rumput dan perdu. Setelah turun Chuan langsung mengajak mereka menuruni lembah berbatu menuju pantai.
"dipantai ini, saat senja dan malam ada belut petir" jelas Chuan. Mereka harus bisa mengubah energi petir menjadi qi. Dan berusaha untuk memurnikan qi mereka. Dengan dorongan energi petir dan energi alam yang padat ditempat ini, mereka semua harus mencapai tingkat sempurna dulu sebelum menembus tahap suci.
Masing masing orang akan menerima sepuluh pil emas untuk bantuan tambahan dalam kultivasinya. Terlihat semua orang bengong mendengar penjelasan Chuan.
"darimana anak tahu tempat seperti ini" guman Patriak Chen saat melihat Chuan berjalan masuk ke air.
"setahuku ini dulu berdekatan dengan sekte hati suci" kata Tetua Tian.
"wajar kalau Chuan tahu, dia murid Patriak Lion dari hati suci" jelas Tetua Gun.
"Patriak Lion meninggal puluhan tahun yang lalu, sedang usia Chuan sekarang berapa" tanya Tetua Shusin yang terkejut mendengar kenyataan tentang Chuan.
"usianya masih dua lima tahun, untuk masalah itu dia tidak cerita pada kami" jawab Tetua Tian.
"apa yang dilakukannya" ucap Tetua Lifan yang dari tadi mengawasi Chuan yang sedang masuk ke air. Terlihat Chuan membenamkan dirinya sambil mengalirkan qi nya.
Samar samar terlihat cahaya keemasan tipis membungkusnya. Tak lama dia muncul lagi dan menuju ke pantai, yang mana rombongannya berkumpul.
"Chuan,,, wajahmu" tanya Tetua Tian terkejut. Bahkan yang lain hanya bengong melihat perubahan diwajahnya. Sosok pemuda yang tampan.
"ini wajah asliku" jelas Chuan. Selama ini dia memakai suatu cairan untuk menodai wajahnya. Namun saat terkena air laut atau arak saat dia mengalirkan qi diwajahnya maka tanda hitam tersebut akan hilang.
"huh, punya wajah tampan malah gak bersyukur" ucap Patriak Chen
"kalau gak seperti itu, mungkin aku sudah menikah dibenua timur" ucap Chuan
"kamu dari benua timur" tanya Patriak Chen terkejut.
"iya, untuk itu nanti biar Tetua Tian yang bercerita" ucap Chuan.
Kemudian Chuan menjelaskan, kalau dia akan berkultivasi ditempat lain. Sementara mereka semua berkultivasi bersama dipantai tersebut. Sedang yang sudah ditahap sempurna, nanti menstabilkan dulu dan tidak buru buru menembus tahap suci.
Setelah semua orang faham akan maksudnya, maka Chuan pamit dan langsung melesat ketengah lautan.