Pendekar Hitam

Pendekar Hitam
# Satu Tahun


Perjalanan yang seharusnya hanya tiga hari dengan berkuda yang santai. Mereka tempuh selama dua minggu. Namun biibit tanaman obat yang didapat diperjalanan adalah bekal yang memuaskan untuk kebun obat mereka.


Tak ada halangan yang berarti selama dijalan. Memasuki hutan suci mereka terkejut, ada jalan terbuka selebar 15m. Menyusuri jalan lebar ditengah hutan, setelah 5km kemudian berbelok.


Jalan lagi sejauh 5km lagi, rombongan itu telah sampai ditempat tujuan. Tiba didepan dojo yang memecah jalan menjadi dua. Teikong dan yang lain telah berkumpul menyambut Chuan dan rombongannya.


Setelah berkenalan satu dengan yang lain, Chuan lalu membagi kelompok anak anak dan memilihkan tetua untuk tiap kelompok. Sisa rumah sementara ditempati kelompok Teysan dan Teikong.


Semuanya melihat tempat mereka masing masing. Meskipun belum semua rumah dalam keadaan siap huni. Namun melihat suasana dan penataan bangunan, membuat para rombongan Chuan berdecak kagum. Sebelumnya mereka membayangkan tinggal dibangunan kecil ditengah hutan, namun kenyataannya sebuah perkampungan baru yang tertata rapi.


Hari berganti minggu, sebulan telah berlalu. Tak ada yang santai dalam sebulan ini. Semuanya saling membantu menyelesaikan rumah yang telah direncanakan.


Pagi ini Chuan mengumpulkan mereka semua. Dia menyodorkan rencana pengembangan tempat tinggal mereka. Dikanan dojo dibangun balai pil dan balai pengobatan yang besar.


Disepanjang jalan berjajar dengan balai pil akan dibangun perumahan untuk para pekerja. Selain itu dibangun juga tempat untuk kereta kuda yang terletak disamping balai pengobatan. Sedang kandang kuda dibuat terbuka dibelakangnya.


Untuk para wanita menyiapkan makan untuk semua orang, dan sisa waktu yang ada mereka juga harus ikut latihan bersama anak anak.


Untuk segala keperluan semua itu, dalam tanggungan Chuan. Sesekali terlihat satu atau dua kereta keluar untuk berbelanja. Tetua Tian, Tetua Lifan, Chufei dan Nenek Hong yang akhirnya menikah, dan saat ini mereka sibuk membuat kebun tanaman obat. Dibantu sebagian wanita yang tidak tugas memasak.


Tetua Gun sering menemani Chuan keluar sekte. Untuk tetua yang lain tetap serius melatih anak asuh Chuan. Dan anak dari para pekerja juga diperbolehkan untuk ikut latihan.


Waktu terus berjalan. Chuan dan Tetua Gun selalu berburu tanaman obat didalam hutan suci. Terkadang keduanya sampai mendaki bukit kecil yang tak jauh dari hutan suci. Berbagai tanaman obat yang ada dihutan sudah pindah dikebun obat yang dikelola Tetua Tian.


Pagar tepi hutan yang dibuat Chuan  berhasil membuat daerah seluas 100m2 tetap alami. Dari luas hutan suci 150m2 hanya 50m2 yang sedang direncanakan pengelolaannya. Jalan yang sebelumnya hanya 5km rencananya mau diteruskan menjadi 10km sehingga sampai tepi hutan yang berbatasan dengan klan tian.


Bulan berganti bulan, setahun sudah mereka membangun sekte hutan suci dan pendukungnya. Tiap pekan dua atau tiga kereta keluar untuk berbelanja. Secara bergantian beberapa anak ikut untuk sekedar mengusir rasa jenuh mereka.


Kehadiran mereka didesa terdekat untuk berbelanja membuat keberadaan sekte telah menyebar. Senja memasuki malam.


Chuan, para tetua dan para pekerja sedang berkumpul dirumah Chuan. Pertemuan rutin tiap bulan dilakukan untuk mengetahui perkembangan sekte.


Tetua Tian menyampaikan, lahan sepanjang 10km telah berhasil ditanami dan sudah tumbuh subur, perlu beberapa bulan lagi mulai bisa diolah menjadi pil. Semua tetua telah sepakat untuk membuat pil disela sela melatih semua murid.


Selanjutnya lima tetua yang membimbing murid sekte menjelaskan, saat ini semua anak asuh Chuan sudah ditahap mahir. Beberapa teknik mereka kuasai dengan sempurna. Untuk kitab pedang naga masih perlu banyak bimbingan.


Sedang anak anak dari saudara pekerja masih ditahap menengah. Yang menggembirakan lagi, pedang tumpul yang mereka gunakan untuk latihan telah memicu otot dan tulang mereka menjadi kuat.


Sementara para pekerja mengutarakan keinginannya untuk menjadi bagian dari sekte. Selama ini mereka hanya berpikir hanya bekerja. Begitupun dengan Teysan yang mewakili kelompoknya.


Sambil tersenyum, Chuan menimpali apa yang disampaikan orang orang yang sudah dianggap keluarganya.


"Teikong, Teysan dan saudara yang lain saat ini sudah ditahap pendekar bumi" ucap Chuan mulai menjawab. Semua orang disini bukan hanya sebagai bagian dari sekte. Namun sudah dianggap sebagai keluarga besarnya.


Balai pil dan balai pengobatan hanyalah wadah bagi kelangsungan hidup sekte. Untuk saat ini sekte belum bisa memberi kontribusi apa apa buat para tetua dan yang lain. "terkadang itu yang menjadi beban dihatiku" jelas Chuan.