
Setelah sampai dirumah Tetua Shusin, ketiganya mulai tenggelam dalam obrolannya. Sudah hampir 50th tahapan patriak chen macet ditahap langit tingkat sembilan. Dan beberapa metode yang dijalaninya juga disampaikan pada Chuan. Bahkan berbagai pil dipakai untuk menembus tahap suci sudah dicobanya
"tak perlu langsung ketahap suci" ucap Chuan setelah mendengar penjelasan patriak Chen. kata kata Chuan membuat kedua orang tersebut bengong tanpa kata.
Chuan kemudian menjelaskan, sebaiknya menembus tingkat sepuluh dulu. Walaupun dikatakan setengah tahap suci namun itu lebih baik agar qi didentian menjadi murni. Juga tingkatkan tulangnya, sebab nanti lebih sulit untuk peningkatannya jika ditahap suci.
Jika dari tingkat 9 memang lebih cepat tapi ada banyak celah dibandingkan kalau menembus tingkat 10 dulu. Juga kepadatan energi alam disini kurang begitu bagus jadi perlu mencari tempat yang tepat untuk menembus tahap suci. Bisa juga dengan formasi pengumpul energi, tapi perlu beberapa batu roh didalamnya. Jelas Chuan panjang lebar, seperti yang pernah diajarkan Patriak Lion padanya.
"setelah turnament patriak dan tetua Shusin bisa berkunjung kesekte kami" lanjut Chuan membuat keduanya lega. Rasa hormat pada sosok pemuda didepannya semakin besar. Banyak percakapan yang tercipta setelahnya. Berbagai pengalaman dan pengetahuan terbagi diantara ketiganya. Chuan mendapat cukup banyak pengetahuan dari kedua tokoh tua tersebut.
Tak terasa malam sudah bergulir, percakapan yang terjadi membuat ketiganya lupa akan waktu. Saat pagi masih gelap keduanya menyuruh Chuan untuk istirahat. Sedang esok hari mereka akan memberi kesempatan buat Chuan untuk bertemu dengan tetua yang lain.
Mentari mulai menampakkan kehangatannya. Chuan yang selesai bersih diri keluar dari kamar tamu. Tetua Shusin sudah siap untuk mengajaknya kebalai agung sekte. Setelah sedikit canda diruang tamu, Tetua Shusin dan Chuan melangkah keluar rumah. Keduanya menuju tempat para tetua berkumpul.
"salam patriak" ucap Chuan saat memasuki aula besar yang jadi tujuannya. Ada 10 lebih pasang mata yang menatap Chuan. Sebagian menatapnya tanpa riak apapun, namun banyak juga dengan tatapan sinis. Hanya patriak Chen yang menunjukkan senyum diwajahnya.
"silahkan duduk Chuan" ucap patriak Chen. Keduanya menempati kursi kosong yang sudah disiapkan.
"mereka adalah para tetua sekte" lanjut patriak Chen pada Chuan.
"salam para tetua sekte, aku Chuan dari sekte hutan suci" sapa Chuan.
"selamat datang Chuan"
"salam Chuan" beberapa sapa terdengar. Namun banyak yang diam tanpa ekpresi diwajahnya.
"ini saudara Chuan yang pernah Tetua Shusin ceritakan" jelas Patriak Chen. Atas bantuannya Tetua Shusin dan muridnya menembus kemacetan yang dialaminya. Berbagai penjelasan dan maksud dipertemukan dengan para tetua juga diutarakan. Patriak Chen ingin mengajak kerjasama dengan sekte hutan suci untuk memenuhi kebutuhan pil. Sedang rasa terimakasih atas bantuan Chuan pada Tetua Shusin dan muridnya, patriak ingin mengangkatnya menjadi tetua kehormatan. Jelas Patriak Chen panjang lebar.
"aku tidak setuju"
"jangan gegabah mrngambil keputusan"
"sangat tidak pantas" sela yang lain mulai berteriak sesahutan. Tetua Shusin dan tiga tetua yang lain menggelengkan kepalanya melihat interupsi para tetua. Patriak Chen hanya memandang tajam penolakan para tetuanya.
"keberatan para tetua memang pada tempatnya, tak perlu patriak Chen membela anak kecil ini" ucap Chuan terdengar dengan santai.
"tahu diri juga kamu"
"bantuan kecil minta imbalan besar"
"tahap menengah mau duduk sama tinggi dengan kita"
"jangan ketinggian kalau bermimpi" celoteh sinis terdengar dari para tetua.
"diammm ,,," "braakkk" teriak patriak Chen disertai gebrakan tangannya pada meja. Kesunyian tercipta setelahnya.
"maaf patriak dan para tetua, diri yang rendah ini hanya menghadiri undangan" jelas Chuan. Kedatangannya disekte ini hanya karena kenal dengan Tetua Shusin. Juga memenuhi janjinya saat Tetua Shusin berkunjung disektenya.
Chuan duduk diruangan tersebut hanya menghormati undangan patriak dan Tetua Shusin. Tak ada niat dan harapan yang terlalu tinggi untuk dirinya dihormati. Apalagi dijadikan tetua kehormatan, sedangkan menjadi tetua satu disekte hutan suci sudah menjadi beban buatnya. "jika kehadirannya hanya membuat perpecahan diantara para tetua, mohon diri yang rendah ini dimaafkan" ucap Chuan memberi penjelasan dengan santai.
"mohon maaf, diri ini meninggalkan pertemuan untuk kebaikan sekte kalian sedang untuk kerjasama bisa dibicarakan lagi, namun hanya Tetua Shusin yang kami percaya untuk itu" lanjut Chuan sambil berdiri. Tanpa menghormat seperti sebelumya, dia dengan santai melangkah keluar ruangan.