
Kedua prajurit kembali untuk tugas jaganya. Didalam rumah komandan Xhuan ada empat orang yang sedang duduk saling berhadapan.
"ini surat dari Tetua Chuan" ucap Lou Sin sambil memberikan secarik kertas.
Dalam secarik kertas, Chuan menyebut ketiga orang itu. Komandan Xhuan tersenyum setelah membaca surat tersebut. Didalamnya Chuan meminta bantuan untuk mengarahkan penataan ulang rumah warga suku pegunungan.
Pengaturan tersebut focus untuk keamanan dari serangan binatang buas. Dan penataan kebun obat yang akan dijadikan sumber penghasilan utama mereka. Bahkan tercantum juga, jika komandan Xhuan bisa merangkul beberapa suku yang lain. Mereka bisa jadi aset pagar luar dari kota doucan.
"besok pagi aku akan menemui mereka" ucap Komandan Xhuan.
"aku ikut paman" ucap Meilin
"tuan putri, Chuan tidak ada disana dan aku takut yang mulia kaisar,,," kata komandan Xhuan terputus
"aku yang akan minta ijin" balas Meilin cepat lalu meninggalkan rumah tersebut.
Komandan Xhuan dan istrinya tersenyum kecut melihatnya. Sedang Lou Sin hanya bengong tanpa bisa berpikir apapun. Keheningan hanya terjadi sesaat, lalu percakapan ketiganya berlanjut. Cukup dengan perbincangannya, Lou Sin lalu pamit pulang.
Siang berganti malam, suasana penginapan malam ini begitu ramai. Selain Sin Wan dan yang lain, hadir juga Tian Sun dan empat pengawalnya. Mereka semua duduk dan bercakap santai.
Tian Sun menjelaskan identitasnya dan meminta Sin Wan menunjukkan bahan obat yang mereka bawa. Tiga karung sedang dari kain yang kumal dibawa tiga pemuda. Tian Sun hanya tersenyum melihatnya.
"bolehkan ketiga karungnya aku bawa dulu" kata Tian Sun. Sebab perlu waktu untuk memeriksa dan menakar nilainya. Kalau dia memeriksanya sendiri, akan menyita waktu.
"boleh,,," ucap Sin Wan meskipun ada sedikit keraguan dihatinya. Karena untuk mengumpulkan sebanyak itu, anggota suku mereka memerlukan banyak waktu.
"rencananya mau ditukar dengan koin atau barang lain" tanya Tian Sun.
"kami berencana menukar dengan barang lain, namun masih bingung ditukar dengan apa" ucap Sin Wan
"kenapa bingung" tanya Tian Sun
"antara bahan makanan, pakaian atau senjata" jawab Sin Wan sedikit malu.
"baiklah besok setelah tahu nilainya, akan aku bantu untuk hal itu" ucap Tian Sun
"sebenarnya kebutuhan bahan pokok dan pakaian sangat mendesak buat kami" ucap Sin Wan
"baik sampai ketemu besok" ucap Tian Sun lalu berpamitan pada semua orang ditempat tersebut.
Setelah menyimpan ketiga karung dalam cincinnya, Tian Sun dan pengawalnya meninggalkan tempat tersebut. Lou Sin dan anak buahnya masuk dan beristirahat. Sedang Sin Wan dan yang lain terus menikmati arak yang disediakan.
Kelima orang tersebut akhirnya tertidur ditempat karena kelelahan dan mabuk. Pagi harinya, Lou Sin membuka tempatnya setelah kelima orang tersebut bangun.
Selepas bersih diri, semua orang menikmati santap paginya. Dilanjut pebincangan santai dan bersahabat. Sin Wan mengutarakan isi hatinya, bahwa baru kali ini dia diterima tanpa memandang sebelah mata pada sukunya.
Tawa lepas Lou Sin meledak, dia juga menyampaikan kalau penginapan kecilnya dulu selalu sepi. Kedatangan Chuan memberi angin segar padanya. Penataan bagian depan dirubah menjadi kedai arak. Sehingga pemasukan bagi mereka menjadi stabil.
Kekaguman semua orang pada sosok Chuan semakin kuat. Sin Wan mengutarakan keinginan pemimpin mereka. Jika ada sesuatu yang bisa dibantunya, mohon teman atau kerabat dari Chuan memberi kabar padanya.
