Pendekar Hitam

Pendekar Hitam
# Takut Mengganggu


Semuanya serius dalam perencanaan untuk menggagalkan rencana para penyusup yang akan melakukan makar di klan chu.


Kepala pasukan lalu kembali untuk memanggil tambahan prajurit. Sepuluh orang telah sampai bersamanya, didalamnya masih terdapat dua penyusup. Tanpa peringatan, Tetua Tian yang sudah terbakar emosi menghabisi keduanya.


Sore itu terjadi kesepakatan rencana mereka. Tetua Lifan, Walikota dan pengawalnya serta Tetua Zhao danmurid sekte utama melakukan kunjungan didesa terdekat.


Tetua Satu dibantu Tetua Tian akan mengurangi kekuatan sekte pasir darah yang sudah menyusup disekte utama. Mereka semua saling mengingatkan untuk berhati hati. Kemudian berpisah untuk melaksanakan rencana masing masing.


Saat makan malam, Chuan asyik menggoda Chufei yang tadi siang meminta Tetua Tian menemaninya berbelanja. Bahkan anak anak ikut tertawa mendengarnya.


"salam semuanya" terdengar sapa Tetua Gun yang tiba tiba muncul.


"hah, tetua ngagetin saja" protes anak anak yang terkejut. "salam tetua, silahkan masuk" ucap chuan saat melihat para tetua datang bersama istri mereka.


Sebentar dalam perkenalan, Nenek Hong lalu mempersilahkan semuanya ikut makan malam. Setelah selesai, para wanita berbaur dengan anak anak.


Chuan mengajak para tetua ngobrol dihalaman. Dia menceritakan kejadian ditempat latihan tadi siang. Raut kemarahan terlihat diwajah para tetua.


Janganlah kita terbawa dendam, tapi bertindaklah karena melindungi orang yang kita sayangi. Dan jangan pula berlebihan meskipun Chuan sering seperti itu.


"tahan kemarahannya, besok malam kita ikut dalam rencana walikota" ucap Chuan mengakhiri kata katanya. "baiklah, semoga rencana mereka lancar" ucap Tetua Gun.


"aku mau keluar dulu, tapi Tetua Gun dan para tetua pasti tetap ingin melepas rindunya" usil Chuan lalu melesat pergi.


"aku takut mengganggu para tetua, whahaha" terdengar suara Chuan dari kejauhan.


Para tetua hanya tersenyum karena faham akan mulut usilnya.


Masih satu rumah yang dicurigai Chuan. Dengan ilmu bayangan dan merebahkan tubuhnya diatap rumah, dia merdengar percakapan beberapa orang. Pertemuan besok malam sedikit lebih besar dari biasanya.


Beberapa anggota mereka yang sedang bersama walikota tidak membuat mereka merubah rencananya. Kepergian walikota yang sedang melakukan kunjungan kedesa desa, seakan angin segar bagi mereka.


Banyak rencana mereka yang tercuri dengar oleh Chuan. "ambilkan tiga kotak kecil diruang khusus" ucapnya. Chuan membuka sedikit lubang diatap dengan hati hati.


Terlihat sebuah lemari bergeser dan terbukalah sebuah ruangan. Tak lama seorang pengawal keluar lagi membawa tiga kotak kecil.


"ohh, ternyata putra kedua walikota menjadikan rumah ini sebagai markasnya" batin Chuan.


"kita kembali dulu, besok pagi semua berkumpul dirumahku untuk persiapan pertemuan" ucap putra kedua walikota.


"baik tuan muda" jawab mereka.


"kalau ada yang datang segera antar kerumah, tempat ini jangan banyak orang agar tidak menimbulkan kecurigaan" lanjutnya.


"siap, kami akan menjaga diluar" jawab seorang pendekar mahir.


Merekapun meninggalkan ruangan tersebut. Sebuah rombongan kecil keluar dari halaman rumah dan menuju kekediaman walikota. Chuan segera menerobos masuk kedalam rumah. Karena semua penjaga sedang diluar, maka dengan mudah dia menyusuri setiap ruangan.


Semua ruangan yang ada hanya disiapkan untuk singgah sementara. Hanya satu ruang penyimpanan yang membuat Chuan penasaran. Setelah mengamati, chuan menemukan sebuah guci kayu yang merupakan kunci rahasia ruangan tersebut.


Chuan menggeser guci kayu tersebut dengan hati hati, agar tidak menimbulkan suara saat dia membuka pintunya dan segeralah memasuki ruangan tersebut. Dilihatnya beberapa tumpukan peti dengan berbagai ukuran. Tak mau menyiakan kesempatan yang ada, dia menguras semuanya.


"seharusnya dengan pendanaan yang banyak terkuras, membuat operasi mereka gagal" batin Chuan. Pintu dari almari sudah dikembalikan seperti semula. Dia kemudian keluar rumah tersebut.


Melesat menuju kedai arak yang pernah dia kunjungi. Memasuki kedai arak, dia menuju sebuah kursi kosong. Hampir semua pengunjung sudah setengah mabuk. Canda tawa dan obrolan mereka mulai tidak terkontrol.


Beberapa pengunjung mulai keluar karena teman mereka yang susah diatur. Malam terus merangkak....