Pendekar Hitam

Pendekar Hitam
# Internal Sekte


Senja yang cerah, Chuan yang telah keluar dari meditasinya mendatangi tempat para murid berkumpul. Tetua Shusin dan wakilnya sedang memantau serta membimbing tiga puluh muridnya.


Tiga mata mata tetua dua kelihatannya sudah memutuskan untuk ikut dalam bimbingan Tetua Shusin. Memang tak ada yang dapat mencari celah untuk kesalahannya. Karena Tetua Shusin hanya focus dengan


kultivasinya. Dan sesekali berbincang dengan wakilnya, tentang perkembangan para muridnya dan keadaan sekte.


"salam tetua" sapa Chuan


"tak perlu peradatan segala disini, kami yang seharusnya segan" balas Tetua Shusin


"hehehe, bisa saja tetua nich" cengir Chuan


Mendengar percakapan Chuan, para murid menyudahi meditasinya. Mereka tetap duduk santai ditempat semula.


"pendaftaran sekte hutan suci sudah kami urus bersama Tetua Gun, dan untuk yang lain sudah ditanggung oleh Tuan Sun" ucap wakil tetua pada Chuan


"terima kasih sudah membantu kami" ucap Chuan


"wah,, tak sebanding dengan bantuanmu pada kami" sahut Tetua Shusin. Dan hanya dibalas senyuman oleh Chuan.


"bagaimana evaluasi tentang mereka" tanya Tetua Shusin sambil menunjuk para muridnya.


"bicaralah pada mereka" lanjutnya


Chuan lalu menghadap para murid yang sedang duduk santai. Diapun mulai menjelaskan kenyataan pada mereka. Tahap kultivasi kalian sudah ditingkat mahir, namun kondisi fisik kurang dalam pelatihannya. Mintalah pada ketiga wakil tetua untuk melatihnya. Kalau fisik kalian tidak segera dipacu agar sesuai dengan tahap kalian. Yang perlu dikhawatirkan kalian akan terjebak dalam tahap ini untuk jangka waktu yang sangat panjang.


"seandainya tetua Shusin mengizinkan, kalian bisa berlatih fisik disekte hutan suci, tanpa harus jadi anggota sekte" ucap Chuan mengakhiri ulasannya tentang kondisi para murid tersebut.


"hahaha,,,, setelah turnamen kalian akan latih tanding disekte itu" ucap Tetua Shusin sambil tertawa.


"kalian tinggallah ditempat latihan ini" jelas tetua. Disekte ini satu rumah dihuni lima murid inti. Lebih baik mereka semua terus berlatih diruang latihan. Sedang barang milik para murid bisa diletakkan dikamar belakang.


"untuk latihan fisik biar diatur para wakil tetua" ucap Tetua Shusin mengakhiri pengaturan pada murid muridnya.


"terima kasih guru Shusin" ucap para murid sambil kongtow.


Raut kebahagiaan terlihat, kebanggaan dan ketaatan menyatu dihati mereka. Didalam hati para murid itu, merasa bahwa mereka benar benar diakui sebagai murid tetua Shusin.


Sedikit kesibukan terjadi dikediaman tetua Shusin. Wakil tetua menyampaikan kalau mereka yang dipilih sekarang menjadi petugas keamanan dikediaman tetua Shusin. Sehingga tidak menimbulkan gejolak diantara para murid yang lain.


Malampun menjelang, Chuan sedang berkumpul dengan Patriak Chen dan beberapa tetua. Kejadian siang hari ditempat latihan dijelaskan oleh Tetua Shusin.


Seorang anggota sekte bulan merah lain yang menyusup dihadirkan dalam keadaan tak berdaya. Patriak Chen siang tadi menemukannya dan langsung dilumpuhkan. Ketakutan yang dialami, membuatnya mengakui apa yang dilakukannya.


Sekte bulan merah setelah kehancuran markasnya, sekarang membangun tempat baru dan menjadi sekte golongan hitam tingkat menengah. Namun dalam kesaksian yang disampaikan bahwa hampir setiap sekte bisa disusupi anggota mereka.


Tak menutup kemungkinan sekte tersebut lebih menakutkan dari sebelumnya. Juga keterlibatan tetua dua juga disebutkan  dalam kesaksiaannya.. Menambah pukulan telak bagi sekte macan putih. Setelah memberi beberapa kesaksian dia dibawa lagi keruang tempatnya ditahan.


Pertemuan kecil kini terisi oleh keresahan. Kejadian kecil yang tak bisa dianggap remeh. Berbagai rencana tertuang dalam percakapan mereka. Chuan lebih banyak diam dalam pertemuan yang sedang berlangsung. Dengan sekte yang mempunyai nama besar, bahkan jarang berpikir akan ada penyusup didalamnya.


"eehhhmmm" terdengar suara Chuan saat percakapan mereka berada dititik buntu.


"dengan hati dingin dan pemikiran yang cermat, sangat diekankan untuk mengatasi masalah ini" jelas Chuan.


Mulai besok patriak akan berkunjung ketempat latihan, anggap seperti kunjungan rutin saja. Penyusup dari luar dan mata mata akan dibawa kekediaman patriak dengan janji imbalan untuk mengelabuhi mereka. Biar tidak menimbulkan kepanikan maka perlu beberapa hari untuk menjalankan rencana ini.


"aku akan membantu untuk memilih siapa saja mereka" ucap Chuan memberi penjelasan.


Tak berapa lama pertemuan kecil tersebut akhirnya bubar. Mereka pulang dengan dengan kegalauan dihati masing masing. Sedang Chuan masuk dikamar tamu yang disediakan untuk meditasi.


Waktu terus berjalan, malampun berganti pagi. Mengunjungi tempat latihan para tetua mulai dilakukan. Hari berganti hari, sudah tujuh hari prosesnya berjalan dengan lancar. delapan puluhan penyusup yang menjadi murid inti sudah dikumpulkan dibalai agung dalam keadaan tak berdaya.


Disamping itu terdapat pula penyusup dibarisan murid dalam. Total semua ada 210 penyusup. Selain tertotok, mereka semua dihancurkan dentiannya. Ada juga 16 murid inti tetua dua untuk memata matai tetua lain ditempat itu.


"besok kumpulkan para tetua karena pentingnya masalah ini, tak ada alasan untuk tidak hadir" ucap patriak Chen pada empat tetua yang ada ditempat itu. Tiga tetua segera meninggalkan pertemuan kecil tersebut untuk memberi pemberitahuan pada tetua lain. Tinggal Patriak Chen dan Tetua Shusin yang masih diruangan bersama Chuan.


"maaf patriak Chen"


"ada apa Chuan"


"karena sudah 10hr disini, maka besok aku akan pamit"


"kenapa tidak setelah pertemuan besok"


"itu internal sekte, maka lebih baik diselesaikan sendiri oleh patriak dan yang lain"


"baiklah, tapi terimalah ini" ucap patriak sambil memberikan cincin dimensi pada Chuan.


"Patriak Chen" ucap Chuan


"ada batu roh tingkat rendah dan menengah, itu dariku dan Tetua Shusin" ucap Patriak Chen.


" meskipun tak seberapa dibanding bantuanmu pada kami, tolong terimalah karena persahabatan kita" tambah Tetua Shusin.