Pendekar Hitam

Pendekar Hitam
# Rubah Suci


Para tetua yang baru datang membiarkan Chuan memberi bimbingan pada anak anak. Cukup lama dia berbicara didepan anak anak. Jadikanlah perjalanan kalian sebagai bekal tambahan untuk memacu semangat dalam belajar dan latihan. Juga tidak menutup kemungkinan kalian nanti direkrut oleh sekte yang lebih besar.


"aku gak mau kak"


"apa kami harus keluar sekte kita" pertanyaan protes dari beberapa anak.


"hehehe, sudahlah kemungkinan itu akan terjadi" ucap Chuan. Namun bukan kalian keluar dari sekte tapi menimba lebih banyak ilmu dan pengalaman disekte yang lebih besar. Bahkan tak lupa Chuan bercerita tentang perjalanannya selama ini. Banyak hal yang disampaikan Chuan kepada lims belas anak tersebut. Wajah sedih sebelumnya kini berganti dengan semangat untuk menimba ilmu dan pengalaman, saat mereka beranjak untuk beristirahat.


Selanjutnya bersama para tetua dan orang orang dari balai lelang, Chuan berbincang ringan. Tak lupa perkembangan dari hasil turnamen yang masih menyisakan tigs wakil, juga diceritakan pada Chuan. Menurut jadwal tinggal dua hari lagi turnamen akan berakhir. Tak lupa perkembangan balai lelang, tersampaikan dalam suasana yang santai tersebut.


Pagi menjelang tak terasakan oleh mereka. Sebelum meninggalkan rumah tersebut, Chuan berpesan kepada para tetua agar beberapa sekte yang ingin merekrut anak anak untuk datang kesekte hutan suci.


Chuan melangkah santai menyusuri kota Liong_san. Kedua wakil Tetua Shusin sudah meninggalkannya dan kembali kesektenya, setelah Chuan berjanji akan berkunjung lagi sebelum kembali ke hutan suci.


Siang tiada terasa, dia sampai dipinggiran kota. Tiba disebuah gang kecil Chuan berhenti. Ada sesuatu yang mengusik instingnya. Namun tak menemukan apa apa, saat dia mengedarkan kekuatan jiwanya. Rasa penasaran tumbuh semakin besar.


Chuan melangkahkan kakinya menyusuri gang kecil tersebut. Rumah rumah sederhana berjajar rapi. Tatapan beberapa pasang mata tertuju padanya hingga sampailah diujung gang. Sebelum pandangan jatuh pada bentangan ladang yang menghijau, ada sebuah rumah tua yang kurang terawat. Pintu yang terbuka, namun tiada aktivitas terlihat.


"maaf, kau siapa" tanya seorang warga yang hendak keladang.


"aku pengunjung turnament dan saat melihat gang kecil ini jadi teringat lingkungan ditempat kami tinggal" ucap Chuan.


"mampirlah, rumahku yang sebelah sana" ucapnya sambil menunjuk salah satu rumah digang tersebut.


"terimakasih, namun aku penasaran dengan rumah ini" ucap Chuan.


"rumah itu dihuni seorang kakek dan cucunya, kalau mau masuk mari tak antarkan" lanjutnya.


"ada tamu yaa" sapa seseorang yang keluar dari rumah itu.


"salam paman" ucap Chuan.


"salam, silahkan masuk" kata orang tersebut.


"maaf aku tidak bisa mampir, sebab mau ke ladang" ucap warga yang menemani Chuan.


"silahkan paman" ucap Chuan.


Sepeninggalan warga tersebut, Chuan diajak masuk pemilik rumah itu.


"rubah suci" terdengar kata Patriak Lion.


"maksudnya" balas Chuan lewat pikirannya.


"nanti kau juga mengerti" ucap Patriak Lion.


"Rouyan namaku" ucapnya memperkenalkan diri.


"aku Chuan dari sekte hutan suci" balas Chuan.


