
Saat ini, mereka bertiga telah masuk didinding ilusi. Chuan dan Rouyan mengenal arai ilusi. Tapi pengetahuan keduanya mengalami titik buntu.
Ada suatu kekuatan dari dalam yang menopang dinding arai ilusi tersebut. Ketiganya melesat maju dan tetap selalu berdekatan. Mereka tetap dalam kewaspadaannya.
Chuan selama ini focus mendalami ilmu pengobatannya. Sehingga dalam hal tersebut dia memiliki kemampuan yang tinggi. Sedangkan tehnik formasi, sebelumnya tidak begitu focus. Hanya dalam mempelajari tehnik yang ada dipeta, dia mempelajarinya secara serius.
Selain tehnik tersebut, juga beberapa tehnik yang diajarkan oleh Patriak Lion. Dalam giok dimensi kemarin, dia mempelajari semuanya. Tapi semua itu terasa tak berguna.
Ternyata, Chuan belum sempurna dalam penguasaannya. Dia hanya menguasai pembuatan formasi dan memecahkan formasi tunggal. Keadaan saat ini juga membuat Chuan bersemangat untuk belajar memecahkannya.
"hahaha" tawa Rouyan terdengar sedang bergembira, saat mereka telah melintasi daerah.
"ada apa paman" tanya Chuan penasaran.
"formasi dimensi ruang" ucap Rouyan.
Meskipun tidak berbahaya, namun perjalanan beberapa meter akan kita tempuh dalam beberapa kilometer. Dengan perbandingan seperseratus, maka jarak seratus kilometer ini sebenarnya hanya satu kilometer.
Perlu beberapa orang untuk membuat formasi seperti itu. Selain itu perlu banyak energi untuk mengaktifkannya.
"sepertinya ada inti batu roh atau sungai energi alam ditenpat ini" jelas Rouyan.
"lihat kek" ucap Luosan sambil menunjuk sebuah gerbang masuk yang sudah usang tergerus jaman. Dinding batu setinggi dua meter juga terlihat memanjang dikiri kanan gerbang.
"sekte pagoda suci" guman Chuan membaca tulisan. kabur tertera digerbang tersebut.
Meskipun terbuka, tapi ada formasi yang menghalangi saat ingin memasukinya.
"jangan dihancurkan" ucap Rouyan pada Chuan yang hendak mencoba menghancurkannya.
Ketiganya mulai memeriksa gerbang tersebut dengan hati hati. Beberapa batu sedikit menonjol terlihat dengan pengaturan yang acak. Rouyan menggelengkan kepala saat memeriksanya.
"sring sring" suara senjata berdesing kearah mereka saat sebuah batu menonjol ditekan oleh Rouyan. Ketiganya melompat menjauh untuk menghindarinya.
Kejadian juga terulang, namun yang keluar asap hitam beracun.
"whahaha,,," tawa Chuan dan Luosan yang melihat Rouyan berusaha memecahkan teka teki gerbang tersebut.
"malah tertawa,,, siaalllll" gerutu Rouyan.
"kek,, coba batu yang tidak terlalu menonjol dipilar sebelah kanan" ucap Luosan yang juga penasaran dengan batu tersebut.
"baik,, aku coba dulu" ucap Rouyan.
Sebuah batu yang sedikit berbeda dengan batu lainnya ditekan Rouyan. Terdengar dengungan kecil pada pilar tersebut. Pola formasi tiba tiba bersinar dan mulai meredup.
Tak lama berselang, formasi digerbang tersebut benar benar menghilang. Ketiganya bisa melihat tempat yang sebelumnya tertutupi pola formasi. Tangga batu yang tertata rapi selebar pintu gerbang.
Dikiri kanan tangga batu terdapat bangunan dari kayu yang berjajar rapi. Dibagian atas terlihat sebuah bangunan bertingkat yang kokoh.
"i,,, i,,, itu" ucap Luosan tergagap saat melihat dikiri kanan anak tangga. Orang orang bersila dengan posisi meditasi yang tetap diam tanpa gerak.
"sepertinya mereka sudah meninggal" ucap Rouyan.
Ketiganya mulai melewati gerbang, dan tiba dianak tangga pertama.Mereka mulai memeriksa orang orang tersebut. Tak ada aura kehidupan pada mereka semua.
Ketiganya terus meniti anak tangga tersebut. Sampai diatas, ketiganya terpana tanpa bisa berkata kata. Didepan ada tujuh orang tetua, dan dibelakangnya terdapat ratusan orang.
Ternyata bukan hanya ratusan, bahkan lebih dari seribu orang. Mereka semua dalam posisi duduk meditasi, tapi energi kehidupan mereka seakan ada yang mengambilnya.
