
Sementara untuk pakaian, chuan minta mereka tetap yang sederhana. Dia tidak mau kalau penampilan mereka berubah akan menimbulkan kecurigaan.
Jangan pernah kalian punya keinginan dipandang orang lain karena pakaian.
Jangan karena kekuatan yang kalian miliki.
Jangan karena wajah yang tampan atau cantik.
Biarlah mereka memandang , menghormati dan menyayangi kita karena ketulusan mereka.
Biarlah kita dipandang miskin atau bagaimanapun, tapi chuan akan berusaha anak anak tidak akan kekurangan apapun.
Genangan air mata yang menumpuk dimata mereka saat mendengar penjelasan chuan. Satu persatu mereka menumpahkan air matanya. Isak tangis mulai terdengar. Nenek dan bibi fei juga tak kuasa menahan harunya.
"huhhh,, nenek dan bibi kalau nangis jelek lho,,, awas ntar tidak laku lagi gimana" celoteh chuan setelah membiarkan mereka menangis, dan sambil berlalu membuat semua yang ada tersenyum meskipun masih ada titik airmata mereka yang jatuh.
"sudah siang, ayo pulang kerumah" ucap chuan dari kejauhan. Mereka semua lalu berdiri namun tetap dalam diam.
"kalian berempat berlari sendiri empat putaran, setelah itu langsung pulang kerumah" ucap chuan sambil menunjuk lumonk dan ketiga temannya.
"siap kak" ucap mereka lalu mulai berlari.
Yang lainnya segera berjalan pulang. Saat dibatas tempat latihan beberapa anak minta ijin kepada chuan, agar diperbolehkan menunggu temannya ditempat itu. Chuan hanya mengangguk dan tersenyum. Tak disangka ternyata lima belas anak berhenti ditempat itu.
"alangkah baiknya kalau sambil mencari kayu bakar" ucap chuan.
"siaapppp" jawab mereka dengan senang.
Sampai dirumah semuanya asyik didapur, sedang chuan sedang santai mendengar bimbingan patriak lion diruang jiwanya.
"hehehe" tawa kecil patriak lion.
"saatnya kau juga belajar" lanjutnya.
"baik guru" jawab chuan.
Melanjutkan bimbingannya, patriak lion hanya memberi beberapa masukan. Mustika langit yang mereka dapatkan punya efek yang baik untuk menguatkan jiwanya. Kata demi kata dari patriak lion dicerna oleh chuan.
Banyak pengetahuan yang baru dia terima. Bahkan tulang naga yang menurut chuan berada ditingkat tertinggi ternyata masih ada lagi tingkat diatasnya, yaitu tulang dewa. Dengan tingkat tulang ini maka tak akan tertolak keberadaannya ketika mencapai tahap dewa. Hanya ketika mencapai tahap keabadian, dia akan naik kealam dewa.
"anak anak sudah selesai latihan, beri apel emas lagi buat keempatnya dan bantu dalam kenaikan tingkat tulangnya" jelas patriak lion.
"kalian berempat berdiri dulu didalam rumah" ucap chuan saat rombongan mereka lewat didepannya.
Setelah meletakkan kayu bakar dibelakang rumah mereka semua berkumpul diruang dalam. Chuan masuk kedalam rumah, dan semuanya telah berkumpul diruang dalam. Dia lalu memberikan potongan apel dan sebutir pil penguat tubuh pada keempatnya. Setelah makan yang chuan berikan, mereka berempat lalu kultivasi.
"rasakan energinya mengalir ditulang kalian" ucap chuan memberi bimbingan.
"terus alirkan, jangan berhenti disatu titik" teriak chuan saat mengetahui seorang anak yang kesakitan saat energinya berhenti mengalir. Setelah lancar terlihat wajahnya kembali serius seperti ketiga temannya.
Satu jam berlalu, lumonk merasa tulang tulangnya telah terisi penuh oleh energi. Dengan tenang energinya sudah mulai stabil. Ternyata sejak awal dia sudah mempunyai tulang perak. Sedang ketiga temannya masih memutar energi yang ada ditubuhnya. Tulang tulangnya sudah penuh dengan energi, namun masih ada energi tersisa. Mereka terus berusaha memasukkan energi tersebut ketulang tulangnya.
"krakkkk" "achhhkkk" terdengar retakan dan teriak kesakitan mereka.
"harus tetap bertahan, jangan kehilangan focus kalian" ucap chuan. Lalu dia semakin focus memperhatikan mereka.
Perlahan demi perlahan, retakan tulang mereka tertutup dan utuh kembali. Energi mengalir mengisi setiap ruas tulang mereka. Meskipun tak penuh seperti yang terjadi pada lumonk, terlihat perubahan pada kekuatan mereka. Saat semua telah berhasil menstabilkan energi, mereka menyudahi kultivasiny. Terlihat senyum puas diwajah mereka.