"ohhhh, bisakah kami bertemu" tanya Sin Wan serius
"maaf, aku pun tidak bisa bertemu jika tidak dia yang ingin bertemu" ucap Lou Sin
"ohhh,,, andai saja,,," ucapan Sin Wan terhenti. Dia lalu berguman pelan. Karena noda hitam diwajah Chuan maka kekasihnya juga tidak begitu cantik. Jadi membuatnya malu untuk bertemu orang lain.
"whahahaha" tawa Lou Sin pecah saat mengerti maksud gumanan Sin Wan. Karena sudah ditahap bumi, maka gumanan kecil tersebut dapat didengarnya.
Tiba tiba derap kuda terdengar dikejauhan. Debu yang membumbung dibelakangnya menandakan tidak hanya satu atau dua orang yang datang. Komandan Xhuan, istrinya dan Meilin terlihat didepan para prajurit. Tian Sun juga ada diantara ketiga yang didepan.
"salam yang mulia putri Meilin" teriakan warga yang mengetahui identitas Meilin dan diikuti penghormatan yang mendalam dari semua orang.
"bangunlah semua" teriak Meilin terdengar menggema
Didepan penginapan Lou Sin, rombongan tersebut berhenti. Sin Wan dan empat temannya duduk lemas karena takut melihat prajurit yang mengepung penginapan tersebut.
"salam tuan putri" ucap Lou Sin diikuti penghormatan bersama istri dan dua anak buahnya. Tak pernah mereka berpikir penginapan kecil mereka didatangi Putri Meilin.
"salam paman dan tak perlu repot repot, mana orang yang membawa surat dari Tetua Chuan" ucap Meilin
"itu mereka" jawab Lou Sin sambil menunjuk Sin Wan dan keempat lainnya.
"aku Meilin calon istri Chuan, siapakah paman ini" tanya Melin yang mendatangi Sin Wan dan yang lain.
"a a aku Sin Wan, sesepuh suku gunung dan mereka pemuda disuku kami" jawab Sin Wan sedikit tergagap karena kekasih Chuan jauh meleset dari yang dipikirkannya.
Semua orang lalu duduk berhadapan, dengan menggabungkan beberapa meja menjadi satu. Tian Sun memberikan dua kantong penyimpanan. Dia juga mengajari cara penggunaannya. Didalam kantong tersebut berisi bahan pokok dan satunya berisi pakaian dengan berbagai ukuran yang bisa dikumpulkannya.
"apa cukup untuk membeli dua kantong penyimpanan" tanya Sin Wan yang sejak tadi berwajah serius dan rasa takut yang hadir dihatinya. Untuk saat ini, hal tersebut adalah bantuan yang bisa diberikan balai lelang. Kedepanannya pihak balai lelang akan membeli dengan harga yang wajar. "tak perlu takut akan dibohongi dalam transaksi dengan kami" jelas Tian Sun
Putri Meilin memberikan cincin dimensi pada Sin Wan. Setelah mengajarkan cara penggunaannya, untuk isinya dibuka nanti setelah sampai.
"terima kasih" ucap Sin Wan lalu menggigit ujung jarinya dan meneteskan darah dicincin tersebut.
"Tetua Chuan meminta kami untuk membantu penataan kampung kalian" ucap komandan Xhuan
"oohhhhh,,,," guman Sin Wan yang terkejut akan kejadian hari ini. Rasanya seakan bermimpi, dan beberapa kali dia menggaruk kepalanya karena kebingungan.
Tak lama berbasa basi, komandan Xhuan mengajak mereka berangkat. Didepan penginapan lima prajurit membantu Sin Wan dan lainnya naik kuda.
Sin Wan berkuda didepan bersama Tian Sun. Sedang keempat pemuda suku dibelakang bersama para prajurit. Sepanjang hari rombongan itu terus bergerak. Hingga saat malam mereka berhenti dan dengan cekatan para prajurit men dirikan tenda. Terlihat juga beberapa diantara mereka membuat api unggun.
Malam berlalu dengan cepat, hingga pagi menyambut. Rombongan tersebut terus bergerak dan saat malam mereka beristirahat lagi.
Sampailah dihari ketiga, saat rombongan sudah dekat dengan tujuannya. Terlihat bangunan kayu yang berserakan letaknya. Juga pemimpin suku dan semua warganya berdiri menutup jalan setapak yang menuju kampung mereka.