Pendekar Hitam

Pendekar Hitam
# Anggur Darah **


Hingga setengahnya. Energi qi yang dialirkan Tetua Gun, menjadi api kuning yang membungkus bak mandi. Setelah dua jam, Chuan mengangkat tubuh pangeran dengan qi nya.


"ini lebih sakit dari yang sebelumnya, aku berharap kau bisa menahannya" ucap Chuan, sedangkan pangeran hanya mengangguk.


"aacchhhhh" teriak pangeran saat tubuhnya dimasukkan bak mandi. Karena air tersebut sudah dipanaskan oleh Tetua Gun, maka efek obatnya semakin kuat.


"uuhhhhh,, uuuhhhhh" guman pangeran menahan rasa sakit diseluruh tubuhnya. Saat ini seakan ada ribuan jarum yang menusuk dan memasuki tubuhnya. Energi yang masuk seakan membungkus tulang pangeran dan menjadikannya semakin kuat.


Hampir tiga jam gumanan menahan sakit terus terdengar. Tujuh tetua secara bergantian menyalurkan energi qinya untuk menstabilkan suhu air dalam bak mandi. Sedang Tetua Gun sesekali menambahkan air dari galon yang dibawanya.


Lima jam berlalu, gumanan rasa sakit tidak terdengar lagi. Juga air dalam bak mandi mulai keruh.


"sudah cukup" teriak Chuan, diikuti para tetua yang membantu pangeran keluar dari bak mandi, lalu mengenakan pakaiannya.


"terima kasih, sudah memberi kehidupan yang kedua padaku" ucap pangeran secara tiba tiba sambil merendah dengan satu lutut ditanah dan menangkupkan tangannya pada Chuan.


"uhh" guman Chuan lalu menyapukan tangannya membuat pangeran berdiri.


"berkultivasi dulu, untuk mestabilkan energi dan aliran darahmu" ucap Chuan sambil melemparkan tiga anggur darah pada pangeran


"terima kasih" ucap pangeran sambil menangkapnya. Lalu menelan ketiganya dan segera berkultivasi lagi.


"anggur darah"


"itu anggur darah"


"oohh iya" teriak ketiga alkemis dan Tabib Ho saat melihat apa yang diberikan Chuan pada pangeran.


"anggur darah, untuk apa itu" tanya Kaisar Jing.


"untuk menstabilkan aliran dan memulihkan pasokan darah dalam tubuh" jelas Qin Shi.


Untuk buah biasa seharga ribuan. Namun jika kandungannya sampai menetes seperti itu bisa lebih satu juta koin emas perbiji.


"huhhh" helaan napas Qin Shi mengakhiri penjelasannya pada Kaisar Jing. Sementara Kaisar Jing, Qin Shi dan yang lain tertegun dengan anggur darah, disisi permaisuri dan putrinya sedang terisak.


Pulihnya pangeran membuat kedua wanita tersebut menangis bahagia. Penderitaan putra dan kakak mereka dalam beberapa tahun ini benar benar terangkat sudah.


Chuan dengan santai mendekati Lin Dong dan pelan pelan membangunkan dari kultivasinya.


"pulanglah dengan ayahmu, karena ibumu sedang gelisah menunggu" ucap Chuan


"iya guru" jawab Lin Dong lalu mendekati ayahnya. Lin Xhuan hanya tersenyum mendengar percakapan singkat mereka.


"Yang Mulia, hamba permisi dulu" kata Lin Xhuan pada kaisar


"antar Lin Dong dan cepat kembali" balas Kaisar Jing


"baik" jawab Lin Xhuan, lalu mengajak Lin Dong meninggalkan tempat itu.


"Tabib Ho disini dulu, aku mengajak yang lain keistana dulu" ucap Kaisar Jing


"baik yang mulia" jawab Tabib Ho. Kaisar Jing dan yang lain meninggalkan tempat itu.


Mereka berjalan santai dibawah tatapan heran para prajurit dan orang orang yang selalu mengintip perkembangan putra mahkota. Penjagaan diluar bangunan itu tetap ketat seakan sulit bagi penyusup untuk menerobos.


Kaisar yang berjalan dengan Chuan dan yang lain, kini sudah duduk melingkari meja diruang perjamuan.


"kalian keluarlah" ucap Chuan secara tiba tiba. Sedang delapan tetua langsung menghilang dari tempat duduknya.


"maaf yang mulia" ucap dua sosok berbaju hitam yang tiba tiba muncul.


"mereka berdua pengawalku" kata Kaisar Jing, yang diikuti munculnya empat tetua yang mengurung tiap pengawal itu.


"maaf" ucap para tetua pada mereka berdua. Senyum kecut terlihat samar diwajah tegas kedua orang itu.


"hahaha para tetua yang terlihat santun, ternyata kelinci yang siap memangsa singa" tawa Kaisar Jing setelah delapan tetua duduk kembali.


"bersediakan sekte kalian melatih sebagian prajuritku" tanya Kaisar Jing membuat para tetua tertegun. Sepuluh tetua lalu menatap Chuan untuk menjawabnya.


