
Saat saudagar dan orang orangnya masih tertegun melihat bangunan yang terbakar. Mereka tidak sadar kalau rumah mereka juga disatroni oleh Chuan. Para penjaga yang masih dirumah itu, semua dilumpuhkannya.
Dengan menyendera pembantu dirumah itu, Chuan mudah untuk menemukan gudang penyimpanan. Sehabis menguras semua isinya, dia menyuruh untuk menunjukkan tempat lain yang disembunyikan keluarga ini.
Dibawah ancaman Chuan, pembantu itu menunjukkan ruang penyekapan dibelakang rumah. Bangunan kecil yang terlihat, merupakan tangga masuk ruang bawah tanah.
Mulai ada bau bangkai, saat Chuan menuruni tangga tersebut.
"anjing gila, bangs**" kata Chuan sambil menahan emosinya. Dilihatnya mayat beberapa wanita yang disengaja tanpa perawatan.
Api biru muncul dikedua telapak tangan Chuan. Kemarahannya menambah dorongan energi yang cukup besar. Dia melempar apinya untuk membakar mayat mayat tersebut.
"trak, trak" terdengar retakan atap ruangan tersebut mau runtuh. Chuan segera melesat keluar dan segera memasuki rumah saudagar tersebut. Amarahnya dilampiaskan dengan menghancurkan rumah tersebut. Selanjutnya dia segera melesat pergi untuk memantau kepala desa yang sedang mengumpulkan warganya.
Sementara kelompok kelompok kecil warga yang dipandu para pemuda. Mereka seakan tergesa gesa untuk pergi dari desanya. Dengan memanfaatkan keributan yang dibuat Chuan.
Tak banyak bekal yang mereka bawa, agar perjalanan menjadi mudah. Terlihat pula beberapa laki laki yang menggendong anaknya dipunggung mereka.
Chuan yang telah meninggalkan rumah saudagar, hanya melihat mereka dari jauh. Dia ingin melihat semangat dan kebersamaan semua warga. Setelah berjalan tanpa henti lebih dari dua jam, kelompok kelompok kecil warga akhirnya bersatu. Kepala desa dan para pemuda terlihat semangat mengatur para warga. Tak ada penerangan yang mereka nyalakan, agar pelariannya tidak diketahui.
Hari mulai beranjak malam. Dalam keremangan, kepala desa tetap bersemangat menjadi penunjuk jalan. Namun perjalanan mereka tak secepat sebelumnya karena mulai kelelahan.
Hampir tengah malam, semua orang sudah dipuncak kelelahan mereka. Dengan terpaksa harus beristirahat untuk memulihkan tenaga mereka. Terlihat dua orang warga yang dari awal tidak membawa apapun, kini mengendap endap memisahkan diri dari rombongan itu. Chuan yang tetap mengikuti dari jauh melihat tingkah laku kedua orang itu.
"dess, dess" masing masing mendapat dua kerikil yang dilemparkan Chuan. Keduanya tetap jongkok tanpa bergerak dan bersuara, karena totokan Chuan lewat sambetan kerikilnya.
Setelah dirasa aman, dia lalu melesat kembali kesekte hutan suci. Dua tetua dan muridnya sedang melakukan penjagaan yang mulai rutin dijalankan. Didalam dojo terlihat banyak orang yang sedang beristirahat. Dan beberapa laki laki duduk santai diluar dojo.
"Chuan" sapa tetua lima.
"malam tetua" balas Chuan.
"kak Chuan" terdengar panggilan beberapa anak yang tugas jaga.
"kalian belum mengantuk" balas Chuan.
"belum kak" jawab mereka disambut senyuman oleh Chuan.
"aku butuh kereta" kata Chuan pada dua tetua tersebut. "anak anak ini sudah terlatih untuk mengendalikan kereta" jawab tetua tujuh.
"iyakah" tanya Chuan sambil memandang mereka.
"iya kak" jawabnya.
"hanya sepuluh yang bisa dipakai sedang yang dua" ucap tetua lima.
"tak apalah, aku perlu sekarang" ucap Chuan.
Dua belas anak mulai berlarian menyiapkannya. Sedang Chuan menyampaikan tujuannya pada kedua tetua. Ternyata mereka begitu cekatan dalam melakukannya. Tak ada satu jam sepuluh kereta kuda sudah berjajar dijalan.
Chuan melompat dikereta terdepan, dan perlahan sepuluh kereta tersebut bergerak membelah malam. Lampu kecil disetiap kereta seperti bintang berjalan. Anak anak yang sering ikut berbelanja keluar sekte, hapal akan seluk beluk jalan yang mereka lalui. Setelah satu jam perjalanan mereka melihat ada beberapa obor menyala cukup begitu jauh dari jalanan.
"cari tempat untuk memutar balik kereta, dan tunggu disini" teriak Chuan sambil melesat menuju tempat dimana obor obor itu berada.
"Chuan,,," ucap kepala desa yang terus waspada menjaga warganya.
"tuan" sapa para pemuda.
"panggil aku Chuan saja" balas Chuan.
"bagaimana keadaan mereka" tanya Chuan.
"tinggal dua orang yang masih kelelahan" ucap seorang pemuda.
"antar aku padanya" ucap Chuan.
"dess, dess" totokan mendarat pada dua orang yang masih duduk santai.
"siapa kau" teriak Chuan. Para warga yang lain bingung dengan apa yang dilakukannya.
"kenapa kalian menghambat perjalanan para warga.
"apa yang kau lakukan" ucapnya.
"aku tidak mau ada penghianat ditempatku" jawab Chuan.
"besok pagi dua temanmu akan terbebas dari totokannya, tunggulah mereka" ucap Chuan lalu pergi diikuti para pemuda. Sedang dua orang tadi hanya uring uringan, tanpa bisa bergerak.
Tak berapa lama Chuan dan rombongan warga sampai dijalan. Jalan ini cukup sempit untuk memutar kereta. Jadi agak jauh kereta mereka bisa diputar balik. Saat berkumpul dijalan terdengar kata kata ketakutan mereka, saat suara kereta kuda mendekat.
Sepuluh kereta dengan kusir, anak anak kecil berhenti. "mereka menjemput kalian semua" ucap Chuan
"anak anak dan wanita naik dulu" lanjutnya.