Pendekar Hitam

Pendekar Hitam
# Bimbingan Tetua Shusin


"mengenai biaya mereka berempat, tak usah dipikirkan" lanjut teysan.


"apa kejadian tadi malam ada hubungannya denganmu" tanya nenek hong kepada chuan.


"nenek tahu tadi malam aku tidur, kemudian terjaga dan minum arak dengan yanyan serta cao" ucap chuan santai.


"di klan chu, hanya saudara chuan yang jejaknya tidak bisa kita ketahui" ucap teysan.


"hehehe" chuan hanya tertawa kecil.


"aku pergi dulu, kejadian semalam membuat anggota kami disiagakan" ucap teysan lalu meninggalkan chuan dan yang lain.


Nenek hong dan bibi fei lalu diajak chuan untuk menemani anak anak yang lagi asyik bermain. Kehadiran mereka bertiga menambah suasana semakin ramai. Pagi ini semua anak anak dibebaskan menikmati suasana yang baru.


"maaf, sarapannya sudah siap" kata pelayan yang sudah menghampiri chuan.


"sebentar lagi" jawab chuan.


Semua anak anak segera chuan kumpulkan, meminta mereka membersihkan diri. Chuan, nenek dan bibi fei membantu mereka membersihkan kaki dan tangannya.


Satu persatu mereka menuju tempat makan yang telah disiapkan. Duduk dengan rapi, semua sabar menunggu ketiga orang yang mereka hormati dan sayangi.


Keempat orang dari sekte macan putih ada diantara anak anak itu. Mereka hanya diam melihat kedisiplinannya walau tetap dalam tingkah dan keceriaan anak anak.


"kak chuan duduk dekatku"


"dekat aku"


"aku" terdengar anak anak berebut. Chuan duduk dikursi kosong antara ninie dan xie. Nenek dan bibi juga direbutkan oleh mereka.


Suasana ramai dimeja makan terlihat seperti sebuah keributan bagi seorang tetua sekte.


"maaf kalau membuat tetua shusin dan yang lain tidak nyaman" ucap chuan.


Dengan raut santai semuanya asyik menikmati hidangan yang tersedia. Kebiasaan nenek hong membimbing mereka setelah makan, terasa canggung karena tetua shusin dan yang lain belum juga meninggalkan meja makan.


"biasanya kami bertiga memberi bimbingan pengetahuan tentang dasar ilmu silat, sekiranya tetua berkenan menambahkan untuk kami yang punya sedikit pengetahuan" ucap chuan.


"tak masalah" kata tetua dan mulai memberikan bimbingannya.


Tertibnya anak anak mendengar bimbingan tetua shusin membuat suasana sepi. Sesekali chuan menjelaskan uraian yang disampaikan tetua dengan bahasa anak anak. Nenek hong dan bibi fei tak ketinggalan mengartikan maksud tetua shusin.


Setiap bimbingannya dihentikan chuan untuk mengartikan dengan bahasa yang lebih tingan, tetua shusin hanya tersenyum. Ketiga muridnya juga diam saja sambil menggelengkan kepalanya.


Pagi sudah beranjak siang, dua jam anak anak mendengarkan tetua shusin memberi bimbingan. Setelah menyudahi bimbingannya, mereka berempat keluar dari penginapan untuk melihat suasana klan chu.


Nenek hong melanjutkan melatih mereka dengan gerakan dasar dan pernapasan. Dua jam nenek hong melatih mereka tanpa henti.


Raut kelelahan dan beberapa anak terlihat pucat. Ketika mereka duduk beristirahat karena kelelahan, chuan membagikan pil penguat tubuh. Dengan menambahkan sedikit qi murni didalam pil, tiap anak menerima satu pil tersebut. Nenek dan bibi membagikan air untuk menelan pil.


Chuan lalu memberikan arahan untul posisi meditasi dan pengaturan nafasnya, supaya manfaat pil tersebut maksimal. Mereka semua duduk dalam posisi meditasi dengan nafas yang teratur. Nenek dan bibi fei juga turut didalamnya, karena mereka juga menerima pil yang sama.


Sedang chuan dengan santainya tertidur dikursi. Tak lama setelah chuan tertidur, tetua shusin kembali kepenginapan.


Dengan seksama dia melihat anak anak yang tenang dalam posisi meditasi. Keempatnya lalu pergi keruang lobi untuk duduk bersantai.


"ada yang aneh dengan latihan mereka" ucap salah seorang murid tetua.


"energi yang murni mengalir menguatkan tubuh mereka" ucap yang lain.


"itu baik untuk mereka, tapi yang membuatku penasaran darimana mereka mendapatkannya" kata tetua shusin. "nanti kita tanya pada chuan" lanjut tetua.


Percakapan mereka tetap tetuju pada anak anak tersebut. Sesekali kekaguman pada ketiga pengasuh mereka. Tak terasa , kemanusiaan mereka tergugah.


Tidak ada murid sebuah sekte besar yang tidak membanggakan diri, dan memicu sifat sombong. Bahkan sering memandang yang lain dengan sebelah mata.