
"ohhhh"
"benarkah dia"
"wah tampan juga"
"apakah tidak salah"
Kaisar Jing, Permaisuri, Putri Meilin dan rombongannya terkejut melihat wajah asli Chuan. Wajah yang bersih dan cerah terlihat didepan mata mereka. Tak ada sedikitpun noda hitam seperti penampilan sebelumnya.
Putri Meilin yang disampingnya sampai menangis saat melihat hal tersebut. Sedang anggota sekte bersorak riang karena sudah mengetahuinya. Para tetua menjelaskan pada Kaisar Jing dan rombongannya tentang apa yang dilakukan Chuan dengan wajahnya.
Semuanya bangga pada sikap tersebut dan tertawa keras sesudah mendengar penjelasan tersebut. Mereka mentertawakan diri sendiri karena dapat dibohongi oleh penampilan Chuan.
Keceriaan dan kegembiraan terus berlangsung tanpa ada kelelahan pada semua orang. Para murid sekte yang selesai menyajikan hidangan, kini berkumpul sendiri dengan sajian yang diperuntukkan bagi mereka.
Malam berganti pagi, sisa kemeriahan semalam masih terasa. Kaisar Jing dan rombongannya berencana meninggalkan sekte siang harinya.
***
Rouyan yang telah berpisah dengan Chuan langsung mendatangi klan wu dan menyelidikinya. Setelah pasti akan keterkaitan klan wu dengan organisasi pembunuh. Dia langsung melancarkan aksinya.
Dari siang hari dia sudah menyusup dirumah penatua klan. Bahkan tak segan dia menghabisi penatua yang terus tutup mulut saat diinterogasinya. Sumberdaya klan yang ditemukan tempat penyembunyiannya tanpa ampun dikuras oleh Rouyan.
Malam yang mencekam, pemimpin klan yang diinterogasi memilih untuk tutup mulut. Seorang tahap surgawi, bagaikan dewa bagi tahap suci. Ketakutan dan kengerian muncul diwajah pemimpin klan.
Setelah diam tanpa jawaban, kemurkaan Rouyan semakin menjadi. Pemimpin klan, para penatua dan banyak prajurit klan dihabisinya. Beberapa bangunan juga tak luput dihancurkan dan dibakarnya.
Hari terus berganti. Dari beberapa dokumen yang ditemukan, Rouyan terus melesat menuju benua tengah. Beberapa cabang organisasi pembunuh yang tercatat didokumen tersebut diobrak abriknya.
Sampai dipinggiran kota wuhuang , terlihat banyak prajurit yang berjaga. Rouyan yang sedang menyamar, dengan santai menikmati arak disebuah kedai yang ramai.
"pendekar hitam"
"pendekar hitam" hanya nama tersebut yang menjadi topik pembicaraan mereka. Klan wu telah mematok harga seratus ribu batu roh menengah untuk kepalanya.
Terlihat banyak pendekar suci yang singgah dikedai tersebut. Mereka tergerak untuk memperebutkan hadiah yang dijanjikan. Tetua dari sekte tengkorak iblis, bulan merah dan beberapa sekte golongan hitam yang datang.
Ada juga pendekar lepas yang membentuk kelompok sendiri. Rouyan yang duduk sendiri dihampiri dua pendekar suci yang baru datang. Keduanya dengan santai duduk setelah permisi pada Rouyan.
Kedua orang tersebut adalah tetua sekte pedang langit yang penasaran dengan situasi yang terjadi diklan wu. Nama besar klan yang didukung organisasi yang sangat tersembunyi kini diusik oleh seorang yang tak terkenal. Bahkan sekte besar seperti pedang langit akan berpikir dua kali saat bersentuhan dengan klan wu.
Rouyan yang memperkenalkan diri sebagai pendekar tanpa sekte serta sikap sopannya. Membuat kedua tetua santai saat berbincang dengannya. Sambil menikmati arak, ketiganya larut dalam percakapannya.
Siang beranjak pergi dan malampun menjelang. Suasana pusat klan wu yang biasa ramai kini terlihat mencekam. Hilir mudik prajurit klan wu terlihat berpatroli dengan intens.
Sebuah bayangan hitam melesat seakan menghilang dari pandangan. Muncul diantara rumah penduduk, tapi kadang tersembunyi dirimbunnya pepohonan.
"huhhhh...." guman Rouyan, sosok yang menyelinap tersebut. Instingnya merasakan banyak anggota organisasi yang bersembunyi. Sedangkan prajurit klan hanya pengalihan agar pendekar hitam ceroboh dalam tindakannya.
"sreekkk" suara pelan terdengar dikesunyian. Seorang pembunuh iblis darah dibokong dari belakang. Rouyan terus melancarkan aksinya pada anggota pembunuh yang masih diam dalam pengawasannya.