"salam tetua, aku Chuan dari sekte hutan suci, maaf atas kelancangan kami" ucap Chuan sambil berjongkok dan menghormat pada semua orang meskipun terlihat sudah meninggal.
Tiba tiba muncul sosok pria tua melayang diatas semua orang tersebut.
"selamat datang disekte pagoda suci" suara pria tersebut terdengar berwibawa.
"maaf jika kedatanganku mengganggu" ucap Chuan.
Semua tetua keluar sekte saat kerusuhan beberapa ratus tahun yang lalu. Dihadapan Ketiganya adalah wakil tetua dan para murid. Namun saat itu, mereka menyalurkan seluruh energinya untuk mengaktifkan formasi perlindungan.
Mereka tahu kalau akibatnya fatal untuk semua orang. Saat ini mereka semua telah meninggal, namun tubuhnya masih utuh.
"adakah yang masih hidup ditempat ini" tanya Chuan.
"mereka yang ditempat ini, berkorban dengan hidupnya" ucap Qin Ming
"ohhh,,," guman Rouyan.
Chuan dan dua lainnya merasa bersalah. Sekte tua yang dicarinya tenyata pemakaman untuk murid sekte. Ketiganya terdiam dan ingin meninggalkan tempat tersebut. Karena hormat dan tak ingin mengusik kedamaian mereka.
"kenapa kalian diam" tanya Qin Ming
"maaf, kedatangan kami telah mengusik kedamaian ditempat ini" ucap Rouyan
"hahaha, ada banyak harta yang tersimpan, apakah kalian tidak menginginkannya" ucap Qin Ming
"sebenarnya kami mencari tempat untuk teleportasi kenegeri awan" ucap Chuan. Meskipun harta juga menyilaukan mereka, namun tujuan utama lebih penting dari semua itu.
"hahaha, klan rubah suci" ucap Qin Ming sambil menatap Rouyan dan Luosan.
"tuan mengetahui identitas kami berdua" tanya Rouyan penasaran.
"karena aku adalah roh penjaga sekte, maka kekhas an roh kalian berdua juga aku rasakan" ucap Qin Ming
"kalian bisa menggunakan teleportasi yang dimiliki sekte, tapi ada syaratnya" lanjut Qin Ming
"apa syaratnya" ucap Chuan bersemangat
"sempurnakan kematian semua murid sekte pagoda suci" ucap Qin Ming.
"menguburkan mereka, baiklah akan kami lakukan" ucap Chuan.
"bukan dikuburkan, tapi perabukan mereka" ucap Qin Ming
Setelah itu, Chuan diminta mengumpulkan semua abu mereka. nanti jika ada kesempatan, mereka harus menabur abu tersebut kelaut.
"baiklah kami berjanji, untuk itu" ucap Chuan.
"kalian bisa memulai sekarang, seharusnya tak sulit bagi seorang kaisar tingkat lima" ucap Qin Ming
"hehehe, tuan mengetahui tahapku" ucap Chuan sambil tersenyum
"sebelum tubuhku hancur, aku sudah ditahap surgawi akhir yang sempurna" ucap Qin Ming.
"pelajari, dan anggap itu hadiah dariku" lanjut Qin Ming, sambil tersenyum. Dari pagoda melesat satu titik cahaya yang menuju kening Chuan.
"ini" guman Chuan terkejut.
"tehnik tubuh dan jiwa abadi" jelas Qin Ming. Untuk melanjutkan ketahap dewa, Chuan harus mempelaharinya. Sehingga kesengsaraan petir dewa tidak akan menghancurkan tubuh maupun jiwa Chuan.
"simpan dulu dalam pikiranmu dan mulailah memperabukan mereka" ucap Qin Ming diselingi senyumannya.
Chuan memulai memperabukan mereka. Lesatan api ungu dari tangannya mulai membungkus dan membakarnya satu persatu. Sedang Rouyan mempersiapkan banyak guci untuk tempat abu tersebut.
***
Beberapa kali rekaman Chuan dan dua orang diputar disebuah aula. Dipusat kota wuhuang, tempat klan wu menancapkan kekuasaannya. Terdapat bangunan besar namun terlihat tak terawat.
Tapi saat memasukinya, akan terasa berbeda. Berbagai ornamen kuno yang tertata rapi. Terdapat juga meja panjang disudut ruangan tersebut. Dan dua penjaga yang terlihat santai.
Bagian dalam bangunan tersebut, adalah sebuah aula yang luas. Terdapat meja yang panjang dengan kursi disekelilingnya. Diaula tersebut, kini terdapat dua puluhan orang yang sedang melihat rekaman tentang Chuan dan yang lain.