"kalau para tetua tidak keberatan itu tak masalah" ucap Chuan


"maaf kami akan menjawab setelah selesai tujuan perjalanan ini" jawab Tetua Tian.


"baiklah untuk masalah pavilliun, biar Tuan Qin Shi yang membantu para tetua" ucap Kaisar Jing sambil tersenyum.


Setelah hidangan siap, mereka terus berbincang sambil menikmatinya. Bahkan pertanyaan tentang sekte hutan suci dijawab dengan lugas. Kaisar dan ketiga orang dari pavilliun pil tertegun saat mendengar bahwa para murid baru yang masih berusia dibawah 10th. Seratusan penjaga ditingkat bumi dan langit, serta hampir seribu anggota.


Bagaimana sekte tersebut bisa tumbuh dengan mandiri. Tak ada misi dari pihak lain yang diambil oleh mereka. Terlebih lagi, sosok pemuda yang sebelumnya mereka pandang sebelah mata ternyata tetua satu disekte itu.


Selesai pejamuan, mereka melanjutkan tujuannya masing masing. Para tetua pergi ke pavilliun pil bersama Qin Shi dan dua orang lainnya. Sedang Chuan dan Rouyan hanya berjalan jalan dikota Doucan.


"kita harus bisa merangkul mereka" ucap Kaisar Jing saat diruang kerjanya bersama permaisuri dan dua pengawal pribadinya.


"meskipun sulit karena prinsip mereka yang kuat, tapi orang orang itu tidak sombong" ucap seorang pengawal.


"tehnik mereka tadi juga sangat mengerikan" lanjut pengawal yang lain.


Dengan tehnik seperti itu, menyergap musuh dibasis pertahanan mereka bukan suatu yang mustahil untuk dilakukan.


"hahaha,, kira kira pembunuh iblis darah bisa apa tidak meyentuh mereka" guman Kaisar Jing


"mengetahui sikap dan ketegasan para tetua itu, mereka harus berpikir ulang" jawab pengawal.


"hahaha, untung kalian berdua tidak ikut masuk saat pengobatan pangeran" ucap permaisuri sambil tertawa pelan


"yang mulia sudah menceritakannya, dan kami pun merinding mendengarnya" ucap pengawal


"kami berdua sudah berjanji untuk merahasiakannya" lanjutnya.


Terang berganti gelap, malam ini aula prajurit dibawah komando Lin Xhuan, seakan hidup. Sembilan prajurit secara bergiliran melemparkan berbagai pertanyaan pada para tetua yang sedang mengunjungi Komandan Xhuan.


Tetua Tian yang mempunyai inisiatif untuk memberi sedikit bimbingan pada mereka. Ternyata dengan bantuan Qin Shi, para tetua mengantongi token bintang empat. Sehingga mereka cepat sampai dirumah komandan Xhuan.


Satu persatu pertanyaan dijawab dengan pemecahannya. Para prajurit juga diberi sedikit waktu untuk mencerna pemahaman yang diterimanya. Tak terasa malam semakin larut. Sementara para prajurit membubarkan diri, para tetua mulai bermeditasi ditempat itu.


Chuan dan Rouyan bermalam dipenginapan Lou Sin. Penginapan kecil yang asri berada agak dipinggiran kota. Keesokan harinya, kedua orang itu berencana untuk menusuri pegunungan yang membuat penasaran dihati keduanya.


Pagi datang menjelang, setelah melesat meninggalkan penginapan. Keduanya turun di lereng pegunungan yang mulai lebat. Energi spiritual yang dikeluarkan Chuan hanya mendeteksi hewan kecil. Juga riak kecil tanaman obat dan penguat jiwa (tanaman spiritual) yang masih muda.


Meskipun belum layak petik, jika ada alkemis tahu mereka akan mengambil untuk dibudidayakan.


"ambillah dengan sedikit tanah, untuk dibudidayakan" ucap Rouyan memberi saran.


Semakin kedalam keduanya sudah mendapat berbagai jenis tanaman obat. Sampai dipuncak mereka melesat diatas pohon yang menjulang. Pemandangan seluruh kota doucan terlihat. Sementara barisan pegunungan terlihat disisi yang lain. Nampak juga hamparan kabut disisi tersebut.


Karena senja mulai turun mereka merencanakan bermalam ditempat itu. Saat malam menjelang, menikmati daging bakar dari hewan liar yang sempat mereka tangkap. Selepas itu tidak ada kejadian yang menimpa keduanya.


Hari terus berganti, tak terasa sudah tiga hari dua sosok manusia menyusuri daerah pegunungan.


"mungkin lebih dalam lagi kita akan menemukan binatang buas tingkat tiga" ucap Chuan semakin penasaran.


"kalau dibenua ini sepertinya sulit, tapi kita bisa menemukannya didaerah liar yang terletak diutara benua tengah" ucap Rouyan.


"wah, itu lebih menantang namun kita kembali dulu" ucap Chuan


"iya, lebih bebas kalau sekalian pamit pergi" ucap Rouyan.


Keduanya lalu melesat pelan menyusuri jalan yang berbeda. Namun tetap mengarah ke kota doucan.


Senja menjelang, keduanya menuju penginapan Lou Sin.