Dengan sabar dan tenang Rouyan menghabisi lima belas orang dalam semalam. Sebelum fajar, dia sudah membersihkan aksinya dan meletakkan mayat para pembunuh diluar kota.
"ada mayat,,,,"
Beberapa pendekar melesat menuju tempat kejadian. Tetapi ada juga yang masih acuh tak acuh dan terus menikmati hidangan yang disajikan. Atau sekedar meneguk arak yang dipesannya.
Dari kejauhan terlihat barisan prajurit menuju tempat ditemukan mayat. Didepan mereka ada empat orang bertopeng emas yang juga terlihat melesat cepat.
"pembunuh topeng emas" gumanan para pengunjung rumah makan tempat Rouyan berada. Ada seorang pria paruh baya terus menemaninya ngobrol dari pagi.
"kau tidak ingin mengetahui apa yang terjadi" ucap Tongwu. Nama yang diperkenalkannya pada Rouyan.
"aku menunggu saja beritanya, diperbincangkan orang" ucap Rouyan.
Rouyan dari awal sudah penasaran dengan Tongwu. Bagaimana ada tahap kaisar tingkat tiga ditempat seperti ini.
"huhhh, biarlah aku ikuti dulu apa maunya" batin Rouyan
Tak lama berselang, rumah makan tersebut mulai ramai pengunjung. Berita pembunuhan begitu hangat terdengar. Dua belas tahap langit dan tiga pendekar suci terbunuh.
Ketiganya adalah penatua klan wu sedang yang lain para pembunuh topeng perak. Saat ini para prajurit klan membawa mereka kebalai kota.
Saat senja mulai turun, Rouyan mengikuti ajakan Tongwu untuk singgah.dirumahnya. Dia tak menolak ajakan tersebut karena ingin tahu apa yang direncanakan Tongwu. Keduanya berjalan menuju rumah yang besar dipinggiran kota Wuhuang.
Setelah maauk rumah, Rouyan diantar kekamar tamu untuk bersih diri dan istirahat sebentar. Tongwu meninggalkan kamar tamu dan menuju ruang pribadinya. Tak menunggu lama, dua pengawal pribadinya datang.
Keduanya melaporkan kalau ada sepuluh lebih pendekar suci organisasi pembunuh yang akan hadir nanti malam. Tongwu yang dikenal Rouyan sebenarnya adalah Wu Tong.
Wu Tong adalah pemimpin organisasi pembunuh. Tapi jabatan diklan Wu telah dilepaskannya. Penyelidikan tentang Chuan dan Rouyan, memaksanya untuk focus dengan hal tersebut.
Dia senang saat mendapat laporan jika Rouyan terlihat diwilayah klan wu. Kemudian turun tangan sendiri untuk menemuinya. Wu Tong terlihat santai karena yang diketahuinya, Rouyan berada ditahap suci. Bahkan cenderung meremehkan sosok Rouyan.
Sementara Rouyan yang telah selesai mandi, tidak beristirahat dikamar. Dia berjalan diruang tamu yang cukup luas. Seorang pelayan menemaninya melihat hiasan dan gambar yang terpajang didinding.
Tanpa diketahui pelayan yang menemaninya, Rouyan membuat beberapa aray formasi dan menyembunyikan dilantai ruangan. Saat pelayan mengambilkan arak, Rouyan memasukkan beberapa batu roh didalam dinding yang telah diatur peletakannya.
Pelayan datang lagi dengan dua guci arak dan meletakkan dimeja. Dan dengan santai Rouyan duduk sambil menikmati arak tersebut. Hingga Wu Tong datang menghampiri dan duduk didepannya.
Senja berganti malam, dua orang terus asyik dengan obrolan dan araknya. Keriuhan beberapa orang terdengar mendekati pintu dimana keduanya berada.
"salam pemimpin" ucapan orang orang yang baru masuk.
"hahaha,,, silahkan duduk" jawab Tong Wu.
"wah senior Rouyan,,, selamat datang ditempat kami" ucap seorang pria paruh baya. Tiga orang pria paruh baya dan delapan orang bertopeng emas duduk dimeja tersebut.
"hehehe, pembunuh iblis darah yang terkenal" ucap Rouyan sambil tersenyum dan tetap tenang.
"kau tidak terkejut saat kami mengenalimu" tanya pria tersebut.
"kenapa terkejut, berkali kali kalian memata mataiku" ucap Rouyan santai.
"dimana muridmu yang bernama Chuan" tanya seorang bertopeng emas.
"dia bukan muridku, tapi aku adalah pengawalnya" balas Rouyan.