Pendekar Hitam

Pendekar Hitam
# Patriak Tian Wang


Beberapa murid Tetua Shusin datang jamuan yang audah disiapkan. Bukan hanya arak yang keluar, tetapi beberapa hidangan juga telah disiapkan. Obrolan demi obrolan tercipta, sampai tak sadar matahari telah bersinar dengan gagahnya.


Setelah meminta ijin untuk istirahat, Chuan diantar Wang Qin menuju kamar tamu. Didalam kamar sendirian Chuan lalu mengambil posisi untuk meditasi. Tingkat energi dikediaman Tetua Shusin cukup tinggi. Membuat Chuan sangat bersemangat dalam meditasi.


"jangan berkultivasi dulu" teguran Patriak Lion terdengar, saat Chuan mulai menarik energi kedalam tubuhnya.


"ada apa guru" tanya Chuan.


"energi yang kau tarik akan membuat mereka curiga tentang tahapanmu, saat ini yang penting tingkatkan dulu tingkat jiwamu" ucap patriak lion.


"baik guru" jawab Chuan.


Didalam ruang jiwanya, bersama patriak lion. Chuan mengalirkan untaian energi spiritual keruang jiwanya. Semakin lama jiwanya tenggelam dalam meditasi diruang jiwa. Pengetahuan tentang ilmu jiwa yang dilatihnya kian terasah. Rasa haus akan pengetahuan yang ingin dikuasainya semakin besar. Dia tak menghiraukan sedikit ketegangan yang ada dirumah tetua shusin.


Tian khun mengunjungi Tetua Shusin, untuk menanyakan nasib kedua anaknya. Ternyata dua pengawal yang berlaku sombong pada Chuan, adalah anaknya. Statusnya sebagai salah satu penatua diklan, membuat ayah dan anak anaknya sombong.


Namun dihadapan Tetua Shusin semua kebesaran tiada artinya. Berbagai hadiah dibawa untuk menyenangkan hati tetua. Beberapa janji juga terucap. Namun tetua Shusin tetap belum mengambil keputusan.


"kalau saudara Chuan tak mempermasalahkan sikap kedua anakmu, maka mereka bisa tetap dibarisanku" ucap Tetua Shusin.


"bisakah kami bertemu tuan muda Chuan" ucap Tian Khun.


"dia masih beristirahat" jawab Tetua Shusin.


"aku ada keperluan sama patriak sekte, kalian bisa menunggu disini" lanjutnya sambil beranjak meninggalkan tamunya.


Berbagai pertanyaan bergema dipikiran Tian Khun dan rombongannya. Seorang pemuda yang begitu dihormati oleh tetua Shusin dan wakilnya. Seorang dengan tahapan yang tidak tinggi. Yang menurut kedua anaknya, bahkan wajah pemuda itu jelek.


Pemuda yang tidak ada istimewanya, namun begitu ditinggikan. Apa kesombongan anak anaknya salah? Memang hanya kedua anak tian khun dan gengnya yang masih sombong dibawah bimbingan tetua Shusin.


Namun murid tetua satu dan dua, hampir semuanya sombong dan arogan. Hanya tetua shusin yang berubah lebih ramah dan berpikir dengan logika. Perubahan besar atas sikapnya beberapa tahun ini terjadi setelah pulang dari tugas luar. Para wakilnya juga lain dalam memberi bimbingan pada murid.


Tak banyak murid yang dipilih Tetua Shusin. Tiga ratusan murid dibawah bimbingan Tetua Shusin menunjukkan perubahan besar dalam beberapa tahun terakhir. Mereka memiliki kwalitasnnya masing masing.


Siang berganti sore, namun Chuan masih tenggelam diruang jiwanya. Patriak sekte yang sudah dikediaman Tetua Shusin, segera menyuruh pulang penatua klan tian yang sedang menunggu Chuan. Sedang kedua anaknya dihukum diruang perenungan selama sebulan.


Patriak sekte yang penasaran setelah melihat peningkatan Tetua Shusin dan muridnya saat pulang dari tugas luar, ingin bertemu langsung dengan Chuan.


"anak itu belum keluar juga" tanya patriak sekte


"dia masih tenggelam dalam meditasinya" jawab Tetua Shusin.


"bagaimana keadaan sektenya"


"aku kesana cuma sekali, kelihatannya hanya focus pada pill obat"


"untuk kelangsungan sektenya bagaimana"


"anak itu punya saham 70% dibalai lelang mutiara, sedang serikat dagang bintang perak dibenua timur saat ini juga 50% karena pembagian hasilnya terus diakumulasikan" "pantas saja, masih beberapa tahun berdiri sudah bisa mandiri".


"ehemmmm" guman Chuan yang menyadari kedua orang tua tersebut sedang membicarakan sektenya.


"ohh Chuan, ini patriak sekte" ucap Tetua Shusin


"salam patriak, maaf kalau mengganggu ketenangan sekte"


"hahaha, tak perlu peradatan seperti itu, sebenarnya aku sudah lama penasaran denganmu"


"hehehe, anak kecil ini tak ada apa apanya dihadapan patriak sekte macan putih"


"aku Patriak Chen, hanya pengganti saat ayahku berhalangan"


"bagaimana kabar patriak sepuh"


"mari lihat kondisinya" ajak Patriak Chen


Ketiganya mulai keluar dari rumah Tetua Shusin, dan melesat menuju bukit kecil dibelakang sekte. Terdapat bangunan terbuka ditengah bukit. Dua puluh murid tahap bumi menjaganya.


"salam patriak" ucap para penjaga


"salam, tolong jaga diluar dulu" ucap Patriak Chen dan diikuti kedua puluh penjaga mulai berdiri diluar.


Saat memasuki bangunan tersebut, terlihat ada orang tua yang sedang meditasi. Namun kondisinya cukup parah, seakan habis melakukan pertempuran yang hebat.


ketiganya duduk didepan didepan orang tua tersebut.


"Chen, Tetua Shusin siapa yang kalian ajak kesini"


"dia Chuan, yang telah membantu Tetua Shusin dan wakilnya" ucap Patriak Chen


"salam patriak sekte" ucap Chuan


"panggil saja Tian Wang" balasnya


"energi petir yang ada ditubuh paman Wang tak perlu dikeluarkan, tapi sempurnakanlah" jelas Chuan setelah melihat kondisi Tian Wang.


"konsumsi satu pil tiap hari semoga tak sampai satu bulan kondisi paman sudah pulih dan stabil ditahap suci" lanjut Chuan sambil memberikan sepuluh pil emas yang sudah ditambahkan qi murni didalamnya.


"ingin rasanya bisa ngobrol lama, tapi kondisiku yang seperti ini" ucap Tian wang


"masih ada hari esok, saat ini kami permisi dulu" ucap Chuan


"terima kasih Chuan" kata Tian Wang


Setelah berpamitan, ketiganya langsung melesat pergi menuju rumah Tetua Shusin.