
"ahh nanti saja" jawab chuan sambil memasukkan jatah makannya kedalam cincin dimensinya. Melihat tingkah chuan, keduanya hanya tersenyum.
Ketiganya lalu keluar kamar dan mendatangi para pelayan yang sedang bersantai.
"selamat pagi" ucap mereka serentak.
"pagi, kami keluar hari ini, berapa kekurang kami membayar" tanya chuan.
"tidak ada" jawab pelayan.
"terima kasih, kami permisi" ucap chuan.
"sama sama, semoga puas dengan pelayanan kami" ucap pelayan. Ketiganya mengangguk kemudian melangkah keluar penginapan giok putih.
Berjalan santai menyusuri jalan, sambil menikmati hangatnya mentari.
"kak chuan" teriak ninie dan tiga temannya yang sedang bermain walau sedikit jauh didepan chuan.
Mereka berlari mendekati ketiganya. Chuan berjongkok membentangkan tangannya. Keempatnya lalu berhamburan memeluknya.
Sedangkan chu fan dan nenek hong hanya bengong saling lirik.
"dari mana kalian" tanya chuan pada anak anak itu.
"kami hanya main main saja" jawab ninie.
"hati hati kalau bermain" ucap chuan.
"iya kak dan mereka siapa" tanya ninie.
"ini kak chu fan dan nenek hong" jawab chuan.
"salam kak chu fan, salam nenek hong" ucap keempat anak itu sambil membungkukkan badan.
"anak anak yang baik" kata nenek hong.
"tolong dibagi untuk kalian" ucap chuan sambil mengeluarkan jatah makan dari penginapan tadi.
Sepiring nasi dan sepiring lauk chuan serahkan pada ninie dan temannya. Dua orang masing masing memegang satu piring yang diberikan chuan.
"terima kasih kak" ucap mereka.
"hati hati kalian" ucap chuan. Dengan senyum terkembang keempatnya berlalu pergi.
"siapa mereka chuan" tanya chu fan penasaran.
"anak anak kecil kota ini" jawab chuan cuek.
"iya tahu anak keci, tapi kapan kamu kenal mereka" kata chu fan geram.
"hemmm,,, aku kan warga sini juga" ucap chuan sambil menunjukkan tanda pengenalnya.
"huuhhhh" guman chu fan kesal.
"whahaha" tawa chuan sambil terus berjalan. Nenek hong tersenyum melihat tingkah keduanya.
Sampai didepan bintang perak, ketiganya segera memasukinya. Seorang pelayan mendekati mereka. "silahkan lewat sini" ucapnya memandu mereka bertiga.
Menyusuri lorong memasuki ruang belakang bangunan tersebut. Tiba diujung lorong mereka memasuki sebuah ruangan yang panjangnya dua puluh meter.
Terlihat ada dua puluhan orang sedang beraktifitas didalamnya. Lima orang focus didepan tungku untuk membuat pil. Sedang yang lain sibuk mempersiapkan segala kebutuhan kelima orang tersebut.
Disudut ruangan ada sebuah kamar yang cukup luas. Keempatnya berjalan menuju kamar tersebut.
"salam tetua tian" ucap pelayan tersebut.
"masuklah" jawab tetua tian yang sedang terbaring.
"kalian yang disebut dalam surat tetua zhao" ucap tetua tian sambil melihat kearah mereka bertiga.
"benar guru, saya mengantar mereka berdua" jawab chu fan.
"salam tetua tian" ucap chuan.
"untuk apa kalian ingin bertemu denganku" tanya tetua tian.
Chuan memperkenalkan diri, lalu menjelaskan kondisi nenek hong. Keadaan ekonominya juga tak lupa disampaikannya. Bahkan chuan bersedia menjadi pelayan tetua tian asal nenek hong tertolong.
Ucapan chuan adalah rencana patriak lion agar dia bisa masuk disekte pasir putih.
"nanti coba biar dilihat dulu kondisinya" ucap tetua tian sambil mengenalkan dua tetua disampingnya. Tetua lihan dan tetua gun yang berbadan gendut.
Chuan membungkukkan badan dan disambut dengan senyuman oleh keduanya. Tetua tian melanjutkan kata katanya. Saat ini sekte pasir putih hanya ada dihati ketiga tetua dan hanya lima murid yang masih setia. Sedang yang lain memilih menjadi anggota serikat dagang pasir putih.
Tiga tetua tinggal disini karena kelima murid sekte yang setia bersedia meracik pil tingkat tinggi untuk serikat dagang. Sebagai biaya hidup dan keamanan mereka.
Saat ini murid yang memilih menjadi anggota serikat dagang sudah mulai bisa meracik pil pil tersebut. Tetua tian juga menyampaikan kalau dalam lima tahun kedepan, mantan murid sekte yang menjadi anggota serikat sudah bisa meracik pil sendiri.
Dan dia tak tahu akan bernaung dimana setelah itu. Sedangkan dentiannya hancur karena pertempuran dengan sesama anggota sekte pasir putih beberapa tahun yang lalu.
Sedang tentang chuan yang ingin menjadi pelayan, tetua tian tidak bersedia menerima.
* *TERIMA KASIH** atas dukungan selama ini.
Jasril
Budi Amiyanto
Anton Alberto
Yance Malasuseya
Alfian Hokky
Suratin Suratin
Milala
Kris One Toro
Komeng Komet
Muh Taufik
Santo Lukas
Hasan Basri
Jabig Koplak
Mas Kun
Dedet
Fenkis 13
Sutik Tikno
Adhitya Warman
Dan lainnya.
Maaf tidak menyebutkan satu persatu, tetapi ucapan terima kasih ini untuk semua pembaca.