"hutan suci" ucapnya terkejut.


"ada apa paman" tanya Chuan.


"sudah berapa lama tinggal dihutan suci" tanya Rouyan.


Chuan lalu bercerita bagaimana awalnya mendirikan  sekte hutan suci dan berlangsung sampai saat ini.


"aku pernah tinggal bukit kecil disebelahnya" jelas Rouyan. Dia adalah rubah putih yang menghuni bukit kecil tersebut. Berpuluh tahun yang lalu para prajurit kekaisaran menjarah tempat kami dan hutan suci. Saat itu kami melarikan diri takut kebaradaan kami akhirnya akan punah.


"rubah putih adalah rubah suci yang dalam perkembangannya bisa menjadi dewa, bagimana bisa punah" tanya Chuan. Sambil menuangkan minuman kedalam gelas, Rouyan bercerita.


Dia kehilangan batu mustika. Karena kurang padatnya energi alam disini dia perlu bantuan mustika itu untuk kelangsungan hidup dia dan putrinya. Saat itu kondisi putrinya lemah dan lagi mengandung. Untuk seorang cucu yang dibicarakan warga adalah anak yang dilahirkan putriku. Namun setelah melahirkan dia meninggal.


"paman dan cucumu bisa berubah jadi manusia" tanya Chuan penasaran.


"setelah memasuki tahap suci mahir, kami para rubah bisa berubah menjadi manusia" ucap Rouyan.


Lalu dia menjelaskan, kalau dalam tahap suci, surga/nirwana dan dewa terbagi tiga tahapan. Yaitu awal, menengah dan mahir. Untuk memasuki tahap suci diwilayah ini sangat sulit, sebab energi alam yang tipis.


Perlu menyerap batu roh sebagai ganti energi alam. Sementara di Klan Tian tidak ada tambang batu roh. Untuk harga satu batu roh senilai seribu koin emas. Itupun hanya pihak kerajaan soliter yang mendistribusikannya. Karena dibenua selatan hanya terdapat dua tambang batu roh.


Beruntung bagi kerajaan soliter, sebab keempat klan bangsawan yang menjadi pendukung utamanya saat ini masih dinamis dan tidak terpecah belah. Benua selatan memiliki wilayah yang paling kecil di negeri daratan ini. Itupun dibanding dengan tiga benua lainnya.


"adakah negeri lain selain empat benua" tanya Chuan penasaran.


"ada negeri kepulauan di utara, yang terdiri dari banyak pulau besar dan kecil" jawab Rouyan.


"tanyakan dia darimana asalnya" ucap Patriak Lion secara tiba tiba.


"dengan pengetahuan yang begitu luas, seharusnya paman bukan dari negeri daratan" ucap Chuan


"memang, aku dari negeri awan" ucapnya sambil menjelaskan.


Dia adalah seorang tetua dari sekte binatang ilahi. Saat itu, putri satu satunya menjalin hubungan dengan tuan muda kedua dari klan rubah suci. Cinta kasih mereka membuat putrinya hamil. Atas kejadian tersebut, tuan muda kedua lalu menyampaikan ke patriak klan kalau mereka mau menikahi anak Tetua Rouyan.


Meskipun mempunyai posisi kuat sebagai tetua, ternyata garis keturunan putrinya lemah. Hal tersebut memicu kemarahan patriak klan. Beberapa kali rencana pembunuhan terhadap putrinya berhasil digagalkannya. Sedangkan tuan muda kedua saat itu diasingkan untuk kultivasi tertutup oleh patriak klan.


Demi keselamatan putri dan cucu yang dalam kandungan, dia memutuskan untuk melarikan diri. Awalnya mereka tiba di benua tengah. Karena masih terdapat banyak binatang buas yang beberapa dari mereka mempunyai garis keturunan binatang dewa, maka keduanya menyembunyikan diri di bunua selatan.